Analis Prediksi Harga Emas Dunia Turun Pekan Ini, Simak Ulasannya

Survei Kitco menunjukkan 46% analis memprediksi harga emas dunia turun pekan ini, sementara 23% memperkirakan harga naik.

Diterbitkan 05 Oktober 2026, 06:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Harga emas dunia tertekan sepanjang pekan lalu. Kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS), penguatan dolar AS, dan ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) membuat minat terhadap aset safe haven tersebut melemah.

Kini, perhatian pasar beralih pada arah harga emas pekan ini. Hasil survei terbaru Kitco News menunjukkan mayoritas analis Wall Street memperkirakan harga emas kembali turun.

Dari 13 analis yang mengikuti Kitco News Weekly Gold Survey, enam orang atau 46% memprediksi harga emas melemah pekan ini.

Hanya tiga analis atau 23% yang memperkirakan harga naik. Sementara empat analis atau 31% memilih netral atau memperkirakan harga bergerak mendatar.

Sentimen investor ritel masih lebih positif, tetapi tidak lagi didominasi pandangan bullish seperti sebelumnya.

Dari 182 suara dalam jajak pendapat online Kitco, sebanyak 85 investor atau 47% memperkirakan harga emas naik.

Sebanyak 60 investor atau 33% memprediksi harga turun, sedangkan 37 investor atau 20% memperkirakan harga bergerak mendatar.

Hasil survei tersebut menunjukkan pasar mulai lebih berhati-hati setelah emas gagal mempertahankan kenaikan meski data tenaga kerja AS melemah.

 

Emas Masih Menunjukkan Ketahanan

Salah satu analis yang masih melihat peluang kenaikan adalah Marc Chandler, managing director Bannockburn Global Forex.

“Saya memperkirakan harga emas akan naik pekan ini,” kata Chandler dikutip dari Kitco, Senin (5/10/2026).

Menurutnya, pelemahan imbal hasil obligasi setelah laporan tenaga kerja AS yang mengecewakan menjadi sinyal positif bagi emas. Ia menilai harga emas akan semakin kuat jika mampu menembus US$4.280-US$4.300 per ounce.

Sementara itu, Adam Button dari investingLive memilih sikap netral. Ia mencari peluang membeli emas pada Oktober sebelum faktor musiman yang biasanya mendukung harga pada November hingga Januari.

Adrian Day dari Adrian Day Asset Management justru memperkirakan harga emas turun dalam jangka pendek.

“Turun,” kata Day.

Menurutnya, emas masih menunjukkan ketahanan meski menghadapi tekanan dari imbal hasil obligasi, harga minyak, dan dolar AS yang lebih kuat.

Rich Checkan dari Asset Strategies International memiliki pandangan berbeda dan memperkirakan emas naik. Menurutnya, pelemahan data tenaga kerja AS dapat mengurangi peluang kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober.

Namun, Sean Lusk dari Walsh Trading mengaku kecewa karena emas tidak mampu mempertahankan kenaikan setelah data tenaga kerja AS dirilis.

Belum Cukup Aman

Daniel Pavilonis dari StoneX Group juga tidak terlalu optimistis terhadap peluang kenaikan emas. Ia menilai harga emas masih akan tertekan selama imbal hasil obligasi AS belum mengalami penurunan.

“Menurut saya, kondisi belum cukup aman bagi logam untuk kembali bergerak naik sampai kita benar-benar melihat imbal hasil (yield) turun," kata dia.

Untuk pekan ini, Pavilonis memperkirakan harga emas kemungkinan kembali melemah, atau setidaknya bergerak lebih lunak.

Alex Kuptsikevich, analis senior FxPro, juga memperkirakan tren harga emas masih menurun. Ia melihat investor mulai mengalihkan dana dari emas ke obligasi setelah gejolak pasar obligasi pemerintah AS dan Eropa.

Kuptsikevich memperingatkan, jika imbal hasil obligasi terus naik, dolar menguat, dan pasar saham melemah, emas dapat kembali menguji level US$ 4.000 per ounce.

Sebaliknya, kebijakan yang tepat dari pemerintah Eropa dapat mengembalikan minat investor dan memicu gelombang kenaikan harga emas seperti yang terjadi pada 2020.

Pada saat artikel ditulis, harga emas spot berada di US$ 4.140,52 per ounce, turun 3,09% dalam sepekan dan 0,88% pada hari tersebut.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6