7 Ciri Orang yang Suka Menunda Bangun Setelah Alarm Berbunyi, Ternyata Bukan Sekadar Malas

Sering mematikan alarm lalu tidur lagi? Simak 7 ciri orang yang suka menunda bangun setelah alarm berbunyi dan alasan di balik kebiasaannya.

Diterbitkan 03 September 2026, 17:04 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Alarm berbunyi di pagi hari, tetapi bukannya langsung bangun, tangan justru otomatis menekan tombol snooze. Lima menit kemudian alarm kembali berbunyi dan kebiasaan yang sama terulang, bahkan bisa sampai beberapa kali. Bagi sebagian orang, menunda bangun seperti ini sudah menjadi rutinitas setiap pagi.

Kebiasaan sulit beranjak dari tempat tidur setelah alarm berbunyi memang sering dianggap sebagai tanda malas atau tidak disiplin. Padahal, tidak selalu demikian. Pola tidur, kualitas istirahat, kebiasaan sebelum tidur, hingga kondisi tubuh saat pagi hari dapat membuat seseorang membutuhkan waktu lebih lama untuk benar-benar terjaga dan siap beraktivitas.

Selain sering menekan tombol snooze, ada beberapa kebiasaan lain yang mungkin muncul tanpa disadari. Lantas bagaimana saja ciri orang yang suka menunda bangun setelah alarm berbunyi? Melansir dari berbagai sumber, Kamis (3/9/2026), simak ulasan informasinya berikut ini.

1. Sering Menekan Tombol Snooze Berkali-kali

Ciri yang paling mudah terlihat adalah kebiasaan menekan tombol snooze berkali-kali setelah alarm berbunyi. Alih-alih langsung bangun, seseorang memilih menambah waktu tidur beberapa menit dengan harapan tubuh akan terasa lebih siap ketika alarm berikutnya berbunyi. Namun, kebiasaan ini dapat terus berulang hingga waktu bangun yang sebenarnya sudah terlewati. Bahkan, ada orang yang tidak sadar sudah mematikan beberapa alarm karena masih berada dalam kondisi sangat mengantuk.

Menekan snooze sesekali sebenarnya bukan sesuatu yang otomatis menunjukkan masalah. Akan tetapi, jika hampir setiap pagi seseorang membutuhkan beberapa kali alarm sebelum akhirnya meninggalkan tempat tidur, hal tersebut bisa menjadi tanda bahwa tubuh belum mendapatkan istirahat yang cukup atau jadwal tidurnya belum sesuai dengan kebutuhan. Kurang tidur, waktu tidur yang tidak konsisten, atau kebiasaan tidur terlalu larut dapat membuat seseorang lebih sulit terjaga ketika alarm berbunyi.

Selain itu, snooze dapat menciptakan pola yang membuat proses bangun terasa semakin panjang. Beberapa menit tambahan tidur mungkin terasa nyaman, tetapi tidur yang terputus-putus setelah alarm berbunyi tidak selalu memberikan kualitas istirahat yang sama seperti tidur malam yang cukup dan tidak terganggu. Karena itu, kebiasaan menekan snooze berkali-kali lebih baik dilihat sebagai sinyal untuk mengevaluasi pola tidur, bukan langsung menyimpulkan bahwa seseorang memiliki sifat malas.

2. Sulit Beranjak dari Tempat Tidur meski Sudah Terjaga

Orang yang suka menunda bangun biasanya tidak selalu kembali tertidur setelah alarm berbunyi. Ada pula yang sebenarnya sudah sadar dan membuka mata, tetapi tetap memilih berbaring di tempat tidur selama beberapa menit. Mereka mungkin melihat ponsel, memejamkan mata sebentar, menarik selimut kembali, atau sekadar menikmati suasana pagi sebelum akhirnya benar-benar bangun. Kebiasaan tersebut membuat jarak antara “sudah sadar” dan “mulai beraktivitas” menjadi cukup panjang.

Kondisi seperti ini dapat terjadi karena tubuh membutuhkan waktu untuk beralih dari keadaan tidur menuju kondisi benar-benar terjaga. Setelah bangun, sebagian orang mengalami rasa grogi atau berat di kepala yang dikenal sebagai sleep inertia. Tingkat dan lamanya kondisi tersebut dapat berbeda pada setiap orang, terutama jika seseorang terbangun ketika masih sangat mengantuk atau belum mendapatkan waktu tidur yang memadai.

Meski begitu, sulit beranjak dari tempat tidur tidak selalu berarti seseorang memiliki masalah tidur. Bisa saja hal tersebut merupakan kebiasaan yang terbentuk karena tempat tidur terasa sangat nyaman, suasana pagi masih tenang, atau tidak ada aktivitas yang cukup mendesak untuk membuat seseorang segera bangun. Jika ingin mengubahnya, seseorang dapat mencoba membuat rutinitas pagi yang sederhana dan menyenangkan, sehingga ada alasan yang jelas untuk segera meninggalkan tempat tidur setelah alarm berbunyi.

3. Sering Tidur Terlalu Larut pada Malam Hari

Kebiasaan menunda bangun pada pagi hari sering kali berkaitan dengan apa yang dilakukan pada malam sebelumnya. Seseorang yang terbiasa tidur larut karena menonton film, bermain gim, bekerja, belajar, berselancar di media sosial, atau menyelesaikan berbagai aktivitas lainnya tentu memiliki waktu tidur yang lebih sedikit jika tetap harus bangun pada jam yang sama. Akibatnya, alarm pagi terasa seperti gangguan terhadap waktu tidur yang sebenarnya masih dibutuhkan tubuh.

Masalahnya menjadi semakin terasa ketika kebiasaan tidur larut berlangsung terus-menerus. Tubuh memiliki sistem pengaturan waktu internal yang membantu menentukan kapan seseorang merasa mengantuk dan kapan lebih mudah terjaga. Jika waktu tidur dan bangun berubah-ubah atau terus bergeser semakin malam, seseorang bisa merasa lebih sulit mengantuk pada malam hari sekaligus lebih berat untuk bangun pada pagi berikutnya.

Karena itu, orang yang sering menunda bangun sebaiknya tidak hanya berfokus pada alarm. Kebiasaan sebelum tidur juga perlu diperhatikan. Mengatur waktu tidur yang lebih konsisten, mengurangi aktivitas yang membuat terlalu lama terjaga, serta memberikan waktu yang cukup untuk tidur dapat membantu membuat proses bangun menjadi lebih mudah. Dengan kata lain, masalah “sulit bangun” terkadang perlu diselesaikan sejak malam sebelumnya.

4. Sering Merasa Kurang Tidur meski Sudah Berada di Tempat Tidur Cukup Lama

Ciri lainnya adalah seseorang merasa belum cukup tidur ketika alarm berbunyi, meskipun menurut hitungan waktu ia sudah berada di tempat tidur selama berjam-jam. Hal ini menunjukkan bahwa durasi berada di tempat tidur tidak selalu sama dengan durasi tidur yang benar-benar didapatkan. Seseorang bisa saja membutuhkan waktu lama untuk terlelap, sering terbangun di malam hari, atau tidurnya terasa tidak menyegarkan sehingga pagi hari tetap terasa berat.

Kualitas tidur juga dapat dipengaruhi berbagai kebiasaan dan kondisi lingkungan. Kamar yang terlalu terang atau bising, penggunaan perangkat elektronik hingga larut malam, konsumsi kafein terlalu dekat dengan waktu tidur, serta jadwal tidur yang berubah-ubah dapat membuat tidur kurang optimal pada sebagian orang. Akibatnya, ketika alarm berbunyi, tubuh terasa masih membutuhkan waktu istirahat meskipun jam tidur di atas kertas terlihat cukup.

Jika perasaan kurang tidur terjadi terus-menerus, penting untuk melihat pola secara keseluruhan daripada hanya menyalahkan kebiasaan menekan snooze. Mencatat waktu tidur dan bangun selama beberapa hari dapat membantu seseorang melihat apakah ada pola tertentu yang membuat pagi terasa lebih berat. Jika rasa lelah berlebihan atau kesulitan bangun terus berlangsung dan mengganggu aktivitas sehari-hari, evaluasi lebih lanjut dengan tenaga kesehatan dapat dipertimbangkan.

5. Menunda Bangun karena Pagi Hari Terasa Tidak Menarik

Tidak semua alasan seseorang menunda bangun berkaitan dengan rasa mengantuk. Ada kalanya seseorang sebenarnya sudah cukup sadar, tetapi memilih tetap berada di tempat tidur karena tidak memiliki motivasi untuk segera memulai hari. Pagi mungkin terasa identik dengan pekerjaan, kuliah, tugas rumah, perjalanan yang melelahkan, atau berbagai kewajiban lain. Akibatnya, beberapa menit tambahan di tempat tidur terasa seperti kesempatan untuk menunda menghadapi rutinitas tersebut.

Kondisi ini dapat membuat alarm memiliki makna yang kurang menyenangkan. Begitu alarm berbunyi, seseorang langsung teringat berbagai aktivitas yang harus dilakukan sehingga muncul keinginan untuk “sebentar lagi saja”. Kebiasaan tersebut kemudian dapat berkembang menjadi rutinitas, terutama jika seseorang merasa pagi hari selalu terburu-buru dan tidak memiliki waktu untuk melakukan sesuatu yang disukai sebelum memulai aktivitas utama.

Membuat rutinitas pagi yang lebih menyenangkan dapat menjadi salah satu cara untuk mengubah pola tersebut. Misalnya, seseorang dapat menyiapkan sarapan favorit, mendengarkan musik, menikmati udara pagi, melakukan peregangan ringan, atau menyediakan beberapa menit tanpa langsung membuka pekerjaan. Tujuannya bukan membuat setiap pagi sempurna, melainkan memberikan alasan positif untuk bangun sehingga alarm tidak selalu terasa sebagai tanda bahwa waktu istirahat yang menyenangkan harus berakhir.

6. Sering Membutuhkan Waktu Lama untuk Benar-benar Fokus setelah Bangun

Orang yang terbiasa menunda bangun juga bisa menunjukkan ciri berupa membutuhkan waktu cukup lama sebelum merasa benar-benar siap beraktivitas. Setelah meninggalkan tempat tidur, mereka mungkin masih merasa mengantuk, lambat berpikir, sulit berkonsentrasi, atau membutuhkan waktu untuk memahami apa yang harus dilakukan. Kondisi seperti ini dapat membuat seseorang memilih tetap berbaring ketika alarm berbunyi karena merasa belum siap menghadapi aktivitas.

Rasa grogi setelah bangun atau sleep inertia memang dapat terjadi secara normal, terutama ketika seseorang terbangun dari fase tidur tertentu atau sedang mengalami kekurangan tidur. Namun, pengalaman setiap orang berbeda. Ada yang dapat segera beraktivitas setelah bangun, sementara orang lain membutuhkan waktu lebih lama untuk merasa sepenuhnya waspada. Karena itu, tidak tepat jika seseorang langsung diberi label pemalas hanya karena membutuhkan waktu untuk beradaptasi setelah bangun.

Untuk membantu proses transisi, seseorang dapat mencoba membuka tirai atau terkena cahaya pagi, minum air setelah bangun, melakukan gerakan ringan, dan menghindari langsung kembali ke tempat tidur. Menyiapkan kebutuhan pagi sejak malam sebelumnya juga dapat mengurangi beban untuk mengambil banyak keputusan ketika baru bangun. Rutinitas sederhana dan konsisten biasanya lebih mudah dipertahankan dibandingkan memaksakan perubahan besar secara tiba-tiba.

7. Kebiasaan Menunda Bangun Sudah Menjadi Rutinitas Sehari-hari

Ciri terakhir adalah menunda bangun sudah terasa seperti bagian otomatis dari rutinitas pagi. Begitu alarm berbunyi, tangan seolah langsung mencari tombol snooze tanpa banyak berpikir. Setelah itu, seseorang mungkin kembali tidur, mematikan alarm berikutnya, lalu mengulangi proses yang sama. Karena dilakukan hampir setiap hari, perilaku tersebut akhirnya menjadi kebiasaan yang terasa normal dan sulit dihentikan.

Kebiasaan ini biasanya tidak muncul dalam satu malam. Pola tersebut dapat terbentuk dari kombinasi waktu tidur yang tidak teratur, kurang tidur, penggunaan ponsel hingga larut, rasa tidak bersemangat menghadapi pagi, atau sekadar terbiasa memberikan “tambahan lima menit” setelah alarm berbunyi. Ketika dilakukan berulang-ulang, otak dan tubuh dapat terbiasa dengan urutan tersebut sehingga seseorang tidak lagi mempertanyakannya.

Karena itu, mengubah kebiasaan menunda bangun sebaiknya dilakukan dengan melihat penyebabnya terlebih dahulu. Jika masalah utamanya adalah tidur terlalu larut, memperbaiki jadwal tidur menjadi langkah penting. Jika penyebabnya adalah rutinitas pagi yang terasa berat, membuat aktivitas pagi lebih terstruktur dan menyenangkan bisa membantu. Yang terpenting, kebiasaan menunda bangun tidak otomatis berarti seseorang malas atau tidak disiplin. Namun, jika kesulitan bangun disertai rasa kantuk berlebihan pada siang hari, kelelahan yang menetap, atau gangguan tidur lainnya, kondisi tersebut sebaiknya tidak diabaikan dan dapat dibicarakan dengan tenaga kesehatan.

Pertanyaan & Jawaban Seputar Ciri Orang yang Suka Menunda Bangun Setelah Alarm Berbunyi

1. Apakah suka menunda bangun setelah alarm berbunyi berarti malas?

Tidak selalu. Kebiasaan menunda bangun dapat dipengaruhi oleh kurang tidur, kualitas tidur yang kurang baik, jadwal tidur tidak teratur, atau rasa grogi setelah terbangun. Jadi, kebiasaan menekan tombol snooze tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa seseorang adalah pemalas.

2. Mengapa seseorang sering mematikan alarm lalu tidur lagi?

Mematikan alarm lalu tidur lagi dapat terjadi karena tubuh masih membutuhkan istirahat atau seseorang belum sepenuhnya terjaga. Kebiasaan tidur terlalu larut dan kurang tidur juga dapat membuat seseorang lebih sulit bangun pada waktu yang sudah ditentukan.

3. Apakah menekan tombol snooze berkali-kali berbahaya?

Menekan snooze sesekali bukan berarti berbahaya. Namun, jika dilakukan hampir setiap pagi dan membuat waktu bangun terus tertunda, kebiasaan tersebut dapat mengganggu rutinitas serta membuat seseorang semakin sulit memulai aktivitas. Lebih baik mengevaluasi waktu dan kualitas tidur jika kebiasaan ini terjadi terus-menerus.

4. Apa hubungan kurang tidur dengan sulit bangun pagi?

Kurang tidur dapat membuat tubuh masih merasa mengantuk ketika alarm berbunyi. Akibatnya, seseorang mungkin membutuhkan beberapa kali alarm sebelum benar-benar bangun. Jika kebutuhan tidur tidak terpenuhi secara konsisten, rasa lelah juga dapat terbawa hingga siang hari.

5. Mengapa sudah tidur lama tetapi tetap sulit bangun?

Lama berada di tempat tidur tidak selalu berarti mendapatkan tidur yang berkualitas. Seseorang dapat sering terbangun, sulit terlelap, atau mengalami tidur yang tidak terasa menyegarkan. Kebiasaan tidur yang tidak teratur dan kondisi lingkungan kamar juga dapat memengaruhi kualitas istirahat.