Liputan6.com, Jakarta - Memahami Surah An-Nisa ayat 59 beserta artinya penting bagi umat Islam, terutama dalam menjalankan kehidupan beragama dan bermasyarakat. Ayat ini menjadi salah satu landasan utama dalam menjelaskan prinsip ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, sekaligus mengatur bagaimana seorang Muslim menyikapi para pemimpin.
Dalam kehidupan sosial, ayat tersebut menjelaskan bahwa ketaatan memiliki tingkatan. Ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya bersifat mutlak, sedangkan ketaatan kepada pemimpin tidak bersifat tanpa batas. Selama perintah yang diberikan tidak bertentangan dengan ajaran syariat, seorang Muslim diperintahkan untuk menaati pemimpinnya.
Imam Syafi'i dalam Ar-Risalah menjelaskan bahwa kewajiban menaati Rasulullah pada hakikatnya merupakan bagian dari ketaatan kepada Allah. Prinsip ini menjadi penting ketika umat Islam menghadapi perbedaan pendapat, baik dalam persoalan agama maupun urusan kehidupan sehari-hari.
Advertisement
Karena itu, ketika terjadi perselisihan, umat Islam diperintahkan untuk mengembalikannya kepada Allah dan Rasul-Nya, yakni dengan merujuk pada Al-Qur'an dan Sunnah. Prinsip tersebut menjadi pedoman agar perbedaan tidak berkembang menjadi konflik sekaligus menjadi pengingat bahwa kekuasaan dan kepemimpinan harus tetap berjalan dalam koridor keadilan dan syariat.
Bacaan Lengkap Surah An Nisa Ayat 59: Arab, Latin dan Artinya
Arab: يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَطِيْعُوا اللّٰهَ وَاَطِيْعُوا الرَّسُوْلَ وَاُولِى الْاَمْرِ مِنْكُمْۚ فَاِنْ تَنَازَعْتُمْ فِيْ شَيْءٍ فَرُدُّوْهُ اِلَى اللّٰهِ وَالرَّسُوْلِ اِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِۗ ذٰلِكَ خَيْرٌ وَّاَحْسَنُ تَأْوِيْلًا ࣖ
Latin: Yā ayyuhallażīna āmanū aṭī‘ullāha wa aṭī‘ur-rasūla wa ulil-amri mingkum, fa in tanāza‘tum fī syai'in fa ruddūhu ilallāhi war-rasūli ing kuntum tu'minūna billāhi wal-yaumil-ākhir, dzālika khairuw wa aḥsanu ta'wīlā
Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan Ulil Amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya."
Tafsir Surah An Nisa Ayat 59
1. Tafsir Kemenag RI
Kementerian Agama Republik Indonesia dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini memerintahkan agar kaum Muslimin taat dan patuh kepada Allah, kepada rasul-Nya, dan kepada orang yang memegang kekuasaan di antara mereka agar tercipta kemaslahatan umum. Untuk kesempurnaan pelaksanaan amanat dan hukum sebaik-baiknya dan seadil-adilnya, kaum Muslimin hendaknya:
Taat dan patuh kepada perintah Allah dengan mengamalkan isi Kitab suci Al-Qur'an, melaksanakan hukum-hukum yang telah ditetapkan-Nya, sekalipun dirasa berat dan tidak sesuai dengan keinginan pribadi. Segala yang diperintahkan Allah mengandung maslahat dan apa yang dilarang-Nya mengandung mudarat.
Melaksanakan ajaran-ajaran yang dibawa Rasulullah SAW, pembawa amanat dari Allah untuk dilaksanakan oleh segenap hamba-Nya. Rasulullah ditugaskan untuk menjelaskan kepada manusia isi Al-Qur'an sebagaimana firman Allah dalam QS. An-Nahl ayat 44.
Patuh kepada ketentuan-ketentuan yang ditetapkan ulil amri, yaitu orang-orang yang memegang kekuasaan di antara mereka. Apabila mereka telah sepakat dalam suatu hal, maka kaum Muslimin berkewajiban melaksanakannya dengan syarat keputusan mereka tidak bertentangan dengan Al-Qur'an dan hadis.
2. Tafsir Al-Misbah (M. Quraish Shihab)
Dalam Tafsir Al-Misbah, M. Quraish Shihab menerangkan bahwa Allah SWT mengajak hamba-Nya untuk senantiasa bersungguh-sungguh dalam melaksanakan tugas secara sempurna demi menegakkan kebenaran. Shihab menekankan bahwa urutan ketaatan dalam QS. An-Nisa' ayat 59 mengindikasikan adanya pembedaan otoritas. Ketaatan kepada Allah dan Rasul bersifat mutlak karena keduanya menjadi sumber hukum yang tidak terbantahkan. Sementara itu, ulil amri dimaknai sebagai pihak yang memiliki wewenang menangani urusan-urusan, baik itu lembaga maupun individu.
Shihab lebih fokus pada otoritas praktis dalam penafsirannya, menekankan bahwa kepatuhan kepada pemimpin harus selalu dalam koridor ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Hal ini sejalan dengan pemahaman bahwa tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam hal maksiat kepada Allah.
3. Tafsir Al-Azhar (Buya Hamka)
Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar menafsirkan ulil amri sebagai pemerintah yang mengurusi tatanan negara, seperti presiden, ketua partai politik, dan lainnya. Hamka menekankan bahwa kepemimpinan yang adil adalah kepemimpinan yang mengetahui dan tunduk kepada apa yang diperintahkan Allah, dengan memberikan kemaslahatan kepada masyarakat tanpa unsur-unsur yang menyesatkan.
Hamka juga menegaskan bahwa ketaatan kepada pemimpin ada batasnya, yaitu selama tidak memerintahkan kepada kemaksiatan, kesesatan, kehancuran, dan hal-hal yang tidak logis. Dalam penafsirannya, Hamka lebih menekankan aspek musyawarah dan konteks agama dalam memahami ayat ini.
Asbabun Nuzul Surah An Nisa Ayat 59
Ayat ini turun dilatarbelakangi oleh beberapa riwayat yang saling melengkapi:
Riwayat Pertama: Kisah Abdullah bin Huzafah
Menurut riwayat yang bersumber dari Ibnu Abbas, ayat ini turun berkenaan dengan Abdullah bin Huzafah bin Qays As-Samhi ketika Rasulullah mengangkatnya menjadi pemimpin dalam sebuah sariyah (ekspedisi perang yang tidak diikuti langsung oleh Rasulullah SAW).
Dalam perjalanan, terjadi perselisihan antara pasukan dengan komandan mereka. Abdullah bin Huzafah memerintahkan pasukannya untuk mengumpulkan kayu bakar dan membakarnya, lalu meminta mereka masuk ke dalam api tersebut sebagai ujian ketaatan.
Seorang pemuda di antara pasukan berkata bahwa mereka sebaiknya kembali kepada Rasulullah terlebih dahulu sebelum melaksanakan perintah tersebut. Ketika mereka kembali dan menceritakan kejadian itu, Rasulullah SAW bersabda: "Seandainya kalian masuk ke api itu, niscaya kalian tidak akan keluar lagi selama-lamanya. Ketaatan itu hanya pada hal yang baik (yang makruf)."
Riwayat Kedua: Kisah 'Ammar bin Yasir dan Khalid bin Walid
Ibnu Jarir meriwayatkan bahwa ayat ini turun pada peristiwa yang terjadi antara 'Ammar bin Yasir bersama Khalid bin Walid. Ketika itu Khalid bin Walid adalah gubernur. Suatu hari 'Ammar mengupah seseorang tanpa perintah Khalid, sehingga keduanya bertengkar. Lalu turunlah firman Allah SWT surat An-Nisa ayat 59 ini.
Riwayat Ketiga: Perselisihan Yahudi dan Munafik
Ulama Syi'ah Imamiyah meriwayatkan bahwa ayat ini turun karena adanya pertentangan pendapat antara seorang Yahudi dengan seorang munafik mengenai suatu perkara. Orang Yahudi mengajukan perkara kepada Nabi Muhammad SAW karena mengetahui kejujuran beliau, sementara orang munafik mengajukan kepada Ka'ab bin Asyraf yang dikenal mudah disuap.
Dari berbagai riwayat ini, dapat dipahami bahwa ayat ini memberikan pelajaran penting tentang batas-batas ketaatan kepada pemimpin dan mekanisme penyelesaian sengketa ketika terjadi perbedaan pendapat.
Makna Mendalam Surah An Nisa Ayat 59
Ayat ini mengandung makna yang sangat dalam dan multidimensional:
1. Ketaatan (Hierarki Ketaatan)
Ayat ini mengajarkan bahwa ketaatan memiliki tingkatan. Ketaatan kepada Allah adalah yang tertinggi dan mutlak, diikuti oleh ketaatan kepada Rasulullah SAW sebagai penjelas ajaran Allah, dan kemudian ketaatan kepada ulil amri yang bersifat kondisional. Hierarki ini menunjukkan bahwa dalam Islam, tidak ada ketaatan mutlak kepada siapapun kecuali kepada Allah SWT.
2. Ulil Amri sebagai Otoritas yang Terbatas
Kata ulil amri secara bahasa berarti "pemilik urusan" atau "pemegang kekuasaan". Para ulama berbeda pendapat mengenai siapakah yang dimaksud. Ibnu Katsir menyimpulkan bahwa ulil amri secara zhahir adalah ulama, sedangkan secara umum mencakup umara (pemimpin) dan ulama. Ada pula yang memaknainya sebagai khulafa ar-rasyidin. Makna ini menunjukkan bahwa pemimpin dalam Islam tidak hanya pemegang kekuasaan politik, tetapi juga pemegang otoritas keilmuan.
3. Mekanisme Penyelesaian Sengketa
Ayat ini memberikan panduan yang jelas ketika terjadi perbedaan pendapat: kembalikan kepada Allah dan Rasul-Nya. Ini berarti bahwa Al-Qur'an dan Sunnah harus menjadi rujukan utama dalam menyelesaikan segala perselisihan. Prinsip ini menegaskan bahwa hukum Islam (syariah) adalah sumber hukum tertinggi yang tidak dapat digantikan oleh hukum buatan manusia.
4. Implikasi Keimanan
Ayat ini mengaitkan pengembalian perselisihan kepada Allah dan Rasul dengan keimanan kepada Allah dan hari Akhir. Ini menunjukkan bahwa sikap tunduk kepada ketentuan Allah dan Rasul-Nya merupakan bukti nyata dari keimanan seseorang. Sebaliknya, orang yang enggan merujuk kepada Al-Qur'an dan Sunnah dianggap belum sempurna imannya.
5. Akhir yang Lebih Baik
Ayat ini ditutup dengan pernyataan bahwa yang demikian itu (dzalika) lebih baik dan lebih bagus akibatnya. Ini memberikan motivasi bahwa kepatuhan kepada ketentuan Allah dan penyelesaian sengketa berdasarkan Al-Qur'an dan Sunnah akan membawa kebaikan baik di dunia maupun di akhirat.
Kandungan Surah An Nisa Ayat 59
Berdasarkan penafsiran para ulama dan Kementerian Agama RI, ayat ini mengandung beberapa pokok ajaran penting:
1. Perintah Taat kepada Allah
Ketaatan kepada Allah merupakan kewajiban fundamental bagi setiap Muslim. Ini mencakup pelaksanaan seluruh perintah-Nya dan meninggalkan seluruh larangan-Nya. Ketaatan ini bersifat mutlak dan tidak dapat ditawar-tawar. Dalam konteks ini, Al-Qur'an menjadi sumber hukum yang pertama dan utama dalam Islam.
2. Perintah Taat kepada Rasulullah SAW
Ketaatan kepada Rasulullah SAW merupakan kelanjutan dari ketaatan kepada Allah, karena Rasulullah menyampaikan dan menjelaskan ajaran Allah. Ketaatan kepada Rasul mencakup mengikuti sunnahnya, menjalankan perintahnya, dan menjauhi larangannya.
3. Perintah Taat kepada Ulil Amri
Ulil amri adalah pemegang kekuasaan di antara umat Islam. Ketaatan kepada mereka bersifat kondisional, yaitu selama perintah mereka tidak bertentangan dengan Al-Qur'an dan Sunnah. Ketaatan ini bertujuan untuk menciptakan kemaslahatan umum dan keteraturan dalam kehidupan bermasyarakat.
4. Kewajiban Mengembalikan Perselisihan kepada Al-Qur'an dan Sunnah
Ketika terjadi perbedaan pendapat tentang sesuatu, umat Islam wajib mengembalikannya kepada Allah (Al-Qur'an) dan Rasul (Sunnah). Ini menegaskan bahwa Al-Qur'an dan Sunnah adalah sumber hukum tertinggi yang harus dirujuk dalam menyelesaikan segala perselisihan.
5. Jaminan Kebaikan dan Akhir yang Lebih Baik
Ayat ini diakhiri dengan jaminan bahwa sikap mengembalikan perselisihan kepada Allah dan Rasul adalah lebih baik dan lebih bagus akibatnya. Ini memberikan keyakinan bahwa kepatuhan kepada ketentuan ilahiah akan membawa kebaikan, baik di dunia maupun di akhirat.
Hikmah Memahami Makna Surah An Nisa Ayat 59
1. Menumbuhkan Kesadaran tentang Hierarki Ketaatan
Memahami ayat ini mengajarkan bahwa ketaatan memiliki tingkatan dan batasan. Seseorang tidak boleh taat secara mutlak kepada siapapun kecuali kepada Allah SWT. Ketaatan kepada pemimpin harus selalu dalam koridor ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Kesadaran ini melindungi umat dari penyembahan berhala dalam bentuk ketaatan buta kepada penguasa.
2. Membangun Karakter Kritis dan Selektif
Ayat ini mengajarkan umat Islam untuk tidak menerima begitu saja semua perintah pemimpin. Ada batasan-batasan yang harus diperhatikan, yaitu selama perintah tersebut tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Hal ini membangun karakter kritis dan selektif dalam menyikapi otoritas, tanpa jatuh pada sikap anarkis atau pembangkangan.
3. Mendorong Musyawarah dalam Penyelesaian Masalah
Ayat ini memberikan panduan bahwa ketika terjadi perbedaan pendapat, solusinya bukan dengan perpecahan atau kekerasan, melainkan dengan mengembalikannya kepada sumber hukum tertinggi. Prinsip ini mendorong terciptanya budaya musyawarah dan dialog dalam menyelesaikan konflik.
4. Meneguhkan Al-Qur'an dan Sunnah sebagai Rujukan Utama
Dengan menjadikan Al-Qur'an dan Sunnah sebagai rujukan dalam segala perselisihan, ayat ini meneguhkan posisi kedua sumber tersebut sebagai pedoman hidup yang tidak tergantikan. Ini menjadi benteng bagi umat Islam dari pengaruh pemikiran dan nilai-nilai yang bertentangan dengan ajaran Islam.
5. Memberikan Ketenangan dan Kepastian Hukum
Janji bahwa mengembalikan perselisihan kepada Allah dan Rasul adalah lebih baik dan lebih bagus akibatnya memberikan ketenangan bagi umat Islam. Mereka tidak perlu bingung atau khawatir dalam menghadapi berbagai perbedaan pendapat, karena telah ada panduan yang jelas dan pasti dari Allah dan Rasul-Nya.
Pertanyaan Terkait Surah An Nisa Ayat 59
1. Siapa yang dimaksud dengan ulil amri dalam Surah An Nisa ayat 59?
Ulil amri secara bahasa berarti "pemilik urusan" atau "pemegang kekuasaan". Menurut Ibnu Katsir, secara zhahir ulil amri adalah ulama, sedangkan secara umum mencakup umara (pemimpin) dan ulama. Buya Hamka menafsirkannya sebagai pemerintah yang mengurusi tatanan negara seperti presiden dan ketua partai politik. Sementara M. Quraish Shihab memaknainya sebagai pihak yang memiliki wewenang menangani urusan-urusan, baik lembaga maupun individu.
2. Apakah ketaatan kepada ulil amri bersifat mutlak?
Tidak. Ketaatan kepada ulil amri bersifat kondisional dan terbatas. Sebagaimana diajarkan oleh Rasulullah SAW dalam hadisnya: "Ketaatan itu hanya pada hal yang baik (yang makruf)". Jika pemimpin memerintahkan kepada kemaksiatan, kesesatan, atau kehancuran, maka tidak ada kewajiban untuk taat. Ketaatan kepada ulil amri harus selalu dalam koridor ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya.
3. Bagaimana cara mengembalikan perselisihan kepada Allah dan Rasul?
Mengembalikan perselisihan kepada Allah berarti merujuk kepada Al-Qur'an sebagai firman Allah. Mengembalikan kepada Rasul berarti merujuk kepada sunnah dan hadis Rasulullah SAW. Dalam praktiknya, ini berarti setiap perbedaan pendapat harus diselesaikan dengan merujuk kepada Al-Qur'an dan hadis yang shahih, serta pendapat para ulama yang kompeten dalam memahami kedua sumber tersebut.
4. Apa hubungan Surah An Nisa ayat 59 dengan kepemimpinan dalam Islam?
Ayat ini merupakan fondasi ajaran Islam tentang kepemimpinan dan ketaatan. Ayat ini mengatur relasi antara pemimpin dan rakyat, menetapkan hierarki ketaatan, serta memberikan mekanisme penyelesaian sengketa ketika terjadi perbedaan pendapat. Ayat ini juga menegaskan bahwa pemimpin harus ditaati selama tidak menyimpang dari ajaran Islam, dan rakyat memiliki hak dan kewajiban untuk mengingatkan pemimpin jika terjadi penyimpangan.
5. Apakah ada ayat lain yang memiliki kesamaan tema dengan Surah An Nisa ayat 59?
Beberapa ayat lain yang memiliki kesamaan tema antara lain QS. An-Nisa ayat 83 yang juga membahas tentang pengembalian urusan kepada Allah dan Rasul. Selain itu, QS. Al-Hujurat ayat 12 juga berbicara tentang etika dalam berinteraksi dengan sesama Muslim. Namun, Surah An Nisa ayat 59 tetap menjadi ayat yang paling komprehensif dalam mengatur persoalan ketaatan dan kepemimpinan karena mencakup ketiga tingkatan ketaatan sekaligus: kepada Allah, Rasul, dan ulil amri.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9333897/original/064209300_1787812486-cek_fakta_-_tebuireng.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9339337/original/011380800_1788411813-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-09-03T120214.684.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1462305/original/017836600_1483611820-20170105-BBM-Naik-AY5.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9302223/original/051263400_1784536914-cek_fakta_-_Ahok_kaesang_PSI.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4374139/original/096709100_1679981555-pexels-alena-darmel-8164742.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9339440/original/090863100_1788415528-1091800.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4922913/original/081787900_1724128219-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9339517/original/074913100_1788419581-389740.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9339492/original/057851000_1788418500-IMG-20260901-WA0099.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3133009/original/069410900_1589908304-3482876.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9339452/original/061044500_1788416060-Screenshot_20260903_122256_Instagram_2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9338944/original/040320700_1788353475-24900.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9339375/original/019538700_1788413471-1091639.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9339339/original/040636200_1788412173-1000624666.jpg)