Surah Al Hujurat Ayat 13 Beserta Artinya, Keberagaman dan Kesetaraan Manusia

Ayat ini menegaskan bahwa perbedaan identitas bukan alasan untuk saling merendahkan, melainkan menjadi sarana untuk saling mengenal.

Diterbitkan 03 September 2026, 13:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Surah Al Hujurat ayat 13 beserta artinya mengandung pesan penting tentang asal-usul manusia, keragaman bangsa dan suku, serta ukuran kemuliaan seseorang di hadapan Allah SWT. Ayat ini menegaskan bahwa perbedaan identitas bukan alasan untuk saling merendahkan, melainkan menjadi sarana untuk saling mengenal.

Pesan tersebut menjadi semakin relevan di tengah kehidupan masyarakat yang memiliki latar belakang budaya, etnis, bahasa, dan tradisi yang beragam. Dalam jurnal Asep Kusnadi dan Ibrohim Saefudin, Nilai-Nilai Keragaman pada Pancasila Perspektif Al-Quran Surah Al-Hujurat Ayat 13, ayat ini dikaji sebagai landasan nilai keragaman dan persatuan dalam kehidupan sosial Indonesia.

Al-Qur'an juga menempatkan ketakwaan sebagai ukuran kemuliaan, bukan nasab, kekayaan, warna kulit, maupun kedudukan sosial. Hal ini sejalan dengan penjelasan Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Qur'an al-'Azhim bahwa keberagaman manusia dalam bangsa dan suku bukan untuk saling membanggakan keturunan, tetapi untuk saling mengenal.

Karena itu, Surah Al-Hujurat ayat 13 tidak hanya berbicara mengenai keberagaman, tetapi juga membangun etika hubungan antarmanusia. Nilai lita'arafu atau saling mengenal menjadi dasar untuk membangun penghormatan, kerja sama, dan kehidupan sosial yang harmonis. Pesan tersebut juga menjadi salah satu pokok pembahasan dalam Tadabbur Surat Al Hujurat karya Abu Ubaidah Yusuf bin Mukhtar as-Sidawi.

Surah Al-Hujurat Ayat 13: Arab, Latin, dan Artinya

Arab: يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَٰكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَٰكُمْ شُعُوبًا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓا۟ ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ ٱللَّهِ أَتْقَىٰكُمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Latin: Yā ayyuhan-nāsu innā khalaqnākum min żakariw wa unṡā wa ja'alnākum syu'ụbaw wa qabā`ila lita'ārafụ, inna akramakum 'indallāhi atqākum, innallāha 'alīmun khabīr

Artinya: "Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal."

Makna Mendalam Surah Al-Hujurat Ayat 13

Ayat ini mengandung pesan fundamental tentang hakikat kemanusiaan yang perlu direnungkan secara mendalam. Para ulama tafsir memberikan penjelasan komprehensif mengenai setiap kata dan frasa dalam ayat ini.

1. Kesatuan Asal-Usul Manusia

Ayat ini diawali dengan penegasan bahwa Allah menciptakan seluruh manusia dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, yaitu Nabi Adam AS dan Hawa.

Dalam Tafsir Ibnu Katsir dijelaskan bahwa Allah SWT menciptakan manusia dalam keragaman suku dan bangsa agar saling mengenal dan bukan untuk saling membedakan. Semua manusia yang ada di muka bumi berasal dari satu keturunan yang sama, sehingga tidak ada alasan untuk merasa lebih unggul atas dasar nasab atau garis keturunan.

2. Tujuan Perbedaan, Saling Mengenal

Frasa "wa ja'alnākum syu'ụbaw wa qabā`ila" (dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku) menunjukkan bahwa perbedaan suku dan bangsa adalah ketetapan Allah SWT. Namun, perbedaan ini bukanlah untuk saling mencemoohkan atau membanggakan diri, melainkan "lita'ārafụ" (supaya kamu saling mengenal).

M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah menafsirkan kata ta'ārafu yang terambil dari kata 'arafa (mengenal) — semakin kuat pengenalan satu pihak kepada pihak lainnya, semakin terbuka peluang untuk memberi manfaat. Perkenalan itu dibutuhkan untuk saling mengambil pelajaran dan pengalaman, untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT.

3. Tolok Ukur Kemuliaan, Takwa

Puncak pesan ayat ini terletak pada frasa "inna akramakum 'indallāhi atqākum" (sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa).

Syekh Syamsuddin al-Qurthubi dalam kitab Al-Jami' li Ahkami Al-Qur'an menjelaskan bahwa ayat ini menegaskan bahwa kalian berbeda-beda dalam keutamaan di sisi Allah hanyalah dengan ketakwaan, bukan karena keturunan dan kedudukan. Dalam Tafsir Al-Munir, Wahbah Az-Zuhaili menambahkan bahwa standar kemuliaan sejati adalah ketakwaan, bukan harta, tahta, maupun ras dan warna kulit.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Daqaiq Tafsir menegaskan bahwa tidak ada satu ayat pun dalam Al-Qur'an yang memuji atau mencela seseorang karena nasabnya. Yang ada adalah memuji keimanan dan ketaatan dan mencela kekufuran dan kefasikan.

4. Kesempurnaan Ilmu Allah

Ayat ini ditutup dengan "innallāha 'alīmun khabīr" (Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal). Ini menegaskan bahwa Allah SWT Maha Mengetahui segala sesuatu, baik yang lahir maupun yang tersembunyi dalam jiwa dan pikiran manusia. Tidak ada satu pun gerak-gerik dan perbuatan manusia yang luput dari ilmu-Nya.

Asbabun Nuzul Surah Al-Hujurat Ayat 13

Latar belakang turunnya ayat ini (asbabun nuzul) sangat penting untuk memahami konteks dan pesan yang dibawanya. Imam Suyuthi dalam kitab tafsirnya Al-Durr Al-Mantsur fi Tafsir Bil-Ma'tsur menyebutkan dua kisah yang menjadi sebab turunnya Surah Al-Hujurat ayat 13.

Kisah Pertama: Bilal bin Rabah dan Fathu Makkah

Pada saat Rasulullah SAW memasuki kota Makkah dalam peristiwa Fathu Makkah (Penaklukan Makkah), Bilal bin Rabah — seorang mantan budak berkulit hitam — naik ke atas Ka'bah dan menyerukan azan.

Sebagian penduduk Makkah yang tidak mengetahui bahwa Bilal biasa bertugas sebagai muazin di Madinah pun terkaget-kaget dan melontarkan komentar sinis. Dalam riwayat lain di kitab Tafsir Al-Baghawi, Al-Harits bin Hisyam mengejek dengan mengatakan: "Apakah Muhammad tidak menemukan selain burung gagak ini untuk berazan?". Ada pula yang berkata: "Jika Allah membencinya, tentu akan menggantinya".

Peristiwa inilah yang menjadi salah satu sebab turunnya ayat 13 Surah Al-Hujurat sebagai teguran atas sikap diskriminatif tersebut.

Kisah Kedua: Abu Hind dan Bani Bayadhah

Abu Hind adalah seorang bekas budak yang kemudian bekerja sebagai tukang bekam. Rasulullah SAW meminta kepada Bani Bayadhah untuk menikahkan salah satu putri mereka dengan Abu Hind. Namun mereka menolak dengan alasan status sosial: "Ya Rasul, bagaimana kami hendak menikahkan putri kami dengan bekas budak kami?".

Penolakan ini kembali menunjukkan praktik diskriminasi berdasarkan status sosial dan keturunan yang masih mengakar di masyarakat Arab saat itu. Maka turunlah ayat 13 Surah Al-Hujurat sebagai bantahan tegas terhadap pandangan semacam itu.

Dua peristiwa ini menunjukkan bahwa ayat 13 turun untuk menghapus sistem "kasta" dalam masyarakat Arab dan menegaskan bahwa sebagai hamba Allah, bukan nasab, harta, bentuk rupa, atau status pekerjaan yang menentukan keutamaan, melainkan ketakwaan.

Pesan ini sebagaimana dijelaskan oleh Syekh Syamsuddin al-Qurthubi dalam Al-Jami' li Ahkami Al-Qur'an, bahwa ayat ini menentang pandangan manusia yang seringkali mengaitkan kemuliaan dengan hal-hal duniawi seperti kebangsaan atau kekayaan.

Hikmah Memahami Surah Al-Hujurat Ayat 13

1. Menghapuskan Diskriminasi dan Prasangka Keturunan

Hikmah pertama dan paling fundamental dari ayat ini adalah penghapusan segala bentuk diskriminasi berdasarkan keturunan, ras, warna kulit, atau status sosial. Ayat ini mengajarkan bahwa semua manusia berasal dari nenek moyang yang sama, yaitu Adam dan Hawa. Tidak ada satu pun manusia yang lebih mulia dari yang lain hanya karena nasab atau garis keturunannya. Ini adalah fondasi utama bagi terciptanya masyarakat yang adil dan setara.

2. Mendorong Toleransi dan Saling Mengenal

Perbedaan suku, bangsa, dan bahasa yang Allah ciptakan bukanlah untuk dipertentangkan, melainkan untuk lita'ārafụ — saling mengenal. Hikmah ini mengajarkan bahwa keragaman adalah kekayaan, bukan ancaman. Dengan saling mengenal, manusia dapat belajar dari perbedaan, saling menghargai, dan membangun jembatan komunikasi antar kelompok masyarakat. Sebagaimana dijelaskan dalam tafsir Kemenag, perbedaan suku dan bangsa bertujuan agar kita saling mengenal dan kemudian saling membantu satu sama lain, bukan saling mengolok-olok dan saling memusuhi.

3. Menempatkan Takwa sebagai Standar Kemuliaan Sejati

Ayat ini dengan tegas menyatakan bahwa standar kemuliaan di sisi Allah hanyalah ketakwaan. Hikmah ini mengalihkan pandangan manusia dari ukuran-ukuran duniawi — seperti harta, jabatan, atau keturunan — menuju ukuran spiritual yang hakiki. Seseorang yang paling bertakwa, yang paling patuh menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, dialah yang paling mulia di sisi Allah, tanpa memandang asal usul atau status sosialnya.

4. Mencegah Kesombongan dan Sifat Jahiliyah

Dengan memahami bahwa kemuliaan hanya ditentukan oleh takwa, ayat ini mencegah manusia dari sifat sombong dan membanggakan diri. Allah SWT tidak menyukai orang-orang yang memperlihatkan kesombongan dengan keturunan, kepangkatan, atau kekayaannya. Sifat sombong adalah warisan Jahiliyah yang harus dibersihkan dari hati setiap muslim.

5. Membangun Perdamaian dan Persaudaraan Universal

Hikmah terakhir adalah terciptanya perdamaian dan persaudaraan antar sesama manusia. Ayat ini mengajarkan bahwa perbedaan bukanlah alasan untuk bermusuhan, melainkan untuk saling memahami dan bekerja sama. Pesan inilah yang membuat ayat ini dipilih sebagai pembukaan Piala Dunia 2022, sebagai simbol perdamaian dan persatuan antar bangsa. Dengan memahami ayat ini, manusia diajak untuk hidup berdampingan secara damai, menghormati perbedaan, dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan universal.

 

Pertanyaan Seputar Surah Al-Hujurat 

1. Apa isi kandungan Surah Al-Hujurat ayat 13?

Surah Al-Hujurat ayat 13 mengandung pesan tentang kesetaraan seluruh umat manusia. Ayat ini menegaskan bahwa semua manusia berasal dari satu keturunan (Adam dan Hawa), perbedaan suku dan bangsa diciptakan agar saling mengenal, dan kemuliaan sejati di sisi Allah hanya ditentukan oleh ketakwaan, bukan oleh nasab, harta, atau status sosial.

2. Siapa yang menjadi asbabun nuzul Surah Al-Hujurat ayat 13?

Ada dua tokoh yang menjadi latar belakang turunnya ayat ini. Pertama, Bilal bin Rabah yang diejek oleh penduduk Makkah saat mengumandangkan azan di atas Ka'bah karena statusnya sebagai mantan budak berkulit hitam. Kedua, Abu Hind, seorang bekas budak yang ditolak untuk dinikahkan dengan putri Bani Bayadhah karena status sosialnya. Kedua peristiwa ini menjadi sebab turunnya Surah Al-Hujurat ayat 13.

3. Mengapa Surah Al-Hujurat ayat 13 ditujukan kepada seluruh manusia, bukan hanya orang beriman?

Ayat ini diawali dengan sapaan "Yā ayyuhan-nāsu" (Wahai manusia), bukan "Yā ayyuhal-ladzina āmanū" (Wahai orang-orang yang beriman). Hal ini menunjukkan bahwa pesan ayat ini bersifat universal dan ditujukan kepada seluruh umat manusia tanpa kecuali. M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah menegaskan bahwa ayat ini tidak ditujukan kepada orang beriman saja, melainkan kepada semua manusia.

4. Apa perbedaan antara kata syu'ub dan qabail dalam Surah Al-Hujurat ayat 13?

Kata syu'ub (berbangsa-bangsa) dan qabail (bersuku-suku) memiliki makna yang saling melengkapi. Dalam Tafsir Ibnu Katsir dijelaskan bahwa syu'ub merujuk pada bangsa-bangsa besar, sedangkan qabail merujuk pada suku-suku yang lebih kecil di dalamnya. Perbedaan ini menunjukkan tingkatan keragaman manusia, dari yang paling luas (bangsa) hingga yang lebih spesifik (suku), yang semuanya diciptakan untuk saling mengenal.

5. Bagaimana relevansi Surah Al-Hujurat ayat 13 dengan kehidupan modern?

Ayat ini sangat relevan dengan kehidupan modern yang diwarnai isu diskriminasi rasial, intoleransi, dan konflik antarkelompok. Sebagaimana diuraikan oleh Asep Kusnadi dan Ibrohim Saefudin dalam jurnalnya, nilai-nilai keragaman dalam ayat ini selaras dengan semangat Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika. Ayat ini mengajarkan bahwa perbedaan adalah sunnatullah yang harus disikapi dengan saling mengenal dan menghormati, bukan dengan permusuhan dan diskriminasi. Pesan inilah yang membuat ayat ini menjadi simbol perdamaian universal.