Kenapa Ada Orang yang Suka Berjalan Mondar-Mandir Saat Berpikir? Ternyata Bukan Sekadar Kebiasaan

Kebiasaan mondar-mandir saat berpikir bisa berkaitan dengan kreativitas, fokus, dan cara tubuh mengatur energi.

Diterbitkan 03 September 2026, 19:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Pernah melihat seseorang tiba-tiba berdiri dari kursinya lalu berjalan bolak-balik ketika sedang mencari solusi, menyusun rencana, atau memikirkan sesuatu yang rumit? Bahkan tanpa disadari, sebagian orang melakukan kebiasaan ini setiap kali otaknya sedang bekerja keras. Langkahnya mungkin hanya mengelilingi ruangan, berjalan dari meja ke jendela, atau mondar-mandir di tempat yang sama sambil terus memikirkan persoalan tertentu.

Kebiasaan tersebut tidak selalu menandakan seseorang sedang gelisah. Dalam kondisi tertentu, gerakan tubuh justru dapat berjalan beriringan dengan proses berpikir, membantu mempertahankan keterlibatan pada tugas, atau memberi suasana berbeda ketika seseorang sedang mencari ide. Namun, alasan setiap orang melakukannya tidak selalu sama dan konteks tetap menjadi hal yang penting. Berikut penjelasan selengkapnya yang telah Liputan6.com rangkum dari berbagai sumber, Kamis (3/9).

1. Berjalan Bisa Membantu Ide Mengalir Lebih Bebas

Salah satu alasan paling masuk akal mengapa seseorang suka berjalan saat berpikir berkaitan dengan proses menghasilkan ide. Ketika hanya duduk diam cukup lama, pikiran terkadang terasa buntu. Berdiri dan mulai berjalan memberi perubahan kecil pada aktivitas tubuh serta lingkungan yang dapat membuat proses berpikir terasa lebih mengalir.

Penelitian yang dilakukan Marily Oppezzo dan Daniel Schwartz menunjukkan bahwa berjalan dapat meningkatkan kemampuan menghasilkan ide kreatif dibandingkan hanya duduk. Efek tersebut terutama terlihat pada divergent thinking, yaitu kemampuan menghasilkan berbagai kemungkinan atau gagasan, bukan pada tugas yang membutuhkan satu jawaban yang sangat spesifik. Stanford Report juga menjelaskan bahwa manfaat tersebut terlihat baik ketika seseorang berjalan di luar ruangan maupun di dalam ruangan.

Inilah sebabnya berjalan mondar-mandir kerap terasa membantu ketika seseorang sedang mencari judul tulisan, menyusun konsep presentasi, memikirkan strategi, atau mencoba melihat sebuah masalah dari sudut berbeda. Gerakan tidak otomatis menghasilkan jawaban yang tepat, tetapi bagi sebagian orang, berjalan dapat menciptakan kondisi yang terasa lebih mendukung proses pencarian ide.

2. Tubuh dan Pikiran Tidak Selalu Bekerja Secara Terpisah

Berpikir sering dibayangkan sebagai kegiatan yang sepenuhnya terjadi di dalam kepala. Padahal, proses kognitif juga berkaitan dengan keadaan tubuh dan interaksi seseorang dengan lingkungan di sekitarnya. Dalam psikologi kognitif terdapat konsep embodied cognition, yang secara sederhana melihat bahwa aktivitas tubuh dapat berhubungan dengan cara manusia memproses informasi.

Karena itu, kebiasaan bergerak ketika berpikir sebenarnya tidak terlalu aneh. Ada orang yang mengetukkan jari, memainkan pulpen, menggerakkan kaki, berdiri sesekali, hingga berjalan mengitari ruangan. Aktivitas fisik tersebut dapat muncul bersamaan dengan proses mental yang sedang berlangsung, terutama ketika seseorang menghadapi persoalan yang membutuhkan perhatian cukup besar.

Hubungan antara aktivitas fisik dan kemampuan kognitif sendiri cukup kompleks. Tinjauan penelitian mengenai olahraga akut dan fungsi eksekutif menemukan adanya kemungkinan manfaat terhadap beberapa aspek kognitif, tetapi hasilnya tidak selalu sama pada setiap jenis tugas maupun setiap orang. Artinya, bergerak dapat membantu dalam kondisi tertentu, tetapi tidak berarti seseorang akan selalu berpikir lebih baik hanya karena berjalan.

3. Mondar-Mandir Bisa Menjadi Cara Mempertahankan Fokus

Bagi sebagian orang, duduk diam dalam waktu lama justru membuat perhatian lebih mudah terpecah. Ketika konsentrasi mulai menurun, tubuh dapat mencari aktivitas kecil agar seseorang tetap terlibat dengan apa yang sedang dilakukan. Bentuknya bisa sesederhana mengubah posisi duduk hingga berdiri dan mulai berjalan.

Mondar-mandir dapat memberikan stimulasi fisik ringan tanpa harus sepenuhnya meninggalkan aktivitas mental. Seseorang masih dapat memikirkan masalah yang sama sambil bergerak sehingga aktivitas tersebut terasa lebih nyaman dibandingkan memaksa diri tetap duduk. Pola ini juga menjelaskan mengapa beberapa orang memilih melakukan panggilan telepon sambil berjalan daripada tetap berada di kursi.

Namun, tidak semua gerakan otomatis memperbaiki perhatian. Penelitian tentang gerakan kecil seperti fidgeting menunjukkan hubungan yang cukup kompleks antara aktivitas motorik dan perhatian. Dalam studi terhadap orang dewasa dengan ADHD, misalnya, fidgeting diduga dapat berfungsi sebagai salah satu mekanisme untuk mempertahankan kewaspadaan pada tugas tertentu, tetapi peneliti juga menegaskan bahwa masih ada kemungkinan penjelasan lain.

4. Aktivitas Berjalan Membuat Pikiran Terasa Tidak Terlalu Terjebak

Ketika seseorang terlalu lama berkutat pada satu masalah, terkadang muncul kondisi seperti merasa mentok pada pola pemikiran yang sama. Tetap menatap layar atau kertas justru dapat membuat perhatian semakin terpaku pada pendekatan yang sebelumnya tidak berhasil.

Berjalan sebentar memberi perubahan sederhana. Posisi tubuh berubah, pandangan bergerak, dan seseorang tidak lagi terus-menerus menghadapi objek yang sama. Kondisi ini dapat memberi semacam jeda dari pola kerja sebelumnya tanpa benar-benar menghentikan proses berpikir.

Tidak jarang seseorang menemukan gagasan justru saat meninggalkan meja kerja, berjalan menuju dapur, mengitari halaman, atau melakukan aktivitas sederhana lainnya. Hal tersebut bukan berarti jawabannya muncul secara ajaib karena berjalan, melainkan perubahan aktivitas dapat memberi kesempatan bagi pikiran untuk memproses masalah dengan cara yang sedikit berbeda.

5. Ada Orang yang Memang Lebih Nyaman Berpikir Sambil Bergerak

Setiap orang memiliki kebiasaan berbeda ketika berkonsentrasi. Sebagian bisa bekerja berjam-jam sambil duduk nyaris tanpa bergerak, sementara sebagian lainnya merasa lebih nyaman bila sesekali berdiri, berjalan, atau melakukan gerakan tertentu.

Kebiasaan semacam ini dapat terbentuk dari pengalaman. Jika seseorang beberapa kali berhasil menemukan ide ketika berjalan, ia mungkin tanpa sadar mengulangi pola tersebut saat menghadapi masalah lain. Lama-kelamaan, berjalan menjadi bagian dari ritual berpikir yang terasa familiar dan membantu memasuki kondisi kerja tertentu.

Lingkungan juga ikut berpengaruh. Seseorang yang terbiasa bekerja di ruang luas mungkin lebih mudah mondar-mandir, sedangkan orang yang bekerja di tempat sempit dapat menggantinya dengan berdiri, menggoyangkan kaki, atau melakukan gerakan kecil lainnya. Jadi, bentuk perilakunya dapat berbeda meski kebutuhan dasarnya sama-sama berkaitan dengan kenyamanan ketika berpikir.

6. Mondar-Mandir Juga Bisa Muncul Ketika Sedang Tegang

Tidak semua aktivitas mondar-mandir berkaitan dengan kreativitas. Ketika menghadapi keputusan penting, menunggu kabar, merasa gugup sebelum melakukan sesuatu, atau sedang berada di bawah tekanan, seseorang juga bisa berjalan bolak-balik.

Dalam situasi tersebut, mondar-mandir dapat menjadi ekspresi dari meningkatnya kegelisahan atau energi tubuh. Karena sulit berada dalam posisi diam, seseorang memilih bergerak meskipun sebenarnya tidak sedang menuju tempat tertentu. Perilaku seperti ini biasanya dapat dibedakan dari kebiasaan berjalan untuk mencari ide melalui konteks yang menyertainya.

Seseorang yang berjalan sambil santai memikirkan konsep pekerjaan tentu berbeda dengan seseorang yang tidak bisa berhenti bergerak karena merasa sangat tertekan. Itulah sebabnya, satu perilaku yang sama tidak dapat langsung digunakan untuk menilai kondisi psikologis seseorang tanpa melihat situasi, intensitas, dan perubahan perilaku lainnya.

Apakah Mondar-Mandir Berarti Overthinking?

Tidak selalu. Mondar-mandir merupakan perilaku yang terlalu umum untuk dijadikan tanda bahwa seseorang mengalami overthinking. Orang dapat berjalan sambil berpikir karena sedang mencari inspirasi, menyusun argumen, berbicara melalui telepon, menghafalkan sesuatu, atau sekadar merasa lebih nyaman bergerak.

Overthinking sendiri lebih berkaitan dengan pola pemikiran yang berulang-ulang dan sulit dihentikan, terutama ketika seseorang terus memikirkan kemungkinan, kesalahan, atau kekhawatiran tanpa memperoleh kemajuan yang berarti. Karena itu, yang perlu diperhatikan bukan sekadar apakah orang tersebut berjalan, tetapi seperti apa pola pikir yang berlangsung pada saat bersamaan.

Jika setelah beberapa menit berjalan seseorang memperoleh ide dan kembali mengerjakan tugas, mondar-mandir justru dapat menjadi bagian dari strategi kerja yang efektif baginya. Sebaliknya, apabila ia terus bergerak sambil memikirkan masalah yang sama berjam-jam dan semakin merasa tertekan, persoalan utamanya mungkin bukan aktivitas berjalan tersebut.

Bukan Berarti Seseorang Lebih Kreatif

Kebiasaan berjalan ketika berpikir tidak otomatis berarti seseorang memiliki kreativitas lebih tinggi dibandingkan orang yang lebih suka duduk. Penelitian mengenai berjalan dan kreativitas lebih tepat dipahami sebagai bukti bahwa aktivitas berjalan dapat mendukung proses menghasilkan ide dalam kondisi tertentu.

Ada banyak faktor lain yang memengaruhi kreativitas, mulai dari pengalaman, pengetahuan, lingkungan, kesempatan mengeksplorasi gagasan, hingga karakter tugas yang sedang dikerjakan. Seseorang yang tidak pernah mondar-mandir pun tetap dapat menghasilkan ide sangat kreatif.

Hal yang lebih berguna adalah mengenali pola kerja pribadi. Jika berjalan singkat membuat ide lebih mudah muncul, tidak ada salahnya memanfaatkannya sebagai bagian dari rutinitas. Misalnya, ketika ide tulisan buntu, seseorang dapat meninggalkan meja selama beberapa menit dan berjalan di sekitar ruangan sebelum kembali mencatat gagasan yang muncul.

Kapan Mondar-Mandir Perlu Lebih Diperhatikan?

Berjalan ketika sedang berpikir umumnya tidak perlu dikhawatirkan apabila dilakukan secara sukarela, dapat dihentikan dengan mudah, tidak menimbulkan tekanan, dan tidak mengganggu aktivitas sehari-hari. Dalam kondisi seperti ini, kebiasaan tersebut lebih tepat dilihat sebagai salah satu gaya seseorang dalam bekerja atau berkonsentrasi.

Perhatian lebih diperlukan apabila keinginan untuk terus bergerak muncul sangat kuat, sulit dikendalikan, terasa berbeda dari kebiasaan sebelumnya, atau mulai muncul setelah menggunakan maupun mengubah dosis obat tertentu. Kondisi bernama akathisia, misalnya, dapat menyebabkan rasa gelisah dari dalam tubuh disertai dorongan yang sangat kuat untuk terus bergerak, termasuk berjalan bolak-balik dan kesulitan tetap duduk.

Konteks menjadi pembeda penting. Mondar-mandir sambil sesekali berhenti mencatat ide tentu berbeda dengan merasa tidak mampu duduk tenang sama sekali. Bila perilaku muncul tiba-tiba, sangat intens, mengganggu tidur atau pekerjaan, menimbulkan rasa tidak nyaman yang berat, atau muncul setelah perubahan pengobatan, pemeriksaan profesional dapat membantu mencari penyebabnya.

Pertanyaan dan Jawaban Seputar Orang yang Suka Berjalan Mondar-Mandir Saat Berpikir

1. Kenapa berjalan sering membuat ide tiba-tiba muncul?

Perubahan aktivitas tubuh dapat membantu menciptakan kondisi berbeda ketika otak sedang mencari ide, sehingga seseorang tidak terus terpaku pada pola pemikiran yang sama.

2. Apakah mondar-mandir saat berpikir merupakan kebiasaan normal?

Dalam banyak situasi, ya. Kebiasaan tersebut dapat menjadi bagian dari cara seseorang berkonsentrasi selama tidak sulit dikendalikan atau mengganggu aktivitas sehari-hari.

3. Apakah berjalan sambil belajar bisa meningkatkan konsentrasi?

Bagi sebagian orang bisa terasa membantu, tetapi tidak semua jenis tugas cocok dikerjakan sambil berjalan, terutama pekerjaan yang membutuhkan ketelitian visual atau koordinasi tinggi.

4. Apakah orang yang mondar-mandir pasti sedang cemas?

Tidak. Seseorang dapat mondar-mandir karena berpikir, mencari ide, berbicara melalui telepon, merasa bosan, atau sedang tegang.

5. Kapan kebiasaan mondar-mandir sebaiknya diperiksakan?

Pertimbangkan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan jika dorongan bergerak sangat kuat, sulit dikendalikan, muncul tiba-tiba, menimbulkan tekanan, atau terjadi setelah perubahan obat.