Liputan6.com, Jakarta - Ketiadaan figur ayah, baik secara fisik maupun emosional, memberikan dampak jangka panjang yang signifikan terhadap perkembangan mental seorang anak perempuan hingga ia beranjak dewasa. Menurut data dari BKKBN, tercatat sebanyak 25,8 persen anak di Indonesia mengalami kondisi fatherless yang mencakup aspek interaksi, aksesibilitas, tanggung jawab, serta keterlibatan emosional. Kondisi ini sering kali membentuk pola pikir bawah sadar yang memengaruhi cara mereka berelasi, mengelola emosi, dan memandang diri sendiri di kemudian hari.
Berdasarkan tinjauan psikologis serta ulasan dari para ahli seperti pelatih kehidupan Mitzi Bockmann dan psikolog Jed Diamond, anak perempuan yang tumbuh tanpa kehadiran ayah yang optimal cenderung membawa mekanisme pertahanan diri tertentu ke dalam kehidupan asmara maupun sosial mereka. Pemahaman mendalam mengenai pola perilaku ini menjadi langkah awal yang esensial untuk mengenali luka masa kecil dan memulai proses pemulihan emosional secara mandiri maupun profesional.
Berikut berbagai kebiasaan yang kerap ditunjukkan oleh perempuan dewasa dengan latar belakang fatherless. Simak pembahasan selengkapnya berikut ini, sebagaimana telah Liputan6.com rangkum dari berbagai sumber, Jumat (4/9/2026).
Advertisement
1. Selalu Berusaha Menyenangkan Orang Lain (People Pleaser)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9340425/original/073786700_1788505036-1.jpg)
Perempuan yang tumbuh tanpa figur ayah yang memadai sering kali mengembangkan refleks trauma berupa kecenderungan menjadi people pleaser atau selalu ingin menyenangkan orang-orang di sekitar mereka. Mereka kerap merasa kesulitan untuk mengungkapkan keinginan serta kebutuhan pribadinya sendiri karena takut ditinggalkan oleh orang terdekat.
Pelatih kehidupan Patricia Bonnard menjelaskan bahwa meski niat awal perilaku ini dilandasi oleh kebaikan, ketidaksesuaian antara keinginan asli dan tindakan seorang people pleaser dapat mengikis kepercayaan serta merusak hubungan dalam jangka panjang. Rasa takut yang terlalu besar untuk menolak sering kali mengalahkan batasan diri sehat yang seharusnya mereka miliki.
Advertisement
2. Sulit Membangun Kedekatan dan Membentengi Diri
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9340426/original/084319300_1788505036-2.jpg)
Kebiasaan berikutnya adalah kesulitan dalam membangun kedekatan emosional yang mendalam dengan orang lain akibat pola pertahanan diri masa kecil. Setiap kali berkenalan dengan orang baru, mereka cenderung bersikap sangat hati-hati dan memasang tembok pembatas yang tinggi agar tidak kembali merasakan kekecewaan.
Psikolog Jed Diamond mengungkapkan bahwa dampak dari sosok ayah yang tidak hadir atau bersikap kasar merupakan salah satu bentuk trauma masa kecil yang paling sering diabaikan oleh banyak orang. Kebanyakan individu memilih memendam rasa sakit tersebut dan berpura-pura melanjutkan hidup, padahal trauma yang diabaikan dapat menjadi pemicu berbagai masalah relasional di masa depan.
3. Kesulitan untuk Setia dan Cenderung Melakukan Sabotase Diri
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9340427/original/095513100_1788505036-3.jpg)
Keyakinan bawah sadar bahwa pasangan cepat atau lambat akan meninggalkan mereka membuat sebagian perempuan fatherless mengalami kesulitan untuk mempertahankan komitmen. Sebagai bentuk mekanisme perlindungan diri agar tidak tersakiti lebih dulu, mereka terkadang melakukan sabotase diri atau bahkan memicu perpisahan dengan cara berselingkuh.
Psikolog Perrin Elisha menyatakan bahwa individu dengan gaya kelekatan cemas (anxious attachment style) sering kali terburu-buru menjalin ikatan dengan orang yang keliru. Kondisi ini memicu konflik batin yang menyakitkan, keraguan mendalam pada diri sendiri, hingga siklus hubungan putus-nyambung yang melelahkan secara mental.
Advertisement
4. Berjuang Melawan Kecemasan Kronis dan Depresi
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4854771/original/025933800_1717645486-Ilustrasi_serangan_panik__cemas__gelisah.jpg)
Kehadiran figur ayah yang kerap datang dan pergi secara tidak menentu meninggalkan luka psikologis berupa rasa kehilangan yang mendalam serta ketidakpastian masa depan. Hal ini membuat perempuan dewasa dengan latar belakang fatherless lebih rentan mengalami kecemasan kronis (anxiety) serta episode depresi dalam keseharian mereka.
Meskipun telah berupaya menjalani pengobatan atau konseling, memori emosional mengenai figur ayah yang tidak konsisten sering kali meninggalkan jejak kecemasan yang memerlukan pendekatan terapeutik berkelanjutan. Penerapan regulasi emosi yang tepat sangat diperlukan agar mereka tidak terus-menerus terjebak dalam siklus rasa sakit tersebut.
5. Kebutuhan yang Berlebihan akan Validasi dan Rasa Aman (Constant Reassurance)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9340429/original/022770900_1788505037-5.jpg)
Banyak perempuan dewasa yang tumbuh tanpa kehangatan emosional seorang ayah membawa kebutuhan validasi yang tinggi ke dalam hubungan asmara mereka. Mereka sering kali menuntut kepastian secara terus-menerus bahwa pasangan benar-benar mencintai dan tidak akan meninggalkan mereka.
Menurut testimoni dari komunitas kesehatan mental The Mighty, ketiadaan dukungan emosional di masa kecil membuat seseorang merasa memiliki harga diri yang rendah di hadapan publik. Akibatnya, mereka menjadi terlalu tersedia untuk orang lain namun kesulitan memberikan kasih sayang yang setara kepada diri sendiri.
Advertisement
6. Sering Merasa Terjebak dalam Harga Diri yang Rendah (Low Self-Esteem)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9340430/original/035521200_1788505037-6.jpg)
Perempuan yang ditinggalkan oleh ayahnya sering kali menyalahkan diri sendiri dan meyakini bahwa mereka adalah sosok yang tidak layak dicintai. Mereka kerap merasa diri mereka tidak cukup baik atau gagal, karena menganggap kepergian sang ayah diakibatkan oleh kekurangan yang ada pada diri mereka.
Perasaan tidak berharga ini biasanya terbawa hingga dewasa, membuat mereka merasa minder saat menghadapi penolakan atau ketika berada dalam hubungan yang tidak sehat. Pola pikir ini mengakar kuat karena figur ayah merupakan salah satu tolok ukur kasih sayang pertama bagi seorang anak perempuan.
7. Terjebak dalam Disregulasi Emosi dan Perubahan Mood Ekstrem
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9340431/original/052168900_1788505037-7.jpg)
Trauma masa kecil akibat ditinggalkan oleh sosok ayah dapat menyebabkan gangguan dalam mengendalikan emosi atau yang dikenal sebagai disregulasi emosi. Hal ini membuat perempuan dewasa sering mengalami lonjakan suasana hati (mood swings) yang ekstrem dari rasa senang hingga sangat sedih.
Penelitian terkait trauma masa kecil yang dipublikasikan dalam Harvard Review of Psychiatry menunjukkan bahwa otak anak yang mengalami trauma pengabaian dapat memicu fungsi emosional yang tidak stabil. Akibatnya, mereka merespons berbagai situasi secara impulsif, reaktif, atau bahkan sangat mengontrol di dalam hidupnya.
Advertisement
Pertanyaan dan Jawaban Seputar Kebiasaan Perempuan Dewasa yang Fatherless
Q: Apakah dampak fatherless pada perempuan dewasa bisa disembuhkan sepenuhnya?
A: Luka masa akibat ketiadaan figur ayah merupakan bagian dari sejarah hidup yang tidak dapat diubah, namun pengaruh negatifnya terhadap pola hidup saat ini dapat diatasi. Melalui terapi kognitif-perilaku (CBT) dan konseling profesional, seseorang dapat mengenali pola pikir disfungsional serta membangun hubungan yang jauh lebih sehat.
Q: Apakah semua anak perempuan yang tumbuh fatherless pasti menunjukkan kebiasaan di atas?
A: Tidak selalu. Setiap individu memiliki tingkat ketahanan mental (resilience), dukungan sosial pendukung dari figur pengganti (seperti kakek, paman, atau guru), serta respons psikologis yang berbeda-beda dalam menghadapi situasi masa kecil.
Q: Bagaimana cara terbaik mengatasi rasa takut ditinggalkan akibat trauma fatherless?
A: Langkah awalnya adalah menyadari dan memvalidasi bahwa rasa sakit tersebut nyata adanya tanpa menghakimi diri sendiri. Membangun komunikasi yang jujur dengan pasangan, menetapkan batasan emosional yang sehat, serta mencari bantuan tenaga profesional adalah kunci utama pemulihannya.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9340333/original/035396900_1788502118-cek_fakta_purbaya_dana_hibah.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9324106/original/075794500_1786690114-cek_fakta_-_alat_pertanian_tanam_padi_hingga_traktor.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9339837/original/071003300_1788430175-alat_pertanian_-cek_fakta.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9336533/original/011425200_1788164909-cek_fakta_pppk_kemenag.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9340424/original/061534100_1788505036-Gemini_Generated_Image_oy2jxfoy2jxfoy2j.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9340269/original/061440800_1788497860-ChatGPT_Image_Sep_4__2026__11_41_33_AM.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9340109/original/062100600_1788485740-pexels-silverkblack-36766098.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9339520/original/037006000_1788419746-Suka_memberi.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9339744/original/051243900_1788427080-erik-odiin-DH_IAgZkJP4-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4294725/original/012632900_1674026664-gabriella-clare-marino-VP762w8n4fk-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4700271/original/039189200_1703745176-smartworks-coworking-cW4lLTavU80-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9339319/original/023937500_1788411436-Gemini_Generated_Image_z6wj26z6wj26z6wj.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9329139/original/029002700_1787221925-annoyed-young-brunette-caucasian-woman-holds-phone-holds-hand-front-screen-isolated-purple-background-with-copy-space.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5201148/original/021441000_1745812371-874cf836-3fd9-478a-bb4f-51b35b1af954.jpg)