Media Sosial Membuat Seseorang Merasa Cemas, Waspadai Kebiasaan Doomscrolling

Media sosial membuat seseorang merasa cemas ketika paparan berlebihan terhadap informasi kesehatan, konten sensasional, atau pengalaman buruk orang lain.

Diterbitkan 04 September 2026, 15:35 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Media sosial membuat seseorang merasa cemas ketika informasi yang muncul mulai memengaruhi pikiran dan perasaan. Hal ini dapat terjadi saat seseorang terus melihat berita negatif, konten kesehatan yang mengkhawatirkan, atau pengalaman buruk pengguna lain.

Kebiasaan mencari informasi tentang kondisi tubuh di internet juga dapat memperbesar kekhawatiran. Berbagai informasi mengenai gejala tertentu bisa membuat seseorang menghubungkannya dengan penyakit tanpa memahami konteks medisnya.

Selain itu, konten yang viral belum tentu akurat dan algoritma dapat terus menampilkan unggahan serupa. Karena itu, penting memahami bagaimana media sosial membuat seseorang merasa cemas agar penggunaannya tidak justru memperbesar kekhawatiran.

Berikut Liputan6.com merangkum dari RTE.ie tentang media sosial membuat seseorang merasa cemas, Jumat (4/9/2026).

Media Sosial Bisa Membuat Seseorang Merasa Cemas, Apa Sebabnya?

Media sosial kini menjadi salah satu tempat yang sering digunakan untuk mencari informasi, termasuk mengenai kesehatan. Hanya dengan mengetikkan keluhan atau gejala tertentu, seseorang dapat menemukan berbagai video, unggahan, dan pengalaman pribadi dalam hitungan detik. Namun, terlalu banyak mencari informasi kesehatan di media sosial justru dapat membuat seseorang semakin khawatir, terutama ketika konten yang ditemukan membahas kemungkinan terburuk.

Kebiasaan menggulir konten kesehatan secara terus-menerus, terutama pada malam hari, dapat membuat seseorang masuk ke dalam pola doomscrolling. Awalnya mungkin hanya ingin mencari jawaban atas satu pertanyaan, tetapi kemudian terus melihat konten lain yang serupa. Tanpa disadari, semakin banyak informasi yang dikonsumsi justru dapat membuat pikiran semakin dipenuhi kecemasan.

Media sosial sebenarnya dapat memberikan manfaat ketika digunakan untuk memperoleh informasi kesehatan dari sumber yang tepat. Banyak dokter dan tenaga kesehatan yang membagikan edukasi melalui platform digital sehingga informasi dapat menjangkau lebih banyak orang dengan cepat. Meski demikian, tidak semua konten kesehatan memiliki dasar yang dapat dipercaya.

Mengapa Media Sosial Bisa Membuat Seseorang Merasa Cemas?

1. Informasi Kesehatan Mudah Ditemukan

Kemudahan mencari informasi membuat seseorang dapat langsung mencari penjelasan ketika merasakan keluhan tertentu. Masalahnya, pencarian tersebut dapat berubah menjadi kebiasaan memeriksa informasi secara berulang. Semakin banyak hal yang dibaca atau ditonton, semakin banyak pula kemungkinan kondisi yang ditemukan sehingga kekhawatiran dapat meningkat.

2. Tidak Semua Konten di Media Sosial Akurat

Siapa pun dapat membuat dan membagikan konten di media sosial. Banyaknya jumlah tanda suka, komentar, atau jumlah penonton juga tidak menjamin bahwa informasi tersebut benar. Konten kesehatan yang kurang tepat dapat membuat seseorang salah memahami gejala atau menganggap kondisi tertentu lebih serius daripada keadaan sebenarnya.

3. Algoritma Dapat Memperbanyak Konten yang Serupa

Konten yang menarik perhatian, mengejutkan, atau memicu emosi biasanya lebih mudah mendapatkan interaksi. Ketika seseorang sering menonton video tentang gejala atau penyakit tertentu, platform dapat kembali menampilkan konten dengan topik serupa. Akibatnya, seseorang bisa terus terpapar informasi kesehatan yang sebelumnya membuatnya khawatir.

4. Cerita Buruk Orang Lain Dapat Memicu Kekhawatiran

Ketika mencari informasi mengenai gejala tertentu, seseorang mungkin menemukan banyak cerita pribadi dari pengguna lain. Sebagian di antaranya dapat menceritakan pengalaman yang berat atau menakutkan. Jika sedang merasa cemas, seseorang dapat mulai menghubungkan pengalaman tersebut dengan kondisi dirinya sendiri, meskipun situasinya belum tentu sama.

5. Terjebak dalam Doomscrolling

Satu video dapat membawa seseorang ke video berikutnya, kemudian berlanjut ke unggahan lain dengan topik yang sama. Kebiasaan terus menggulir untuk mencari kepastian dapat membuat seseorang semakin sulit berhenti. Alih-alih mendapatkan ketenangan, pencarian informasi yang tidak ada habisnya justru dapat memperkuat rasa takut.

6. Terlalu Sering Memeriksa Kondisi Tubuh

Kecemasan terhadap kesehatan dapat muncul ketika seseorang terus mencari informasi dan memeriksa tubuh untuk memastikan tidak ada masalah kesehatan. Rasa yakin yang diperoleh dari satu informasi mungkin hanya bertahan sebentar sehingga pencarian dilakukan kembali. Lama-kelamaan, kebiasaan tersebut justru dapat menjadi sumber kecemasan tersendiri.

7. Menganggap Informasi Populer Pasti Benar

Konten yang viral sering kali dianggap lebih dapat dipercaya karena sudah dilihat dan dibagikan oleh banyak orang. Padahal, popularitas tidak sama dengan keakuratan. Informasi kesehatan tetap perlu diperiksa berdasarkan sumber, latar belakang pembuatnya, serta bukti yang mendukung klaim tersebut.

Cara Mengurangi Kecemasan akibat Konten Kesehatan di Media Sosial

1. Batasi Paparan Konten Kesehatan

Jika konten kesehatan membuat Anda semakin khawatir atau kewalahan, cobalah mengurangi waktu melihatnya. Tidak semua informasi perlu langsung dicari atau diikuti. Berikan jeda dari media sosial, terutama ketika Anda menyadari bahwa semakin lama menggulir justru membuat pikiran semakin gelisah.

2. Berhenti Mengikuti Akun yang Memicu Kecemasan

Perhatikan akun yang sering membuat Anda merasa takut atau terus memikirkan kondisi kesehatan. Anda dapat berhenti mengikuti, membisukan, atau membatasi konten dari akun tersebut. Mengatur ulang isi linimasa dapat membantu menciptakan pengalaman menggunakan media sosial yang lebih nyaman.

3. Lebih Kritis terhadap Informasi yang Dilihat

Sebelum mempercayai informasi kesehatan, perhatikan siapa yang menyampaikannya. Apakah pembuat konten memiliki latar belakang yang sesuai? Apakah ada bukti yang mendukung klaim tersebut? Jika konten sekaligus berusaha menjual suplemen, produk, atau layanan tertentu, sebaiknya pertimbangkan informasinya dengan lebih kritis.

4. Jangan Menyamakan Pengalaman Orang Lain dengan Kondisi Diri Sendiri

Pengalaman kesehatan seseorang bersifat individual dan belum tentu berlaku untuk orang lain. Jika seseorang menceritakan gejala yang kemudian berujung pada kondisi serius, bukan berarti gejala yang sama pasti menunjukkan kondisi tersebut pada diri Anda. Hindari membuat kesimpulan hanya berdasarkan cerita yang ditemukan di media sosial.

5. Waspadai Klaim yang Terlalu Bagus untuk Menjadi Kenyataan

Informasi mengenai obat, suplemen, atau metode tertentu yang diklaim dapat menyembuhkan berbagai masalah kesehatan dalam waktu singkat perlu diperiksa dengan hati-hati. Klaim kesehatan yang luar biasa seharusnya memiliki bukti dan penelitian yang dapat diverifikasi, bukan hanya testimoni atau video singkat di media sosial.

6. Periksa Informasi dari Sumber Tepercaya

Jika ingin mengetahui lebih jauh mengenai gejala atau kondisi tertentu, cari informasi dari situs resmi lembaga kesehatan, rumah sakit, atau sumber medis yang kredibel. Sumber tersebut umumnya memiliki proses yang lebih ketat dalam menyusun dan memeriksa informasi dibandingkan unggahan media sosial biasa.

7. Konsultasikan Kekhawatiran kepada Tenaga Kesehatan

Jika kekhawatiran mengenai kesehatan terus muncul atau mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, jangan hanya mengandalkan pencarian informasi di media sosial. Konsultasikan keluhan kepada dokter atau tenaga kesehatan yang dapat menilai kondisi berdasarkan gejala dan keadaan Anda secara langsung.

Jika mengalami gejala yang terus berlangsung, Anda juga dapat mencatat kapan gejala muncul, apa yang dirasakan, serta hal lain yang mungkin berkaitan. Catatan tersebut dapat membantu saat berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.

Pada akhirnya, media sosial dapat menjadi sarana edukasi kesehatan yang bermanfaat jika digunakan secara bijak. Namun, terlalu sering mencari informasi atau melihat konten sensasional dapat memperbesar kekhawatiran. Karena itu, batasi paparan, periksa kebenaran informasi, dan cari bantuan profesional jika kecemasan mulai sulit dikendalikan.

Pertanyaan Seputar Media Sosial Membuat Seseorang Merasa Cemas

Apakah media sosial bisa membuat seseorang merasa cemas?

Bisa. Paparan berlebihan terhadap informasi negatif, konten kesehatan yang mengkhawatirkan, atau pengalaman buruk orang lain dapat membuat seseorang semakin takut dan gelisah.

Mengapa mencari gejala penyakit di media sosial bisa memperburuk kecemasan?

Pencarian berulang dapat membuat seseorang menemukan semakin banyak kemungkinan penyakit yang berkaitan dengan gejala tersebut. Hal ini dapat mendorong kekhawatiran dan membuat seseorang terus mencari informasi untuk mendapatkan kepastian.

Apakah konten kesehatan yang viral selalu dapat dipercaya?

Tidak. Jumlah penonton, tanda suka, atau bagikan tidak menjamin informasi tersebut akurat. Sebaiknya periksa sumber dan bandingkan dengan informasi dari lembaga kesehatan atau tenaga medis tepercaya.

Bagaimana cara mengurangi kecemasan akibat konten kesehatan di media sosial?

Batasi waktu melihat konten kesehatan, berhenti mengikuti akun yang memicu kekhawatiran, dan hindari kebiasaan mencari informasi secara terus-menerus. Jika menemukan informasi yang meresahkan, periksa kembali melalui sumber yang kredibel.

Kapan sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga kesehatan?

Jika kekhawatiran mengenai kesehatan terus muncul, sulit dikendalikan, atau mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, sebaiknya konsultasikan kondisi tersebut kepada dokter atau tenaga kesehatan.