Twitter Comeback, Siapa Sosok di Baliknya?

Platform baru bernama Twitter muncul membawa identitas merek besar di media sosial. Siapa sosok di baliknya?

Diterbitkan 02 September 2026, 14:19 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Twitter yang dikenal dengan logo burung birunya kembali muncul. Namun, hadir melalui layanan baru dan bukan di bawah Elon Musk.

Dikutip dari Bizcommunity, Rabu (2/9/2026), mantan pengacara Twitter, Stephen Coates, berada di balik munculnya Twitter.now melalui startup Operation Bluebird. Twitter.now mulai diperkenalkan pada akhir Agustus 2026.

Twitter.now masih dalam tahap pengujian awal. Layanan itu membawa kembali nama Twitter, logo burung biru, hingga sejumlah identitas yang sebelumnya melekat pada platform tersebut.

Coates pernah menjadi pengacara pertama Twitter yang menangani persoalan merek dagang. Ia kemudian menduduki sejumlah posisi hukum senior di perusahaan sebelum mengembangkan proyek barunya.

Kemunculan kembali Twitter berkaitan dengan akuisisi perusahaan oleh Elon Musk pada 2022. Setahun kemudian, Twitter berganti nama menjadi X dan berbagai elemen khasnya mulai ditinggalkan.

Operation Bluebird menilai perubahan identitas mereka membuat X meninggalkan sejumlah hak atas merek dagang seperti “Twitter” dan tweet. Pandangan ini kemudian berkembang menjadi persoalan hukum antara kedua pihak.

Pada Desember 2025, Operation Bluebird mengajukan permohonan kepada US Patent and Trademark Office untuk membatalkan beberapa merek dagang Twitter dan tweet milik X. Startup tersebut juga mengajukan permohonan atas nama merek Twitter.

Twitter.now Tawarkan AI Pengelola Konten

Selain menghidupkan kembali nama Twitter, layanan baru itu menawarkan cara berbeda untuk mengatur dan menyaring konten.

Twitter.now mengembangkan sistem AI bernama VERA untuk memeriksa unggahan, melakukan kontrol terhadap klaim, memberikan konteks dan sumber, serta menghasilkan trust score.

Pengguna nantinya bisa menentukan sendiri apakah mereka ingin melihat lebih banyak atau lebih sedikit konten yang dinilai menyesatkan atau berbahaya. Dengan cara ini, pengalaman setiap orang bisa berbeda sesuai pilihan masing-masing.

Coates membedakan antara kebebasan untuk berbicara dan kebebasan untuk menjangkau banyak orang. Artinya, pengguna tetap bisa mengunggah konten, tetapi tidak semua unggahan harus disebarkan kepada banyak pengguna oleh algoritma.

Sengketa Masih Berlangsung

Di sisi lain, X telah mengambil langkah hukum untuk mencegah Twitter.now menggunakan identitas Twitter. Perusahaan milik Elon Musk itu menuduh layanan baru tersebut melakukan pelanggaran merek dagang dan hak cipta.

Sengketa hukum antara kedua pihak belum memiliki keputusan akhir dari hakim. Dalam proses sebelumnya, X dinilai belum memberikan bukti yang cukup untuk menunjukkan kepemilikan atas sejumlah merek yang dipersoalkan, termasuk logo burung dan istilah tweet.

Twitter.now kini mencoba memanfaatkan kembali nama yang pernah menjadi salah satu identitas terbesar di media sosial. Namun, langkah mereka masih bergantung pada perkembangan sengketa hukum dengan X.