5 Makanan yang Bisa Bikin Badmood, Batasi Konsumsinya agar Suasana Hati Tetap Stabil

Makanan yang bisa bikin badmood umumnya berkaitan dengan pola konsumsi berlebihan, terutama makanan tinggi gula, kafein, garam, lemak tertentu, serta alkohol.

Diterbitkan 02 September 2026, 14:20 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Memilih menu harian bukan hanya berkaitan soal rasa lapar atau selera makan. Kandungan nutrisi, jumlah asupan, waktu konsumsi, hingga kebiasaan tertentu dapat memengaruhi energi tubuh dan kondisi emosional. Beberapa jenis hidangan bahkan masuk dalam daftar makanan yang bisa bikin badmood, terutama saat dikonsumsi terlalu sering atau melebihi kebutuhan tubuh.

Perubahan suasana hati terkadang muncul setelah seseorang menikmati makanan manis, minuman berkafein, camilan asin, hidangan tinggi lemak, maupun produk olahan tertentu. Reaksi tiap individu tentu berbeda, sebab sensitivitas tubuh terhadap komposisi pangan tidak selalu sama. Mengenali makanan yang bisa bikin badmood menjadi langkah awal, untuk membentuk pola makan lebih teratur.

Menjaga suasana hati tetap positif tidak cukup hanya mengandalkan makanan tertentu. Tubuh juga membutuhkan istirahat cukup, aktivitas fisik, hidrasi memadai dan pola konsumsi seimbang. Mengetahui daftar makanan yang bisa bikin badmood membantu pembaca mengenali kebiasaan makan tertentu, kemudian menyesuaikannya sesuai kebutuhan serta respons tubuh masing-masing.

Lantas, apa saja makanan yang bisa bikin badmood? Berikut ulasan lengkap yang Liputan6.com rangkum dari berbagai sumber, Rabu (2/9/2026).

1. Makanan dan Minuman Tinggi Gula

Makanan dan minuman tinggi gula menjadi salah satu jenis asupan perlu diperhatikan ketika membahas makanan yang bisa bikin badmood. Permen, kue manis, donat, cokelat manis, minuman bersoda, boba, dessert, minuman kemasan, hingga berbagai camilan manis dapat mengandung gula tambahan cukup tinggi. Konsumsi dalam jumlah besar dapat membuat kadar gula darah meningkat relatif cepat, terutama bila makanan tersebut rendah serat dan protein.

Setelah kadar gula darah mengalami peningkatan, tubuh akan berusaha mengaturnya kembali melalui berbagai mekanisme metabolisme. Pada sebagian orang, perubahan tersebut dapat diikuti rasa lelah, lapar lebih cepat, sulit berkonsentrasi, atau tubuh terasa kurang bertenaga. Sensasi tersebut terkadang ikut memengaruhi kondisi emosional sehingga seseorang menjadi lebih mudah kesal, sensitif, atau merasa suasana hati menurun.

Kebiasaan mengonsumsi makanan manis secara berlebihan juga dapat membuat pola makan harian menjadi kurang seimbang. Saat camilan tinggi gula terlalu sering menggantikan makanan bernutrisi, tubuh berpotensi memperoleh lebih sedikit serat, vitamin, mineral dan protein. Padahal, berbagai zat gizi tersebut dibutuhkan untuk mendukung fungsi tubuh dan otak secara optimal.

 

2. Kopi dan Minuman Berkafein Berlebihan

Kafein dalam jumlah sesuai toleransi tubuh dapat membantu meningkatkan kewaspadaan dan membuat seseorang merasa lebih siap menjalani aktivitas. Kopi, teh, minuman energi, cokelat, serta beberapa produk minuman kemasan menjadi sumber kafein populer. Bagi banyak orang, secangkir kopi pada pagi hari bahkan sudah menjadi bagian dari rutinitas sebelum bekerja atau beraktivitas.

Meski dapat memberikan efek lebih segar, konsumsi kafein secara berlebihan berpotensi menimbulkan berbagai reaksi kurang nyaman. Sebagian orang dapat mengalami gelisah, tangan gemetar, jantung berdebar, sulit merasa rileks, sakit kepala, atau lebih mudah merasa tegang setelah mengonsumsi kafein dalam jumlah tinggi.

Sensitivitas terhadap kafein juga berbeda pada setiap individu. Ada orang mampu minum kopi beberapa kali sehari tanpa keluhan berarti, sementara individu lain dapat merasa tidak nyaman setelah mengonsumsi satu cangkir. Kondisi kesehatan, kebiasaan konsumsi, ukuran sajian, jenis minuman, serta waktu minum dapat memengaruhi respons tubuh.

Kafein juga perlu diperhatikan dari sisi kualitas tidur. Mengonsumsi kopi atau minuman berkafein menjelang malam dapat membuat sebagian orang lebih sulit tertidur atau mengurangi kualitas istirahat. Ketika tidur terganggu, tubuh dapat terasa lebih lelah pada keesokan hari. Konsentrasi menurun, energi berkurang, dan emosi terkadang menjadi lebih sulit dikendalikan.

3. Makanan Cepat Saji dan Makanan Tinggi Lemak

Burger, kentang goreng, ayam goreng cepat saji, pizza, nugget, sosis, makanan beku tertentu, serta berbagai produk ultra-proses dapat memiliki kombinasi kalori, garam, lemak, dan bahan tambahan cukup tinggi. Jenis makanan tersebut memang praktis dan mudah ditemukan, sehingga sering menjadi pilihan ketika seseorang memiliki waktu terbatas untuk menyiapkan makanan.

Konsumsi sesekali bukan berarti makanan tersebut langsung menyebabkan suasana hati memburuk. Dampak terhadap tubuh lebih tepat dilihat dari pola konsumsi secara keseluruhan. Jika makanan tinggi lemak jenuh atau lemak trans terlalu sering menjadi bagian utama menu harian, kualitas pola makan dapat menjadi kurang optimal.

Pola makan terlalu sering mengandalkan makanan cepat saji juga berpotensi membuat asupan serat, vitamin, mineral, dan zat gizi penting lainnya menjadi lebih rendah. Tubuh tetap membutuhkan beragam nutrisi untuk mendukung metabolisme, fungsi otak, sistem saraf, serta berbagai proses biologis. Kualitas makanan harian akhirnya memiliki peran penting dalam menjaga kondisi tubuh tetap prima.

Jika ingin menikmati makanan cepat saji, perhatikan porsi dan frekuensinya. Lengkapi menu harian memakai sayuran, buah, sumber protein, biji-bijian, serta sumber lemak sehat. Cara tersebut membantu menjaga keseimbangan nutrisi tanpa harus menghilangkan seluruh makanan favorit dari pola makan sehari-hari.

4. Makanan Asin dan Camilan Tinggi Natrium

Keripik kentang, kerupuk, mi instan, makanan ringan kemasan, daging olahan, makanan kaleng, makanan beku tertentu, hingga beberapa menu siap saji dapat memiliki kandungan natrium cukup tinggi. Rasa gurih membuat makanan semacam ini terasa nikmat dan mudah dikonsumsi dalam jumlah banyak tanpa disadari.

Asupan natrium berlebihan tidak secara langsung berarti seseorang pasti mengalami bad mood. Meski begitu, konsumsi garam terlalu tinggi dapat meningkatkan rasa haus dan membuat tubuh terasa kurang nyaman. Dalam jangka panjang, asupan natrium terlalu tinggi juga berkaitan dengan peningkatan risiko tekanan darah tinggi pada sebagian orang.

Camilan asin memiliki tantangan tersendiri sebab ukurannya sering terlihat kecil. Seseorang mungkin merasa hanya makan sedikit, padahal beberapa porsi dapat habis dalam waktu singkat ketika sedang menonton televisi, bekerja, bermain gim, atau bersantai. Jika kebiasaan tersebut terjadi berulang, jumlah natrium dan kalori harian dapat meningkat tanpa terasa.

Sebagai alternatif, pilih camilan seperti buah segar, kacang tanpa banyak tambahan garam, yoghurt rendah gula, telur rebus, edamame, atau makanan ringan berbahan utuh. Jika tetap ingin menikmati keripik maupun camilan asin, ambil porsi kecil ke dalam wadah terlebih dahulu daripada makan langsung dari kemasan. Cara sederhana ini dapat membantu mengontrol jumlah konsumsi.

5. Alkohol

Alkohol dapat memengaruhi sistem saraf pusat dan aktivitas berbagai zat kimia di otak. Pada awal konsumsi, seseorang mungkin merasa lebih rileks, santai, atau lebih mudah bersosialisasi. Efek tersebut bersifat sementara dan tidak selalu menggambarkan dampak alkohol setelah tubuh mulai memprosesnya.

Setelah efek awal berkurang, kondisi emosional pada sebagian orang dapat mengalami perubahan. Alkohol dapat memengaruhi kemampuan otak dalam mengatur emosi, pengambilan keputusan, dan kontrol diri. Akibatnya, seseorang mungkin menjadi lebih impulsif, sensitif, mudah tersinggung, atau mengalami perubahan suasana hati.

Konsumsi alkohol juga dapat mengganggu kualitas tidur. Seseorang mungkin merasa lebih cepat mengantuk setelah minum alkohol, tetapi tidur tidak selalu menjadi lebih berkualitas. Gangguan terhadap pola tidur dapat membuat tubuh kurang memperoleh pemulihan optimal sepanjang malam.

Kurang tidur kemudian dapat berpengaruh terhadap energi, konsentrasi, dan kemampuan mengelola emosi pada hari berikutnya. Pada sebagian orang, kondisi tersebut dapat terasa sebagai mudah marah, murung, lelah, atau lebih sensitif terhadap masalah kecil. Efek ini dapat semakin terasa jika konsumsi alkohol berlangsung terlalu sering atau jumlahnya cukup banyak.

 

Mengapa Makanan Bisa Memengaruhi Suasana Hati?

Makanan tidak hanya berfungsi sebagai sumber energi bagi tubuh, tetapi juga menyediakan berbagai zat gizi penting bagi otak. Karbohidrat, protein, lemak sehat, vitamin, mineral, dan cairan berperan dalam mendukung kerja sistem saraf. Saat kebutuhan nutrisi terpenuhi secara seimbang, tubuh memiliki bahan baku cukup untuk menjalankan berbagai proses biologis berkaitan dengan energi, konsentrasi, dan pengaturan emosi.

Kadar gula darah juga dapat memengaruhi kondisi tubuh setelah seseorang makan. Hidangan tinggi gula atau karbohidrat olahan dapat membuat gula darah meningkat relatif cepat, kemudian mengalami penurunan. Pada sebagian orang, perubahan tersebut dapat disertai rasa lelah, lapar, sulit fokus, atau mudah merasa kesal. Respons setiap individu berbeda, sehingga efek makanan tidak selalu terasa sama pada semua orang.

Kafein menjadi faktor lain perlu diperhatikan. Kopi, teh, minuman energi, dan beberapa produk lain mengandung kafein dalam kadar berbeda. Jumlah kafein cukup dapat membantu meningkatkan kewaspadaan, tetapi konsumsi berlebihan berpotensi menimbulkan rasa gelisah, jantung berdebar, atau kesulitan tidur. Gangguan tidur kemudian dapat membuat tubuh terasa lelah dan emosi lebih sulit dikendalikan pada hari berikutnya.

Jadi, makanan yang bisa bikin badmood tidak selalu berarti satu jenis makanan pasti menyebabkan suasana hati buruk. Efeknya dapat dipengaruhi jumlah konsumsi, kondisi tubuh, sensitivitas individu, kualitas tidur, tingkat stres, aktivitas fisik, dan pola makan secara keseluruhan. Menjaga menu tetap beragam, bernutrisi, cukup cairan, dan tidak berlebihan menjadi langkah lebih masuk akal untuk membantu mempertahankan energi serta suasana hati tetap stabil.

Pertanyaan dan Jawaban Seputar Makanan yang Bisa Bikin Badmood

Apa saja makanan yang bisa bikin badmood?

Beberapa makanan dan minuman berpotensi memengaruhi suasana hati jika dikonsumsi berlebihan, seperti makanan tinggi gula, makanan ultra-proses, minuman berkafein, makanan sangat asin, makanan tinggi lemak tertentu, alkohol, serta minuman energi.

Apakah makanan manis bisa bikin badmood?

Makanan manis dapat memengaruhi suasana hati pada sebagian orang, terutama saat dikonsumsi dalam jumlah banyak. Perubahan kadar gula darah setelah konsumsi makanan tinggi gula dapat membuat energi terasa naik lalu menurun sehingga tubuh terasa lelah atau kurang nyaman.

Mengapa makanan tinggi gula dikaitkan dengan perubahan mood?

Asupan gula dalam jumlah tinggi dapat membuat kadar gula darah meningkat cepat. Setelah itu, kadar tersebut dapat menurun kembali. Perubahan energi ini pada sebagian orang dapat disertai rasa lelah, sulit berkonsentrasi, lapar, atau mudah merasa kesal.

Apakah cokelat termasuk makanan yang bisa bikin badmood?

Tidak semua cokelat memberikan efek sama. Cokelat tinggi gula dapat menjadi kurang ideal jika dikonsumsi berlebihan, sedangkan cokelat hitam dalam porsi wajar masih dapat masuk ke pola makan seimbang.