Liputan6.com, Jakarta - Surah ar rahman ayat 33 beserta artinya menjadi landasan untuk memahami (tadabur) pesan teologis sekaligus isyarat ilmiah tentang alam semesta yang mengagumkan. Ayat ini berbicara langsung kepada dua golongan makhluk berakal, jin dan manusia, dengan sebuah tantangan yang bersifat metaforis sekaligus nyata, yaitu menembus penjuru langit dan bumi.
Dalam konteks kehidupan modern, ayat ini sering dikaitkan dengan pencapaian manusia di bidang eksplorasi angkasa dan penguasaan teknologi.
Surah Ar-Rahman merupakan surat ke-55 dalam Al-Qur'an yang terdiri dari 78 ayat dan termasuk golongan surat Makkiyah, meskipun sebagian ulama berpendapat bahwa beberapa ayatnya diturunkan di Madinah. Surah ini adalah satu-satunya surat dalam Al-Qur'an yang dinamai dengan nama atau sifat Allah, yakni Ar-Rahman yang berarti 'Yang Maha Pemurah'.
Advertisement
Sesuai dengan namanya, sebagian besar isi surat ini menerangkan tentang sifat kemurahan Allah kepada hamba-hamba-Nya serta kelimpahan nikmat yang terbentang di alam raya.
Surah Ar-Rahman juga dikenal dengan sebutan 'Aruusul Qur'an atau "Pengantin Al-Qur'an" sebagaimana yang disampaikan oleh Baihaqi dari Ali bin Abi Thalib RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Tiap-tiap sesuatu memiliki pengantin, dan pengantin Al-Qur'an adalah surah Ar-Rahman".
Bacaan Surah Ar-Rahman Ayat 33
Teks Arab: يَٰمَعْشَرَ ٱلْجِنِّ وَٱلْإِنسِ إِنِ ٱسْتَطَعْتُمْ أَن تَنفُذُوا۟ مِنْ أَقْطَارِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ فَٱنفُذُوا۟ ۚ لَا تَنفُذُونَ إِلَّا بِسُلْطَٰنٍۢ
Latin: Yā ma'syaral-jinni wal-insi inistaṭa'tum an tanfużū min aqṭāris-samāwāti wal-arḍi fanfużū, lā tanfużūna illā bisulṭān
Artinya: "Wahai segenap jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka tembuslah. Kamu tidak akan mampu menembusnya, kecuali dengan kekuatan (dari Allah)."
Tafsir Surah Ar-Rahman Ayat 33
Para ulama tafsir memberikan penjelasan yang beragam namun saling melengkapi mengenai ayat ini.
Tafsir Al-Muyassar dari Kementerian Agama Saudi Arabia menjelaskan bahwa wahai jin dan manusia, bila kalian mampu menembus perintah Allah dan hukum-Nya dengan berlari dari ujung langit dan bumi, maka lakukanlah.
Kalian tidak sanggup melakukannya kecuali dengan kekuatan dan hujjah serta izin dari Allah. Mana mungkin kalian lakukan, sedangkan kalian sendiri tidak memiliki kuasa untuk mendatangkan manfaat dan mudarat untuk diri kalian sendiri?
Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Qur'an al-Azhim memberikan penjelasan yang sangat tegas. Beliau menyatakan bahwa jin dan manusia tidak akan dapat melarikan diri dari perintah Allah dan takdir-Nya, bahkan Dia meliputi mereka dan mereka tidak akan mampu melepaskan diri dari hukum-Nya, tidak pula membatalkan hukum-Nya terhadap mereka, ke mana pun mereka pergi selalu diliput.
Beliau juga menegaskan bahwa tidak ada seorang pun yang dapat meloloskan diri kecuali dengan kekuasaan-Nya. Konteks ayat ini menceritakan keadaan di Yaumul Mahsyar atau hari manusia dihimpunkan, sedangkan semua malaikat mengawasi semua makhluk sebanyak tujuh saf dari semua penjuru.
Imam Al-Bukhari dalam Shahih Bukhari mengatakan bahwa kalimat "Kami akan menghisab kalian, tiada sesuatu pun yang menyibukkan-Nya dari sesuatu yang lain", nerupakan sebuah pernyataan yang menegaskan bahwa Allah tidak pernah sibuk atau lalai dalam mengurus makhluk-Nya.
Ali ibnu Abu Talhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: "Kami akan memperhatikan sepenuhnya kepadamu, wahai manusia dan jin" (Ar-Rahman: 31), bahwa ini merupakan ancaman dari Allah kepada hamba-hamba-Nya.
Adh-Dhahhak juga mengatakan bahwa ini mengandung ancaman, sementara Qatadah mengatakan bahwa telah dekat masa kesudahan Allah dari makhluk-Nya.
Prof. Dr. Quraish Shihab dalam tafsirnya Al-Misbah menegaskan bahwa surah Ar-Rahman ayat 33 ini menceritakan tentang hari kemudian (hari kiamat). Beliau juga menyoroti bahwa ayat ini mendorong upaya manusia untuk memajukan teknologi di semua bidangnya, termasuk matematika dan sains.
Makna Mendalam Surah Ar-Rahman Ayat 33
Secara bahasa, ayat ini mengandung beberapa kata kunci yang perlu dipahami. Ma'syar berarti kumpulan atau golongan, merujuk pada seluruh komunitas jin dan manusia tanpa kecuali. Tanfudzu berarti menembus, melintasi, atau menerobos, sementara aqtar adalah bentuk jamak dari qutr yang berarti penjuru, sisi, atau wilayah. Adapun sulthan berarti kekuatan, otoritas, atau kekuasaan yang sah.
Para mufassir memberikan penafsiran yang beragam mengenai makna mendalam ayat ini. Pertama, ayat ini berkaitan dengan ketidakmampuan manusia lari dari takdir Allah dan lari dari kekuasaan-Nya. Sebagaimana Ibnu Katsir menjelaskan, "Kalian tidak akan dapat melarikan diri dari perintah Allah dan takdir-Nya, bahkan Dia meliputi kalian dan kalian tidak akan mampu melepaskan diri dari hukum-Nya".
Kedua, ayat ini berkaitan dengan keadaan pada hari Kiamat nanti, terutama di Yaumul Mahsyar. Pada hari itu, jin dan manusia dikumpulkan untuk mempertanggungjawabkan seluruh amal perbuatannya, dan tidak ada satu pun yang mampu melarikan diri dari keadilan Ilahi.
Ketiga, sebagian ulama menafsirkan ayat ini sebagai isyarat tentang pentingnya ilmu pengetahuan. Ibnu Abbas—sahabat Nabi yang dikenal sebagai turjuman al-Qur'an (penerjemah Al-Qur'an)—memberikan penafsiran yang unik: "Jika kalian mampu mengilmui semua yang ada di langit dan di bumi maka ilmui-lah. Kalian tidak akan bisa kecuali dengan sulthan yaitu bayyinah (ilmu) dari Allah Ta'ala." Penafsiran ini membuka pintu bagi pemahaman bahwa sulthan dapat dimaknai sebagai ilmu pengetahuan yang dianugerahkan Allah.
Keempat, ayat ini juga dapat dipahami sebagai isyarat tentang kemampuan manusia menjelajahi luar angkasa dengan izin dan kekuatan dari Allah. Para ilmuwan telah dapat mengamati galaksi-galaksi dengan menggunakan observatorium astronomi yang beragam, ada yang terpasang di puncak gunung, ada yang bergerak di orbit tertentu di luar angkasa.
Asbabun Nuzul Surah Ar-Rahman Ayat 33
Secara historis, surah Ar-Rahman termasuk dalam golongan surah Makkiyah, yang berarti diturunkan sebelum hijrah Nabi Muhammad SAW ke Madinah. Namun terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama mengenai statusnya. Jumhur sahabat dan tabi'in berpendapat bahwa surah ini diturunkan di Makkah, sementara sebagian riwayat dari Ibnu Abbas menyatakan bahwa surah ini diturunkan di Madinah.
Mengenai asbabun nuzul khusus ayat 33, para ulama menyebutkan bahwa ayat ini turun sebagai respons terhadap pertanyaan orang-orang kafir yang menanyakan siapakah Ar-Rahman itu. Dalam konteks ini, Allah menegaskan identitas dan kekuasaan-Nya sebagai Ar-Rahman (Yang Maha Pemurah) yang mencakup seluruh alam, termasuk langit dan bumi yang tidak dapat dijangkau oleh kekuatan makhluk mana pun.
Pendapat lain menyebutkan bahwa ayat ini diturunkan untuk menunjukkan ketidakmampuan manusia menghindar dari takdir Allah. Ada pula yang mengaitkannya dengan kemampuan manusia menjelajah ruang angkasa, meskipun penafsiran ini lebih bersifat kontemporer.
Yang menarik, para ulama juga menekankan bahwa ayat ini turun dalam konteks yang lebih luas—yaitu setelah Allah menyebutkan tentang perhitungan amal (al-hisab) bagi jin dan manusia. Dengan demikian, ayat 33 hadir sebagai kelanjutan logis dari peringatan sebelumnya: jika kalian merasa mampu lolos dari perhitungan-Ku, cobalah tembus langit dan bumi. Namun kalian pasti tidak akan mampu.
Hikmah Surah Ar-Rahman Ayat 33
1. Pertama, pengakuan atas keterbatasan manusia dan jin
Ayat ini mengajarkan bahwa meskipun manusia dan jin telah mencapai kemajuan peradaban yang luar biasa—termasuk eksplorasi angkasa dan penguasaan teknologi—mereka tetaplah makhluk yang terbatas. Surat Ar-Rahman ayat 33 mengajarkan manusia untuk rendah hati dan menyadari bahwa apa pun yang mereka capai sejatinya adalah karunia dari Allah semata. Tidak ada satu pun makhluk yang dapat melampaui batas-batas yang telah ditentukan Allah, baik secara fisik maupun metafisik.
2. Penguatan tauhid dan keesaan Allah
Dengan menyatakan bahwa tidak ada yang mampu menembus langit dan bumi kecuali dengan kekuatan dari Allah, ayat ini menegaskan bahwa segala kekuasaan di alam semesta ini berada di tangan Allah semata. Ini adalah fondasi utama akidah Islam yang mengajarkan bahwa tidak ada kekuatan dan daya kecuali dari Allah.
3. Peringatan tentang hari hisab
Ayat ini menjadi pengingat bahwa tidak ada seorang pun yang dapat melarikan diri dari pertanggungjawaban di hadapan Allah. Sebagaimana ditegaskan dalam tafsir Ibnu Katsir, ayat ini menunjukkan bahwa jin dan manusia tidak akan dapat melarikan diri dari perintah Allah dan takdir-Nya. Ini adalah peringatan keras bagi mereka yang merasa bisa lolos dari keadilan Ilahi.
4. Dorongan untuk merenungkan kebesaran ciptaan Allah
Dengan menyebut langit dan bumi sebagai "penjuru" yang harus ditembus, ayat ini mengajak manusia untuk merenungkan betapa luas dan kompleksnya alam semesta ini. Semakin manusia menyelidiki alam, semakin ia menyadari kebesaran Sang Pencipta dan betapa kecilnya dirinya di hadapan-Nya.
5. Motivasi untuk menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi
Ayat ini secara tidak langsung menjadi pendorong bagi umat manusia untuk terus menggali ilmu pengetahuan dan teknologi. Ungkapan "bisulthan" (dengan kekuatan) mengisyaratkan bahwa untuk menembus langit dan bumi diperlukan ilmu, kekuatan, dan otoritas—yang semuanya pada hakikatnya adalah karunia dari Allah. Hal tersebut menunjukkan bahwa dengan ilmu, manusia dapat menembus ruang angkasa. Ini sejalan dengan semangat Al-Qur'an yang mendorong manusia untuk berpikir dan meneliti alam semesta sebagai tanda-tanda kebesaran Allah.
Pertanyaan Surat Ar Rahman
1. Siapa yang diajak bicara dalam Surah Ar-Rahman ayat 33?
Ayat ini berbicara kepada dua golongan makhluk berakal, yaitu jin (al-jinn) dan manusia (al-ins). Dalam bahasa Arab, keduanya disebut sebagai ats-tsaqalain (dua golongan makhluk berat) yang memiliki tanggung jawab moral di hadapan Allah. Surat Ar-Rahman ditujukan kepada jin dan manusia yang mempunyai kekuatan tidak seberapa di mata Allah SWT.
2. Apa makna kata "sulthan" dalam Surah Ar-Rahman ayat 33?
Kata sulthan dalam ayat ini memiliki makna yang beragam. Secara bahasa berarti kekuatan, otoritas, atau kekuasaan yang sah. Sebagian ahli tafsir menafsirkannya sebagai ilmu pengetahuan, yang menunjukkan bahwa dengan ilmu manusia dapat menembus ruang angkasa. Ada pula yang mengartikannya dengan kekuatan spiritual atau kekuasaan yang dikaruniai oleh Allah.
3. Bagaimana pandangan Ibnu Katsir tentang Surah Ar-Rahman ayat 33?
Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Qur'an al-Azhim menafsirkan ayat ini sebagai pernyataan bahwa jin dan manusia tidak akan dapat melarikan diri dari perintah Allah dan takdir-Nya. Beliau menegaskan bahwa Allah meliputi mereka dan mereka tidak akan mampu melepaskan diri dari hukum-Nya, tidak pula membatalkan hukum-Nya terhadap mereka, ke mana pun mereka pergi selalu diliput.
4. Apakah Surah Ar-Rahman ayat 33 berkaitan dengan eksplorasi luar angkasa modern?
Ayat ini sering dikaitkan dengan pencapaian manusia dalam eksplorasi angkasa. Pakar Tafsir Al-Qur'an menjelaskan bahwa ayat tersebut merupakan ketegasan Allah yang menunjukkan kekuasaan-Nya di langit dan bumi. Maksudnya, melalui ayat tersebut Allah mengajak manusia dan jin untuk menembus langit. Ada yang menyatakan bahwa ayat 33 surah Ar-Rahman telah mengisyaratkan kemampuan manusia menjelajahi angkasa luar. Namun makna utamanya tetap pada aspek teologis, yaitu ketidakmampuan makhluk lolos dari kekuasaan Allah secara hakiki.
5. Apakah Surah Ar-Rahman ayat 33 melarang manusia pergi ke luar angkasa?
Tidak. Ayat ini justru menjadi isyarat ilmiah tentang kemampuan manusia menembus langit dengan izin dan kekuatan dari Allah. Perhatikan bahwa yang dimaksud ayat adalah tidak bisa menembus penjuru langit secara hakiki—untuk melampaui kekuasaan dan ketetapan Allah—bukan artinya tidak mampu menembus atmosfer bumi untuk keluar angkasa. Ayat ini memotivasi manusia untuk mengembangkan ilmu dan teknologi agar bisa menjelajah ruang angkasa dan seterusnya.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9329639/original/025640700_1787286446-purbaya.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9340558/original/047338600_1788510282-cek_fakta_-_BNI.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9340333/original/035396900_1788502118-cek_fakta_purbaya_dana_hibah.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9324106/original/075794500_1786690114-cek_fakta_-_alat_pertanian_tanam_padi_hingga_traktor.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5423024/original/045605200_1764051067-Membaca_ayat_suci_al_quran__pexels_.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9341112/original/017406000_1788581558-IMG-20260905-WA0008_1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5755785/original/001679200_1778657765-andri-helmansyah-dzX6fui33UA-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9339103/original/028102200_1788399789-Java1.jpg)