Anak Krakatau Erupsi, BNPB Minta Warga Banten-Lampung Tak Panik Isu Tsunami

Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau di Lampung Selatan masih berlangsung hingga Sabtu (5/9/2026) pagi.

Diterbitkan 05 September 2026, 09:58 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Gunung Anak Krakatau terus erupsi dengan status Siaga (Level III) sejak Jumat malam.
  • Masyarakat dilarang mendekat dalam radius 3 km dan diminta tidak panik isu tsunami.
  • PVMBG menyatakan pertumbuhan gunung belum berpotensi tsunami, namun pemantauan intensif berlanjut.

Liputan6.com, Jakarta - Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau di Kabupaten Lampung Selatan, Lampung, masih berlangsung hingga Sabtu (5/9/2026) pagi. Erupsi menerus yang dimulai sejak Jumat (4/9/2026) pukul 23.07 WIB disertai suara dentuman dan gemuruh yang terdengar dari Pos Pengamatan Gunungapi Anak Krakatau di Pasauran.

Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan meminta masyarakat tidak mendekati kawasan Gunung Anak Krakatau.

Berton mengatakan keselamatan masyarakat menjadi prioritas dalam menghadapi aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau. Pemerintah daerah bersama unsur terkait diminta memastikan tidak ada masyarakat maupun wisatawan yang berada dalam radius bahaya.

"Masyarakat, khususnya yang berada di wilayah pesisir Banten dan Lampung, tidak perlu panik terhadap isu tsunami," ujar Berton, Sabtu.

Kekhawatiran tersebut tidak lepas dari pengalaman tsunami pada 22 Desember 2018 yang berkaitan dengan aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Dia meminta pengawasan dan patroli di kawasan tersebut juga perlu terus diperkuat untuk mencegah masyarakat memasuki zona terlarang, termasuk hanya untuk melihat maupun merekam aktivitas erupsi.

Masyarakat juga diminta meningkatkan kewaspadaan dan mematuhi setiap arahan petugas. BNPB mengingatkan agar masyarakat tidak menyebarluaskan informasi yang belum terverifikasi, termasuk mengenai potensi tsunami, karena dapat menimbulkan kepanikan.

Kondisi Anak Krakatau

Berdasarkan hasil evaluasi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), pertumbuhan tubuh Gunung Anak Krakatau yang terbentuk kembali setelah erupsi 22 Desember 2018 masih relatif kecil. Kondisi tersebut dinilai belum berpotensi mengalami keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami.

Meski demikian, PVMBG tetap melakukan pemantauan secara intensif terhadap perkembangan aktivitas dan perubahan morfologi Gunung Anak Krakatau.

Dalam laporan aktivitas periode pengamatan Sabtu (5/9/2026) pukul 00.00 hingga 06.00 WIB, PVMBG mencatat erupsi Gunung Anak Krakatau masih berlangsung. Secara visual, aktivitas erupsi pada malam hari diinterpretasikan sebagai fenomena lava fountain atau lava air mancur.

Gunung Anak Krakatau terpantau jelas hingga tertutup kabut dengan tingkat kabut 0–III. Sementara itu, asap kawah tidak teramati selama periode pengamatan.

Pemantauan di lapangan juga menghadapi kendala setelah kamera CCTV terkena lontaran material vulkanik sehingga tidak dapat beroperasi.

Dari sisi kegempaan, tercatat satu kejadian letusan dengan amplitudo maksimum 70 milimeter. Durasi kejadian dalam laporan tercatat selama 21.600 detik.

Kondisi cuaca di sekitar Gunung Anak Krakatau dilaporkan berawan hingga mendung. Angin bertiup lemah hingga sedang dan bergerak ke arah barat laut.

Saat ini, Gunung Anak Krakatau masih berstatus Level III atau Siaga. PVMBG melalui Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) merekomendasikan masyarakat, pengunjung, wisatawan, maupun pendaki tidak mendekati Gunung Anak Krakatau atau melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6