Menengok Sekolah Online Imbas Erupsi Anak Krakatau

Debu Anak Krakatau Ubah Rutinitas Siswa Lampung, Ada yang Bosan hingga Bersyukur Sekolah Daring

Diterbitkan 07 September 2026, 13:49 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Debu vulkanik Gunung Anak Krakatau tidak hanya mengganggu aktivitas warga di Lampung. Kondisi tersebut juga mengubah rutinitas ribuan siswa yang kini harus kembali belajar dari rumah.

Mulai Senin (7/9/2026), kegiatan belajar mengajar yang sebelumnya dilakukan secara tatap muka dialihkan menjadi pembelajaran daring. Kebijakan tersebut diterapkan sebagai upaya mengurangi risiko paparan debu vulkanik terhadap kesehatan siswa.

Kebijakan belajar dari rumah itu mengacu pada Surat Edaran Gubernur Lampung Nomor 150 Tahun 2026. Sejumlah jenjang pendidikan pun diminta melaksanakan pembelajaran secara daring hingga kondisi memungkinkan untuk kembali normal.

Pada hari pertama pelaksanaannya, siswa mengikuti pelajaran melalui berbagai platform digital, salah satunya Google Meet. Guru membuka pembelajaran dengan mengecek kehadiran siswa sebelum menyampaikan materi pelajaran.

Setelah sesi pembelajaran selesai, tugas kemudian dikirimkan melalui grup WhatsApp kelas. Para siswa mengerjakan tugas dari rumah sebelum kembali mengikuti mata pelajaran berikutnya bersama guru yang berbeda.

 

Jaringan Sempat Tersendat

Zhavira, seorang siswa SMA di Bandar Lampung, mengaku lebih menikmati kegiatan belajar secara langsung di sekolah dibandingkan harus mengikuti pelajaran dari rumah.

Menurut dia, suasana sekolah membuat kegiatan belajar terasa lebih menyenangkan karena bisa bertemu teman dan berinteraksi langsung dengan guru.

"Tetap enak belajar di sekolah. Ketemu teman-teman, guru, terus enggak bosan karena ada suasana berbeda," kata Zhavira, Senin (7/9/2026).

Namun hari pertama pembelajaran daring juga tak sepenuhnya berjalan mulus. Zhavira mengaku sempat mengalami gangguan jaringan internet saat guru menjelaskan materi.

"Tadi jaringan agak putus-putus. Jadi pas guru menjelaskan ada sedikit gangguan, tapi masih bisa," jelasnya.

Usai pembelajaran, guru kemudian memberikan tugas melalui grup WhatsApp. Zhavira berharap kondisi debu vulkanik segera membaik agar aktivitas belajar di sekolah bisa kembali seperti semula.

"Bosan dari hari Sabtu di rumah, mana ada debu-debu seperti ini. Semoga cepat hilang debunya," harapnya.

Ada yang Bersyukur Sekolah Daring

Berbeda dengan Zhavira, siswa lainnya, Valdis Akhdan, justru mengaku lega setelah sekolah menerapkan sistem pembelajaran daring di tengah kondisi debu vulkanik yang menyelimuti sejumlah wilayah Lampung.

"Alhamdulillah akhirnya sekolahnya daring," kata Valdis sambil tersenyum.

Menurut dia, kondisi debu di sekitar rumah saja sudah cukup mengganggu aktivitas. Ia membayangkan paparan debu yang mungkin lebih besar jika siswa tetap harus berangkat ke sekolah.

"Kita di rumah saja seperti ini kondisinya, banyak banget debunya. Apalagi di sekolah, belum lagi waktu di jalan pas berangkat. Pusing, kotor banget pasti," ujarnya.

Meski demikian, Valdis mengakui belajar secara tatap muka tetap lebih nyaman. Di sekolah, siswa bisa berdiskusi langsung dengan teman dan lebih mudah bertanya kepada guru ketika mengalami kesulitan.

"Kalau belajar enak di sekolah, ada teman yang diajak diskusi, ada guru tempat bertanya. Tapi ini bencana alam, kita ikuti anjuran pemerintah saja," tuturnya.

 

Gunung Anak Krakatau Masih Aktif

Sementara itu, aktivitas Gunung Anak Krakatau masih terus berlangsung pada Senin pagi. Berdasarkan data pengamatan periode pukul 00.00 hingga 06.00 WIB, tercatat puluhan gempa vulkanik.

Di antaranya terdapat 34 kali gempa low frequency, 44 kali gempa hybrid atau fase banyak, serta tremor menerus.

Sehari sebelumnya, Gunung Anak Krakatau tercatat mengalami tiga kali erupsi, yakni pada pukul 03.53 WIB, 07.10 WIB, dan 20.23 WIB.

Hingga kini, status Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III atau Siaga.