Anak Krakatau Erupsi Lagi, Sekolah di Lampung Kembali Belajar Daring

Pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau daring untuk seluruh jenjang pendidikan kini diperpanjang hingga Kamis, 10 September 2026.

Diterbitkan 08 September 2026, 23:36 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung kembali mengubah kebijakan kegiatan belajar mengajar (KBM) menyusul perkembangan terbaru aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau. Pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau daring untuk seluruh jenjang pendidikan kini diperpanjang hingga Kamis, 10 September 2026.

Sebelumnya, Pemprov Lampung sempat mengumumkan rencana pelaksanaan pembelajaran tatap muka. Namun, kebijakan tersebut kembali disesuaikan setelah adanya perkembangan terbaru terkait arah angin dan potensi paparan abu vulkanik yang kembali mengarah ke wilayah Lampung.

Wakil Gubernur Lampung, Jihan Nurlela mengatakan, perubahan kebijakan tersebut diambil berdasarkan situasi terkini yang diterima pemerintah pada Selasa sore.

"Terkait sektor pendidikan, tadi sore kami menyampaikan penyesuaian tatap muka. Namun, atas dasar situasi yang ter-update, kami melakukan perubahan kebijakan berdasarkan perkembangan terbaru," kata Jihan, Selasa (8/9/2026) malam.

Dia bilang, Pemprov Lampung sebelumnya mengumumkan kegiatan belajar akan kembali dilakukan secara tatap muka. Namun, perkembangan kondisi Gunung Anak Krakatau serta arah angin yang berpotensi membawa abu vulkanik ke Lampung membuat pemerintah mengambil langkah antisipasi.

"Tadi siang kami mengumumkan untuk tatap muka, namun karena ada perkembangan terbaru serta mempertimbangkan arah angin yang menuju Provinsi Lampung atau wilayah Lampung dan adanya arahan potensi paparan abu vulkanik kembali, maka kami memutuskan untuk menyesuaikan kembali kebijakan tersebut," jelasnya.

 

PJJ Berlaku Rabu dan Kamis

Jihan mengatakan, seluruh kegiatan belajar mengajar pada Rabu dan Kamis, 9-10 September 2026, tetap dilaksanakan secara daring atau pembelajaran jarak jauh.

"Kegiatan belajar mengajar pada Rabu dan juga Kamis, yaitu 9 dan 10 September 2026, tetap dilaksanakan secara daring atau pembelajaran jarak jauh," katanya.

Dia mengakui kebijakan tersebut berubah dari informasi yang sebelumnya disampaikan kepada masyarakat. Namun, keputusan itu diambil demi mengantisipasi risiko paparan abu vulkanik terhadap peserta didik dan masyarakat.

"Kami memahami bahwa keputusan ini berubah dari informasi yang kami sampaikan sebelumnya, namun situasi ini diambil karena adanya perkembangan atau pertimbangan dari perkembangan situasi yang kami dapatkan," ucapnya.

Selain sektor pendidikan, Jihan menyebut Pemprov Lampung bersama pemerintah kabupaten dan kota serta sejumlah stakeholder terkait terus melakukan langkah kesiapsiagaan menghadapi dampak erupsi Gunung Anak Krakatau.

"Sementara itu, kami bersama pemerintah kabupaten/kota dan juga stakeholder serta unsur terkait melakukan langkah-langkah kesiapsiagaan," katanya.

 

Berlaku untuk PAUD hingga SLB

Perpanjangan pembelajaran daring tersebut tertuang dalam Surat Edaran Gubernur Lampung Nomor 100.3.4/14/V.01/2026 tentang Pelaksanaan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) Akibat Dampak Abu Vulkanik.

Dalam surat edaran yang ditetapkan di Bandar Lampung pada 8 September 2026, Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal meminta seluruh pemerintah kabupaten dan kota memperpanjang pembelajaran daring untuk seluruh jenjang satuan pendidikan.

"Memperpanjang Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) seluruh jenjang Satuan Pendidikan, PAUD, TK, SD, SMP, SMA, SMK, dan SLB secara daring/online sampai dengan tanggal 10 September 2026," demikian isi surat edaran tersebut.

Selain itu, seluruh satuan pendidikan juga diminta memastikan kebersihan ruang kelas dan lingkungan sekolah dari dampak sebaran abu vulkanik.

Pemprov Lampung turut mengimbau masyarakat untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan selama masih terdapat potensi paparan abu vulkanik. Warga yang terpaksa beraktivitas di luar ruangan diminta menggunakan masker dan alat pelindung diri lainnya.

 

Anak Krakatau Erupsi Lagi

Gunung Anak Krakatau kembali menunjukkan aktivitas vulkanik. Hingga Selasa (8/9/2026) sore, gunung api di perairan Selat Sunda itu tercatat mengalami lima kali erupsi sejak dini hari.

Erupsi terbaru terjadi pada pukul 17.56 WIB. Berdasarkan laporan pengamatan Gunung Anak Krakatau, letusan tersebut terekam seismograf dengan amplitudo maksimum 54 milimeter dan berlangsung selama 31 detik.

Namun, visual letusan maupun tinggi kolom erupsi tidak dapat diamati secara langsung karena gunung tertutup kabut.

Selain faktor cuaca, pemantauan dari sisi Lampung juga belum optimal lantaran CCTV Gunung Anak Krakatau masih mengalami kerusakan sejak erupsi besar pada Sabtu (5/9/2026).

Berdasarkan laporan aktivitas sepanjang Selasa, erupsi pertama terjadi pada pukul 05.08 WIB dengan amplitudo maksimum 47 milimeter dan durasi 15 detik.

Erupsi berikutnya tercatat pada pukul 05.34 WIB dengan amplitudo maksimum 44 milimeter selama 10 detik. Aktivitas kembali terjadi pada pukul 07.49 WIB dengan amplitudo maksimum 48 milimeter dan durasi 19 detik.

Selanjutnya, erupsi keempat berlangsung pada pukul 11.34 WIB dengan amplitudo maksimum 50 milimeter selama 17 detik. Erupsi kelima terjadi pada pukul 17.56 WIB dengan amplitudo maksimum 54 milimeter dan durasi 31 detik.

Meski terjadi berulang kali, seluruh erupsi tersebut tidak dapat diamati secara visual.