Harga Minyak Naik 2% Usai Iran-AS Saling Serang

Iran meluncurkan serangan gelombang kedua memicu lonjakan harga minyak Brent dan WTI.

Diterbitkan 09 September 2026, 07:49 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Harga minyak dunia menguat pada perdagangan Selasa, 8 September 2026 (Rabu pagi Jakarta) di luar jam bursa regular. Kenaikan harga minyak ini menyusul laporan Iran melancarkan gelombang serangan kedua, yang sebelumnya tidak diungkapkan terhadap kapal-kapal Angkatan Laut Amerika Serikat (AS) pekan ini.

Mengutip CNBC, harga minyak Brent yang menjadi acuan internasional naik sekitar 2% menjadi US$ 99,05 per barel setelah ditutup pada level US$ 97,92. Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) mendaki 2,8% menjadi US$ 94,04 setelah menetap di US$ 93.03.

Pejabat AS mengatakan kepada The Wall Street Journal Iran mencoba menyerang kapal-kapal Angkatan Laut pada Senin, setelah menargetkan sebuah kapal induk dengan rudal balistik pada akhir pekan. Pentagon belum secara terbuka mengakui adanya upaya serangan pada Senin tersebut. Tidak ada kapal AS yang terkena serangan itu.

Sementara itu, media pemerintah Iran menyatakan, sebuah rudal AS menargetkan kapal tanker minyak kecil yang berada empat mil dari Pulau Kharg pada Selasa.

Harga minyak telah naik lebih dari 8% sepanjang September seiring dengan aksi saling serang militer antara AS dan Iran untuk pertama kalinya sejak Juli. Konflik meluas pekan ini setelah kelompok militan sekutu Iran di Yaman menyerang sejumlah fasilitas energi di Arab Saudi, yang memaksa penghentian sementara sebagian operasi.

Kementerian Luar Negeri Saudi menyatakan militan Houthi menargetkan aset-aset ekonomi di kota Abha, Khamis Mushait, Jazan, dan Najran. Lebih dari 70 warga sipil terluka akibat serangan tersebut.

Kementerian Energi Saudi dalam sebuah pernyataan menyebutkan serangan itu menyebabkan kebakaran di beberapa fasilitas energi dan mengakibatkan penghentian operasional sementara. Layanan darurat sedang berupaya memadamkan api di lokasi-lokasi tersebut serta menilai tingkat kerusakan, tambah negara pengekspor minyak terbesar di dunia itu.

 

 

Serangan Iran

Riyadh tidak mengungkapkan jenis fasilitas energi apa yang terkena serangan. Media yang berafiliasi dengan Houthi menyatakan kelompok tersebut menyerang fasilitas Saudi Aramco di wilayah selatan menggunakan pesawat nirawak (drone) dan rudal balistik.

Kementerian Luar Negeri Arab Saudi menegaskan hak sahnya untuk mengambil segala langkah yang diperlukan guna mempertahankan kedaulatan, menjaga aset nasional, serta melindungi keamanan dan keselamatan warga negara maupun penduduknya.

Serangan-serangan tersebut terjadi setelah militer AS menghantam tiga kapal tanker minyak Iran pada Sabtu sebagai balasan atas serangan rudal balistik Iran terhadap dua kapal perang Angkatan Laut AS.

Kementerian Luar Negeri Iran mengecam serangan terhadap kapal-kapal tanker tersebut sebagai "kejahatan perang" dan tindakan "perang ekonomi" dalam sebuah pernyataan pada Sabtu. Teheran telah berulang kali menyerang kapal-kapal komersial selama perang berlangsung.

"Serang aset kami dan kalian akan diserang," tulis Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf pada Senin dalam sebuah unggahan di X.

Pernyataan itu merupakan tanggapan atas unggahan media sosial dari Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth, yang mengatakan AS "akan menghancurkan (dan menenggelamkan)" kapal tanker minyak Iran jika Iran menembaki kapal-kapal AS.

 

Prediksi Harga Minyak

Pada Senin, Goldman Sachs menaikkan perkiraan harga minyak Brent dan WTI masing-masing sebesar US$ 5 menjadi US$ 85 dan US$ 80 per barel untuk Desember 2026, serta menjadi US$ 80 dan US$ 75 per barel untuk 2027.

Goldman memperingatkan, harga Brent bisa melonjak hingga di atas US$ 120 per barel pada 2027 jika produksi minyak mentah di kawasan Teluk tetap berada 4 juta barel per hari di bawah tingkat sebelum perang, meskipun hal itu bukan merupakan skenario dasar bank tersebut.

"Kami memandang serangan pelayaran yang lebih intensif di Selat Hormuz dan Laut Merah sebagai pemicu paling mungkin bagi skenario produksi rendah dan harga tinggi ini," tutur Kepala Riset minyak di Goldman, Daan Struyven, dalam sebuah catatan pada Senin.

Goldman memperkirakan gangguan pelayaran di Timur Tengah akan berlanjut hingga 2027, dengan produksi yang berangsur pulih pada paruh kedua tahun depan. "Pasar semakin memperhitungkan kemungkinan konflik Timur Tengah yang berkepanjangan," kata Struyven.

Presiden Donald Trump, dalam unggahan media sosialnya sendiri pada Senin, mengatakan bahwa "Harga minyak akan turun drastis... saat kita MEMENANGKAN perang melawan Iran."

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6