Rilis Data Ekonomi Pekan Ini Membayangi Bursa Saham

Data ekonomi dari Indonesia seperti kepercayaan konsumen, sedangkan dari Amerika Serikat ada data inflasi akan membayangi bursa saham.

Diterbitkan 07 September 2026, 22:18 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kompak menguat pekan lalu. Penguatan IHSG dan rupiah itu didorong sejumlah sentimen internal dan eksternal. Lalu bagaimana sentimen pekan ini yang akan mempengaruhi bursa saham?

Mengutip riset Syailendra Capital, Senin, (7/9/2026), dari sentimen domestik pekan lalu, Indonesia merilis data ekonomi Agustus 2026 antara lain:

  • Inflasi tercatat 3,19% (vs prev: 2,88%)
  • Inflasi inti tercatat 2,92% (vs prev:2,76%)
  • Neraca dagang: US$ 0,13 miliar (vs prev -US$ 0,45 miliar)
  • Manufacturing PMI: 49,8 (vs prev: 50,2)

Sentimen lainnya yakni Indonesia resmi memberlakukan relaksasi kebijakan dividen hasil ekspor (DHE) yang diatur di bawah PP/21/2026. Dalam aturan baru ini, eksportir hasil tambang yang memenuhi syarat afiliasi investasi ke Amerika Serikat (AS), China, Hong Kong dan Kanada diperbolehkan untuk hanya menahan 30% dari penghasilan ekspor selama tiga bulan dari sebelumnya 100%, selama 12 bulan.

Lalu dari sentimen eksternal datang dari Amerika Serikat. Pernyataan dovish dari Gubernur the Federal Reserve (the Fed), Christopher Waller pada 4 September 2026 lalu memicu relief reli di pasar global.

“Setelah menyatakan bahwa data inflasi diekspektasi akan mereda, ia cenderung mendukung mempertahankan suku bunga di rapat September. Merespons hal tersebut, probabilitas kenaikan Fed Rate pada rapat September menurut CME FedWatch langsung turun dari 63% ke 50%,” demikian seperti dikutip dari riset Syailendra Capital.

Sentimennya lainnya yakni nonfarm payrolls Amerika Serikat melonjak 162.000 dari sebelumnya 21.000 dan konsensensu 53.000 pada Agustus 2026. “Lonjakan ini sekaligus menjadi penambahan tertinggi setelah pasar ketenagakerjaan Amerika Serikat melemah dalam lima bulan terakhir. Selain itu, unemployment rate tetap bertahan stabil di 4,1% sesuai harapan pasar,” demikian seperti dikutip dari riset Syailendra.

Seiring hal itu, pekan lalu, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS naik 0,31% menjadi 17.630. Selain itu, indeks dolar AS tercatat turun ke level 99,16 pekan lalu.

 

Data Ekonomi yang Perlu Dicermati

Sedangkan dari pasar obligasi, imbal hasil obligasi bertenor 10 tahun tercatat naik sepanjang pekan lalu ke level 7,12%, yang diikuti dengan aliran dana investor asing Rp 1,97 triliun pada pekan lalu. Sementara itu, obligasi Amerika Serikat tercatat stagnan di level 4,78% pada pekan lalu.

Sementara itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) naik 1,8% pada pekan lalu ke level 6.636 dengan aliran dana investor asing Rp 2,32 triliun.

Di sisi lain, indeks saham acuan di Amerika Serikat (AS) kompak menguat pekan lalu. Indeks Nasdaq bertambah 0,7%, indeks S&P 500 mendaki 0,5% dan Dow Jones melompat 0,2%.

Lalu apa saja yang perlu dicermati pekan ini?

Pada 7 dan 8 September 2026, ada cadangan devisa Indonesia dan indeks kepercayaan konsumen. Selanjutnya pada 10 September 2026, ada penjualan ritel Year on Year (YoY).

Di Amerika Serikat, ada rilis data Producer Price Index (PPI) dan Core PPI pada 10 September 2026.

  • liputan6
    Analisis komprehensif ini membahas tren pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), dampak rebalancing MSCI, rekomendasi saham terkini, pengertian dan komponen IHSG, serta faktor-faktor penggeraknya.
    Ihsg
  • liputan6
    Rupiah Indonesia adalah mata uang resmi yang berlaku di Indonesia.
    Rupiah
  • liputan6
    Saham adalah hak yang dimiliki orang (pemegang saham) terhadap perusahaan berkat penyerahan bagian modal sehingga dianggap berbagai dalam pe
    Saham
  • Nilai Tukar Rupiah
  • dolar Amerika Serikat