Lahan Sydney Makin Langka, Kawasan Roselands Jadi Incaran Investor Properti RI

Keterbatasan lahan di Sydney membuat properti tapak di Roselands kian langka. Kawasan ini jadi alternatif menarik bagi investor asal Indonesia.

Diterbitkan 07 September 2026, 21:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Sama halnya dengan Indonesia, keterbatasan lahan membuat pengembangan rumah tapak baru di Sydney semakin bergeser ke kawasan suburban, terutama wilayah barat, barat daya, dan selatan. Kondisi tersebut meningkatkan nilai kawasan matang yang masih menyediakan akses terhadap hunian tapak di dalam metropolitan Sydney.

Pemerintah New South Wales melalui The Sydney Plan mengarahkan pembangunan vertikal ke wilayah timur dan pusat kota, sedangkan wilayah barat difokuskan sebagai lokasi pusat kerja baru, rumah tapak, dan townhouse.

Kondisi geografis juga membatasi ekspansi kota karena Samudra Pasifik, Ku-ring-gai Chase National Park, Hawkesbury River, Royal National Park, Woronora, dan Blue Mountains National Park mengunci pertumbuhan Sydney ke luar.

"Kelangkaan properti Sydney bukan hanya persoalan tingginya permintaan, melainkan juga keterbatasan geografis yang membuat kota ini sulit terus berkembang ke luar," kata Director & CEO Capital Value International Group (CVIG), Chandra Leonardi, di Jakarta, Senin (7/9/2026).

Keterbatasan tersebut mendorong Sydney mengandalkan infill development, urban renewal, dan densifikasi vertikal di kawasan seperti Parramatta, Macquarie Park, serta koridor metro. Pengembangan kawasan yang lebih jauh seperti Penrith, Wilton, dan Marsden Park juga meningkatkan kebutuhan perjalanan dan investasi infrastruktur karena lokasinya berjarak 50–70 kilometer dari Central Business District (CBD).

Bagi pembeli asing (foreign buyers), keterbatasan tersebut menjadi makin ketat karena regulasi Australia membatasi pembelian hanya pada properti baru dan proyek off-the-plan. Kondisi ini membuat ketersediaan lahan baru di kawasan metropolitan menjadi faktor penting bagi calon pembeli internasional.

 

Potensi Kawasan Roselands untuk Pembeli Indonesia

Roselands di barat daya Sydney menjadi salah satu kawasan yang menawarkan alternatif hunian tapak dengan akses sekitar 20–30 menit berkendara dari Sydney CBD. Kawasan ini memiliki lingkungan residensial yang matang, akses moda bus dan kereta, serta koneksi langsung menuju jalan bebas hambatan M5 dan M8.

Lebih dari 53% rumah di Roselands dihuni oleh pasangan dengan anak, sedangkan sekitar 70% penduduk merupakan pemilik rumah (owner-occupier) dan 30% merupakan penyewa. Struktur ini menunjukkan basis permintaan hunian yang kuat dari sektor keluarga sekaligus mencerminkan tingkat kepemilikan rumah yang tinggi.

Roselands juga memiliki pasokan properti yang relatif terbatas karena pemilik cenderung mempertahankan aset mereka dalam jangka panjang. Kombinasi antara permintaan keluarga yang stabil, kepemilikan rumah yang tinggi, dan pasokan yang terbatas meningkatkan kompetisi terhadap unit properti yang tersedia.

"Bagi pembeli Indonesia, Roselands menawarkan sesuatu yang makin sulit ditemukan di Sydney, yakni kesempatan memiliki properti landed di kawasan metropolitan dengan akses yang relatif dekat ke CBD, tetapi tetap memiliki karakter lingkungan keluarga yang sangat residential," ujar Chandra.

Faktor kelangkaan tersebut menjadi dasar bagi potensi pertumbuhan nilai aset dalam jangka panjang, meskipun kinerja investasi tetap bergantung pada dinamika pasar. Chandra menilai investor asal Indonesia perlu mengamati fundamental kawasan ketimbang sekadar melihat harga properti atau popularitas lokasi.

"Pasar properti Sydney sering kali dipersepsikan hanya melalui kawasan-kawasan yang sudah sangat populer. Padahal, bagi investor dengan perspektif jangka panjang, kawasan seperti Roselands justru menarik untuk diperhatikan karena memiliki basis hunian yang kuat, pasokan yang relatif terbatas, serta permintaan yang didorong oleh kebutuhan keluarga," tutup Chandra.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6