Rupiah Menguat ke 17.628, Pernyataan The Fed Jadi Angin Segar

Berikut sentimen yang mempengaruhi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Jumat, (4/9/2026).

Diterbitkan 04 September 2026, 12:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menguat pada Jumat, (4/9/2026). Analis menilai, penguatan rupiah terhadap dolar AS didorong pernyataan dovish pejabat Federal Reserve (the Fed).

Mengutip Antara, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada pembukaan perdagangan Jumat pekan ini, naik 51 poin atau 0,29% menjadi 17.628 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level 17.679 per dolar AS.

“Rupiah diperkirakan menguat terhadap dolar AS menyusul pernyataan dovish dari pejabat the Fed Christopher Waller yang melemahkan dolar AS dan menurunkan prospek kenaikan suku bunga oleh the Fed pada September,” ujar Analis Doo Financial Lukman Leong, dikutip dari Antara.

Mengutip Anadolu, Waller menuturkan, dirinya melihat tanda-tanda disinflasi yang menjanjikan di seluruh perekonomian AS. Hal itu mengindikasikan dirinya berpotensi mendukung keputusan untuk mempertahankan suku bunga acuan pada tingkat saat ini dalam pertemuan The Fed berikutnya.

Sinyal tersebut mendorong para pedagang obligasi untuk menurunkan secara tajam probabilitas kenaikan suku bunga bulan September hingga ke tingkat peluang yang seimbang (50-50), turun dari kemungkinan 63% yang diperhitungkan pasar hanya sehari sebelumnya.

"Waller mensinyalkan untuk tidak menaikkan suku bunga apabila tekanan inflasi masih terus mereda. Ekspektasi untuk kenaikan suku bunga pada bulan September turun dari 63 persen menjadi 50 persen,” ujar Lukman.

Berdasarkan faktor tersebut, nilai tukar rupiah diperkirakan berkisar 17.600-17.750 per dolar AS.

 

Penutupan Rupiah 3 September 2026

Sebelumnya, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menguat signifikan pada penutupan perdagangan Kamis, (3/9/2026). Penguatan rupiah terhadap dolar AS didorong data ketenagakerjaan swasta AS yang lebih lemah dari perkiraan.

Mengutip Antara, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menguat 84 poin atau 0,47% menjadi 17.679 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level 17.763 per dolar AS.

Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada juga bergerak menguat di level 17.689 per dolar AS dari sebelumnya 17.770 per dolar AS.

Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) Muhammad Amru Syifa menuturkan, penguatan rupiah didorong data ketenagakerjaan swasta AS yang lebih lemah dari perkiraan.

"Data ketenagakerjaan swasta AS lebih lemah dari perkiraan, sehingga ekspektasi pasar terhadap arah suku bunga The Fed kembali menjadi perhatian,” tutur dia dikutip dari Antara.

 

Ketidakpastian Global

Data ADP Employment Change menunjukkan jumlah pekerja sektor swasta bertambah 38 ribu pada Agustus, berada di bawah perkiraan 47 ribu dan angka kenaikan sebelumnya sebesar 46 ribu.

Di sisi lain, Amru menuturkan, harga minyak yang mulai terkoreksi dari level tingginya turut memangkas tekanan terhadap mata uang kawasan.

Dia menilai, sentimen negatif dari eskalasi konflik AS-Iran belum menjadi faktor yang dominan terhadap pergerakan rupiah.

Pelemahan Dolar AS

Konflik tersebut meningkatkan ketidakpastian dan berpotensi mendorong kenaikan harga minyak, dolar AS disebut justru mengalami koreksi. Indeks DXY bergerak melemah di area 99,27, sehingga memberikan ruang bagi rupiah dan sejumlah mata uang Asia untuk menguat.

"Dengan demikian, penguatan rupiah pada Kamis lebih mencerminkan pelemahan dolar AS dan perubahan ekspektasi terhadap suku bunga AS, sementara risiko dari konflik AS-Iran tetap menjadi faktor yang perlu diperhatikan,” ujar Amru.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6