Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Rabu, (2/9/2027). Analis menuturkan, koreksi rupiah terhadap dolar AS seiring lonjakan harga minyak karena ketegangan Amerika Serikat dan Iran meningkat.
Mengutip Antara, pada pembukaan perdagangan, rupiah turun 30 poin atau 0,17% menjadi 17.774 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level 17.744.
"Rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan melemah di kisaran Rp 17.750 - Rp 17.820 dipengaruhi oleh global masih berlanjutnya kenaikan harga minyak seiring meningkatnya eskalasi konflik AS dan Iran,” tutur analis Bank Woori Saudara Rully Nova dikutip dari Antara.
Advertisement
Kantor Berita Rusia, Sputnik, melaporkan AS melakukan penyerangan terhadap acara pernikahan di Iran yang mengakibatkan korban jiwa empat orang.
Jika diakumulasi total serangan AS di berbagai wilayah Iran, korban yang mengalami luka-luka sebanyak 50 orang.
Sentimen lainnya berasal dari meningkatnya ekspektasi inflasi AS akan mendorong kebijakan pengetatan moneter oleh The Federal Reserve (the Fed), sehingga ekspektasi kenaikan suku bunga pada bulan ini meningkat.
“Ekspektasi pelaku pasar terkait kenaikan suku bunga oleh The Fed per September meningkat menjadi 66% dari sebelumnya hanya 35%. Kenaikan bunga (diperkirakan) 25 bps (basis points) menjadi 4%,” ujar Rully.
Dari sentimen domestik, surplus neraca perdagangan yang semakin kecil memberikan tekanan bagi rupiah seiring tren permintaan dolar AS yang naik untuk pemenuhan impor. Begitu pula angka inflasi yang meningkat dengan tren yang dinilai cukup tinggi.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa neraca perdagangan barang Indonesia mengalami surplus senilai US$ 3,70 miliar pada periode Januari-Juli 2026. Adapun inflasi sebesar 0,21% secara bulanan (month-to-month/mtm) pada Agustus 2026.
Rupiah Melemah ke 17.744 Tersengat Lonjakan Harga Minyak
:strip_icc():format(webp):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-gray-landscape-new.png,540,20,0)/kly-media-production/medias/1954437/original/003823600_1519994760-20180302-Dolar-AY1.jpg)
Sebelumnya, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) loyo pada penutupan perdagangan Selasa, (1/9/2026). Analis menuturkan, tekanan rupiah itu didorong lonjakan harga minyak dunia yang didorong eskalasi konflik Amerika Serikat (AS) dengan Iran.
Mengutip Antara, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS turun 22 poin atau 0,12% menjadi 17.744 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di 17.722 per dolar AS.
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia bergerak menguat di level 17.727 per dolar AS dari sebelumnya 17.746 per dolar AS.
Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova menuturkan, koreksi rupiah terhadap dolar AS dibayangi lonjakan harga minyak menjadi US$ 91 per barel karena ketegangan konflik AS dengan Iran.
“Rupiah pada perdagangan hari ini melemah dipengaruhi oleh global kenaikan harga minyak seiring meningkatnya eskalasi konflik AS dan Iran,” tutur Rully.
Advertisement
Sentimen dari Imbal Hasil Obligasi Pemerintah AS
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5092467/original/062939600_1736770257-20250113-Rupiah_Melemah-ANG_2.jpg)
Pasukan AS menghantam dua peluncur rudal Iran di Pulau Larak pada Minggu (30/8/2026), yang menandai serangan pertama terhadap wilayah Iran sejak akhir Juli.
Operasi tersebut, yang dilakukan setelah periode jeda selama sebulan dalam keterlibatan militer langsung, menargetkan sistem yang disinyalir sedang disiapkan untuk meluncurkan roket bermuatan ranjau laut ke Selat Hormuz.
Sebagai respons, Sputnik mengungkapkan pasukan bersenjata Iran dilaporkan melancarkan serangan terhadap posisi militer AS di Yordania.
Sentimen lain berasal dari meningkatnya ekspektasi inflasi dan kenaikan yield obligasi pemerintah AS.
"Ekspektasi inflasi AS bulanan 0,39 persen dan 3,6 persen tahunan. Yield obligasi pemerintah AS 10 tahun naik 5,8 bps (basis points) menjadi 4,77 persen dan 20 tahun naik 6,7 bps menjadi 5,27 persen," ujar Rully.
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8262299/original/014349800_1781777647-Tugas__37_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5359126/original/045528800_1758620783-OJK.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5463536/original/058765400_1767636182-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9331557/original/037451000_1787549916-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-08-24T123722.755.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4282582/original/062080800_1672910733-Imbas_potensi_perlambatan_ekonomi_nilai_rupiah_melemah_terhadap_dollar-ANGGA_2.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1411708/original/048619800_1479708636-Iran.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1411598/original/098494900_1479704927-Amerika_Serikat.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4813938/original/075369100_1714122003-daniel-bernard-qjsmpf0aO48-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4875743/original/064820600_1719401843-20240626-Rupiah_Melemah-ANG_6.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4674211/original/014291300_1701747020-aleksi-raisa-DCCt1CQT8Os-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4013693/original/013633000_1651632346-000_329D9VG.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4282585/original/087151700_1672910854-Imbas_potensi_perlambatan_ekonomi_nilai_rupiah_melemah_terhadap_dollar-ANGGA_5.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4282588/original/045207500_1672910856-Imbas_potensi_perlambatan_ekonomi_nilai_rupiah_melemah_terhadap_dollar-ANGGA_7.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3181744/original/039116300_1594892567-20200716-Rupiah-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5076500/original/004014500_1735885889-000_32XK6HY.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3181749/original/007438500_1594892571-20200716-Rupiah-6.jpg)