Won Korea Selatan Sentuh Level Terkuat Sejak Juli 2025, Ini Pemicunya

Won Korea Selatan perkasa terhadap dolar Amerika Serikat pada awal pekan ini.

Diterbitkan 31 Agustus 2026, 16:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Mata uang Won Korea Selatan menyentuh 1,374 per dolar Amerika Serikat. Berdasarkan tradingview, level won Korea Selatan itu terkuat sejak Juli 2025, seiring aksi jual dolar AS oleh mayoritas eksportir.

Mengutip chosun.com, Senin, (31/8/2026), nilai tukar won terhadap dolar AS ditutup di 1,368,6 pada pukul 15.30 pada Senin, 31 Agustus 2026.

Dolar AS turun 3,9% terhadap won dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya. Posisi ini merupakan level terendah sejak 24 Juli 2025.

Nilai tukar dibuka 1.379,5 won pada pukul 09.00 Senin pagi, naik 7 won dari penutupan perdagangan sebelumnya. Saat Simposium Ekonomi Jackson Hole, Ketua The Federal Reserve (the Fed), Kevin Warsh menuturkan, jika ia tidak yakin inflasi bergerak cepat menuju target. Hal itu menunjukkan the Fed masih ada pekerjaan yang harus dilakukan, sehingga mendorong penguatan dolar AS.

Pasar menafsirkan hal ini sebagai sinyal the Fed tidak menutup kemungkinan menaikkan suku bunga acuan pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pada September 2026. Jika Amerika Serikat menaikkan suku bunga, dolar AS cenderung menguat dan nilai tukar dapat naik.

Namun, nilai tukar itu kemudian memangkas kenaikan harian, berbalik turun ke kisaran 1.360 won, dan menutup perdagangan mingguan di level itu. Ini juga merupakan kali pertama sejak 24 Juli 2025, level terendah harian 1.365,1 won.

Penurunan nilai tukar ini dinilai dipicu oleh aksi perusahaan eksportir besar yang menjual kepemilikan dolar AS. Ketika perusahaan menjual dolar AS, nilai mata uang won menguat. Aksi penjualan dolar AS oleh perusahaan cenderung meningkat pada akhir bulan.

Sejumlah pihak mengaitkan penurunan tajam dari kisaran 1.550 wo pada Juli ke kisaran 1.360 won dengan aksi penjualan dolar AS oleh perusahaan.

“Arus penjualan yang stabil, yang dipimpin oleh perusahaan semikonduktor, masuk ke pasar dan menekan potensi kenaikan nilai tukar,” ujar Min Kyung-won dari Woori Bank.

Inflasi Naik, Bank of Korea Kerek Suku Bunga Utama Jadi 3%

Sebelumnya, Bank of Korea (BOK) kembali menaikkan suku bunga acuan untuk kedua kalinya secara beruntun pada Kamis (27/8/2026). Langkah pengetatan moneter ini diambil berlandaskan kuatnya tren pertumbuhan ekonomi nasional.

Selain itu, BOK memperkirakan tingkat inflasi masih akan bertahan tinggi dalam beberapa waktu ke depan akibat efek lonjakan biaya energi.

Melansir laporan The Straits Times, Kamis (27/8/2026), BOK menegaskan dalam pernyataan resminya bahwa penyesuaian suku bunga acuan ini sangat tepat. Pertumbuhan ekonomi domestik dinilai berhasil melampaui ekspektasi, ditopang oleh kinerja ekspor yang solid serta pemulihan tingkat permintaan dalam negeri.

“Dalam konteks ini, sangat penting untuk mencegah meluasnya tekanan inflasi melalui tindakan preventif,” tulis BOK.

Kenaikan suku bunga acuan dari 2,75% menjadi 3% ini menyusul langkah serupa pada Juli 2026 lalu—yang merupakan kenaikan pertama dalam lebih dari tiga tahun terakhir. Penyesuaian ini terjadi di tengah bayang-bayang inflasi yang masih tinggi.

Sebagai catatan, harga konsumen (consumer price) tercatat naik 2,8% secara tahunan (year-on-year) pada Juli 2026. Angka tersebut memang sedikit melandai dibanding Juni, tetapi masih berada di atas target 2% yang ditetapkan bank sentral akibat melambungnya harga energi imbas krisis di Timur Tengah.

Menanggapi kondisi tersebut, para pembuat kebijakan moneter merevisi naik proyeksi pertumbuhan ekonomi Korea Selatan periode 2026 menjadi 3,3% dan 2,9% untuk tahun 2027. Angka ini meningkat signifikan dibanding proyeksi Mei yang masing-masing berada di level 2,6% dan 2,1%.

Bank sentral menilai ekonomi domestik masih memperlihatkan performa tangguh, terutama disokong oleh kenaikan industri semikonduktor dan pemulihan sektor konsumsi yang kian menguat.

 

Samsung Electronics dan SK Hynix Dorong Ekonomi Korea Selatan

Dua raksasa pembuat cip (chip) asal Korea Selatan, Samsung Electronics dan SK Hynix, menjadi motor utama penggerak pertumbuhan ekonomi nasional. Kedua perusahaan membukukan lonjakan laba bersih berkat tingginya permintaan perangkat kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) terhadap produk cip canggih mereka.

Pada Juli 2026, Samsung melaporkan perolehan laba operasionalnya melonjak lebih dari 1.800% pada kuartal II 2026. Sementara itu, SK Hynix mencatatkan kenaikan laba bersih hingga melebihi 1.200% pada periode yang sama.

Melesatnya kinerja keuangan kedua emiten raksasa tersebut sempat mendorong indeks saham acuan Korea Selatan, Kospi, menembus rekor tertinggi sepanjang masa di atas level 9.000 poin pada Juni 2026, sebelum akhirnya terkoreksi tajam imbas aksi profit taking di sektor teknologi.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6