Prospek Harga Emas saat The Fed Bakal Agresif

Berikut prediksi harga emas di tengah sentimen the Federal Reserve (the Fed) yang hawkish.

Diterbitkan 01 September 2026, 16:18 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Ketua The Federal Reserve (the Fed), Kevin Warsh, bersikap hawkish dalam pidatonya di Jackson Hole, Wyoming, Jumat, 28 Agustus 2026 melalui komitmen yang akan menjaga inflasi tetap terkendali.

Kepala Riset Komoditas TD Securities, Bart Melek menuturkan, hal ini memicu hambatan besar untuk pasar emas jangka pendek ini.

“Dalam pidatonya di Jackson Hole Jumat, Ketua The Fed Kevin Warsh mengingatkan bahwa laju inflasi belum menunjukkan perlambatan yang meyakinkan, dan menegaskan bahwa para pembuat kebijakan harus memastikan inflasi kembali ke target 2%, yang menurutnya tak bisa ditawar,” tulis Melek dalam analisis terbarunya soal emas, dikutip dari Kitco, Selasa (1/9/2026).

"Ia juga menyebutkan kondisi keuangan saat ini belum terbilang restriktif," ia menambahkan.

Melek juga mencatat, klaim Warsh data yang tersedia belum mendukung penurunan tingginya inflasi Personal Consumption Expenditure (PCE) dan Consumer Price Index (CPI) mengingat harga energi melejit serta perekonomian masih kuat yang mengindikasikan faktor-faktor pendorong utama kenaikan harga secara umum masih belum reda.

"Pasar menafsirkan pernyataan ini sebagai sinyal bahwa bank sentral AS cenderung menaikkan suku bunga acuan pada September dan Desember, sebuah pergeseran signifikan dari ekspektasi sebelum pidato Warsh,” ujar Melek.

"Kenaikan suku bunga jangka pendek dan penguatan dolar yang terjadi akibatnya membuat harga emas anjlok sekitar US$ 125 (atau Rp 2,2 juta, asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah 17.710), ke level US$ 4.470/oz (Rp 79,1 juta) saat analisis ini ditulis, sesuai perkiraan kami beberapa pekan terakhir," ia menambahkan.

TD Securities Yakin Harga Emas Akan Melemah

Melek mewakili TD Securities yakin akan potensi harga emas melemah dalam jangka pendek, meski nilai tukar dolar AS sendiri tengah merosot.

"Kami menilai bahwa penegasan The Fed terhadap komitmennya menjaga stabilitas harga, ditambah keyakinannya bahwa kebijakan moneter tetap menjadi instrumen paling efektif untuk mencapai tujuan tersebut, memiliki arti narasi ‘debasement trade’ (pelemahan nilai mata uang) akan diabaikan pasar untuk sementara waktu,” tulisnya.

"Belakangan ini investor mendorong harga emas naik menyusul pelonggaran kondisi keuangan akibat intervensi Departemen Keuangan AS di segmen obligasi jangka panjang," ia menambahkan.

Karena itu, Melekmenuturkan, logam mulia ini akan turun ke kisaran bawah di rentang US$ 4.200–US$ 4.700/oz ( Rp 74,3–83,2 juta) menjelang akhir tahun.

"Kenaikan suku bunga di segmen jangka pendek diperkirakan akan mengimbangi perbaikan kondisi likuiditas yang dihasilkan Departemen Keuangan di segmen jangka panjang," ia menambahkan.

 

Sikap Ketua The Fed Kevin Warsh Lebih Agresif

Bagi Melek, sikap Warsh kali ini sedikit lebih hawkish dibanding Juli lalu. "Perekonomian masih terbilang kuat, sementara inflasi masih berada di atas target,” ujar dia.

Ia menuturkan, pasar mulai memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed pada September maupun Desember.

Namun, begitu inflasi mulai stabil seiring pasar minyak yang lebih seimbang dan permintaan agregat yang melemah akibat suku bunga tinggi, The Fed diperkirakan semakin leluasa untuk melonggarkan kembali kebijakan ketatnya demi memenuhi mandat memaksimalkan lapangan kerja yang mendukung proyeksi menuju target US$ 5.350 per ounce (Rp 94,7 juta) pada kuartal III 2027.

"Bank sentral, institusi, maupun investor ritel fisik kemungkinan akan tetap mendorong permintaan, karena mereka terus memandang emas sebagai instrumen diversifikasi portofolio yang menarik dan mungkin sedang menantikan titik masuk (entry point) yang lebih baik," ia menambahkan.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6