Kalbe Farma Hati-Hati Naikkan Harga Obat dan Susu

PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) menyebutkan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) juga menjadi tantangan.

Diterbitkan 11 September 2026, 11:54 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) dilema menaikkan harga jual demi menjaga margin, atau menahan harga demi mempertahankan volume penjualan di tengah daya beli masyarakat yang masih lemah karena pelemahan nilai tukar rupiah berkepanjangan.

Direktur Kalbe Farma, Kartika Setiabudy, menyebut rupiah yang saat ini bergerak di kisaran Rp 17.500-18.000 per dolar AS menjadi tantangan besar, mengingat sebagian besar bahan baku obat dan produk nutrisi masih harus diimpor. "Rupiah masih bertahan di kisaran antara Rp 17.500 sampai Rp 18.000," ujarnya pada Public Expose Live 2026, Jumat (11/9/2026).

Kondisi ini diperparah gejolak geopolitik di Timur Tengah yang turut mengerek harga minyak dunia, sementara sebagian bahan baku farmasi Kalbe berkaitan langsung dengan harga crude oil. Akibatnya, tekanan terhadap margin kotor perseroan pun sulit dihindari sepanjang semester I 2026.

"Kita belum melihat adanya perbaikan yang signifikan," ujar Kartika mengenai kapan margin akan mencapai titik rendah.

Bahkan, ia menyebut kondisi margin pada semester II 2026 kemungkinan besar masih akan tertekan akibat beban inventory perseroan.

Di tengah tekanan tersebut, strategi menaikkan harga jual pun bukan perkara mudah bagi Kalbe. "Kenaikan harga ini hanya bisa dilakukan secara selektif," tegas Kartika.

"Kita melakukan dengan sangat berhati-hati beberapa kenaikan harga untuk produk-produk konsumen," ia menambahkan.

 

 

Kalbe Efisiensi Biaya Operasional dan Tambah TKDN

Ruang kenaikan harga ini menurut dia bisa menyempit pada segmen obat resep. Persaingan ketat obat generik serta kewajiban perseroan mendukung program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) membuat opsi menaikkan harga di segmen ini nyaris tertutup.

Situasi serupa juga terjadi di bisnis nutrisi, khususnya produk susu yang menjadi kontributor terbesar segmen tersebut, di mana pelemahan daya beli konsumen menjadi beban penjualan.

Selain membatasi kenaikan harga, Kalbe juga melakukan efisiensi biaya operasional dan menambah tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) di segmen alat kesehatan, meski ketergantungan impor untuk bahan baku obat masih akan berlangsung dalam waktu lama.