Liputan6.com, Jakarta - Tanpa disadari, banyak orang justru sedang memperlihatkan kebiasaan sok keren yang justru terkesan kurang sopan di hadapan orang lain. Perilaku yang dikira menunjukkan ketegasan, kesibukan, atau kejujuran ini kerap dibungkus sebagai citra positif, padahal di mata orang sekitar malah terbaca sebagai sikap yang mengganggu kenyamanan bersama.
Fenomena ini ramai dibicarakan warganet di berbagai platform media sosial belakangan ini. Banyak orang saling membagikan pengalaman soal perilaku yang awalnya dianggap keren atau tegas, namun ternyata membuat orang di sekitarnya merasa tidak nyaman, diremehkan, bahkan dijauhi secara perlahan.
Berikut adalah sembilan kebiasaan sok keren yang justru terkesan kurang sopan, dilansir dari berbagai sumber, Jumat (11/9/2026). Kenali satu per satu, siapa tahu salah satunya tanpa sadar menjadi bagian dari cara kamu bersikap sehari-hari.
Advertisement
1. Memotong Pembicaraan demi Terlihat Kritis
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9346281/original/028493200_1789119644-11261.jpg)
Kebiasaan menyela ucapan orang lain untuk buru-buru mengoreksi atau menambahkan pendapat sering dianggap sebagai tanda seseorang yang cerdas dan cepat tanggap. Padahal, tindakan ini justru membuat lawan bicara merasa tidak dihargai karena idenya belum sempat selesai disampaikan sebelum dipotong.
Psikolog Marty Nemko, Ph.D., dari Psychology Today menjelaskan bahwa kebiasaan menyela membuat seseorang terkesan egois dan seolah menganggap ucapannya lebih penting daripada lawan bicaranya. Kesan tidak terkendali pun muncul, meski niat awalnya sekadar ingin terlihat gesit dalam berdiskusi.
Alih-alih terkesan pintar, kebiasaan ini justru sering membuat orang lain enggan berbagi cerita lebih jauh. Menunggu lawan bicara selesai berbicara sebelum menimpali sebenarnya jauh lebih efektif untuk membangun kesan sebagai pendengar yang matang dan dapat diandalkan.
Advertisement
2. Menghilang Tanpa Kabar alias Ghosting
Menghilang begitu saja dari kehidupan seseorang tanpa penjelasan sering dianggap sebagai cara elegan untuk mengakhiri hubungan yang tidak nyaman, baik itu pertemanan, hubungan asmara, maupun relasi kerja. Padahal, ghosting hanya memindahkan rasa tidak nyaman dari diri sendiri ke pihak yang ditinggalkan begitu saja.
Sikap ini kerap dibaca sebagai bentuk ketidakdewasaan dalam menghadapi situasi sosial yang canggung. Komunikasi terbuka, sesulit apa pun, tetap jadi fondasi utama hubungan yang sehat, sementara menghilang tanpa kabar hanya menunda masalah sekaligus meninggalkan luka tanpa penjelasan.
Ketimbang menghilang begitu saja, menyampaikan alasan secara singkat dan jujur jauh lebih dihargai. Cara ini menunjukkan kematangan emosi sekaligus rasa hormat terhadap waktu dan perasaan orang yang pernah terlibat dalam hubungan tersebut.
3. Rajin Pamer Rutinitas Produktif di Media Sosial
Mengunggah rutinitas bangun pukul lima pagi, jadwal kerja padat, atau daftar pencapaian harian kerap dianggap cara membangun citra sebagai pribadi disiplin dan pekerja keras. Sayangnya, kebiasaan ini lebih sering terbaca sebagai upaya pamer yang dibungkus modesti ketimbang berbagi motivasi tulus.
Mengutip laman situs Harvard Business School, riset menemukan bahwa humblebragging sangat marak di media sosial dan biasanya dibungkus lewat keluhan atau kerendahan hati yang dibuat-buat. Studi tersebut membuktikan bahwa gaya pamer terselubung ini justru dianggap paling tidak tulus (insincere) dan paling tidak disukai dibandingkan dengan pamer secara terang-terangan maupun keluhan murni.
Berbagi progres pribadi sebenarnya sah-sah saja, asalkan dilakukan tanpa kesan menggurui atau membandingkan diri dengan orang lain. Fokus pada cerita autentik biasanya jauh lebih disukai ketimbang konten yang terasa dirancang khusus untuk mengundang decak kagum warganet.
Advertisement
4. Bangga Tidak Pernah Mengambil Libur
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9346282/original/041150100_1789119644-vitaly-gariev-amfuXW0LYB0-unsplash.jpg)
Mengaku tidak pernah cuti dan selalu sibuk kerap dijadikan bukti etos kerja tinggi. Kalimat seperti "aku nggak pernah libur" atau "kerja terus, nggak ada waktu istirahat" sering diucapkan dengan nada bangga, seolah kelelahan adalah pencapaian yang patut dipamerkan kepada orang lain.
Dr. Olga Molina, D.S.W., LCSW, terapis dari platform kesehatan mental Talkspace, mendefinisikan hustle culture sebagai kebiasaan bekerja berlebihan tanpa memperhatikan kebutuhan diri sendiri maupun hubungan dengan orang lain. Budaya kerja tanpa jeda semacam ini dinilai bukan solusi produktivitas, melainkan jalan pintas menuju kelelahan kronis dan menurunnya kualitas hidup.
Istirahat yang cukup justru terbukti mendukung performa kerja yang lebih baik dalam jangka panjang. Alih-alih membanggakan jam kerja tanpa henti, mengatur waktu istirahat secara sadar lebih mencerminkan kematangan dalam mengelola diri dan pekerjaan.
5. Keras Kepala dan Menolak Berkompromi
Mempertahankan pendapat sampai titik darah penghabisan sering dianggap tanda punya prinsip kuat dan tidak mudah goyah. Namun, dalam hubungan personal maupun profesional, sikap semacam ini lebih sering dibaca sebagai keras kepala ketimbang keteguhan yang membanggakan.
Kompromi bukan berarti kehilangan jati diri, melainkan bentuk kedewasaan dalam menghargai sudut pandang orang lain. Seseorang yang selalu menang sendiri dalam setiap diskusi biasanya justru kehilangan kepercayaan orang-orang di sekitarnya secara perlahan.
Belajar menemukan titik tengah dalam perbedaan pendapat justru memperlihatkan kematangan berpikir. Fleksibilitas dalam berdiskusi tidak membuat seseorang terlihat lemah, melainkan menunjukkan bahwa ia mampu mendengarkan tanpa kehilangan pendiriannya sendiri.
Advertisement
6. Bersikap Cuek demi Terlihat Misterius
Berpura-pura tidak peduli terhadap apa pun di sekitar sering dianggap sebagai cara tampil kalem dan sulit ditebak. Sikap nonchalant ini dipercaya membuat seseorang terlihat lebih berkelas dan tidak mudah terpengaruh oleh drama di lingkungan sekitarnya.
Sayangnya, sikap acuh yang berlebihan justru sering dibaca sebagai sikap dingin dan enggan terlibat secara emosional. Orang-orang di sekitar bisa merasa diabaikan ketika respons yang mereka terima selalu datar tanpa antusiasme sama sekali.
Bersikap santai memang tidak masalah, tetapi ada baiknya tetap menunjukkan perhatian pada momen-momen penting orang terdekat. Keseimbangan antara tenang dan peduli jauh lebih membangun hubungan dibandingkan dengan kesan acuh tak acuh yang terus-menerus dipertahankan.
7. Menolak Segala Bentuk Bantuan karena Merasa Mandiri
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9346283/original/048244600_1789119644-38045.jpg)
Selalu menjawab "aku bisa sendiri, kok" setiap kali ditawari bantuan sering dianggap bukti kemandirian yang patut dibanggakan. Padahal, sikap ini bisa membuat orang di sekitar merasa tidak dibutuhkan dan akhirnya berhenti menawarkan uluran tangan sama sekali.
Kemandirian memang penting, tetapi ketika berubah menjadi penolakan total terhadap bantuan, hal itu justru terasa melelahkan bagi orang-orang terdekat. Tidak ada yang bisa mengatasi semuanya sendirian sepanjang waktu, dan itu bukan tanda kelemahan.
Menerima bantuan saat dibutuhkan justru mempererat hubungan sosial. Orang lain pada dasarnya senang merasa berguna, sehingga sesekali membiarkan mereka membantu bukan berarti kehilangan predikat sebagai pribadi yang tangguh dan mandiri.
Advertisement
8. Berlomba Jadi Orang Paling Lelah
Saling membalas keluhan soal jam tidur yang minim atau jadwal yang padat kerap berubah menjadi ajang adu siapa yang paling capek. Seolah kelelahan adalah prestasi, obrolan semacam ini terus berlanjut tanpa ada yang mau mengalah dalam "kompetisi" tidak sehat tersebut.
Padahal, kelelahan bukan sesuatu yang perlu dipertandingkan apalagi dibanggakan. Kebiasaan ini justru menunjukkan kurangnya perhatian terhadap kesehatan diri sendiri, sekaligus meremehkan pentingnya istirahat yang cukup bagi keseimbangan hidup sehari-hari.
Ketimbang berlomba soal siapa yang paling kurang tidur, lebih bijak saling mengingatkan pentingnya istirahat. Empati terhadap kelelahan orang lain jauh lebih berarti dibandingkan dengan validasi atas seberapa keras seseorang memforsir dirinya sendiri.
9. Berlindung di Balik Label "Brutal Honesty"
Menyampaikan kritik tajam lalu menutupnya dengan embel-embel "aku cuma jujur, kok" sering dianggap sebagai bentuk keberanian mengatakan kebenaran apa adanya. Padahal, cara penyampaian yang menyakitkan justru sering membuat pesan penting yang ingin disampaikan jadi tidak sampai ke lawan bicara.
Psikolog Jason Whiting, Ph.D., dari Psychology Today mengingatkan bahwa kata-kata yang terlanjur diucapkan saat emosi memuncak tidak bisa ditarik kembali. Inilah sebabnya kejujuran sebaiknya disampaikan setelah perasaan mereda, bukan saat amarah sedang tinggi.
Kejujuran dan kebaikan sebenarnya bisa berjalan beriringan tanpa harus saling mengorbankan satu sama lain. Menyampaikan kebenaran dengan cara yang lebih halus justru membuat pesan lebih mudah diterima ketimbang dibungkus dengan nada menghakimi.
Advertisement
Pertanyaan Seputar Kebiasaan Sok Keren yang Terkesan Kurang Sopan
Apa yang dimaksud dengan kebiasaan sok keren yang terkesan kurang sopan?
Istilah ini merujuk pada perilaku yang dikira menunjukkan ketegasan, kesibukan, atau kejujuran, tetapi justru dibaca orang lain sebagai sikap kurang menghargai, seperti memotong pembicaraan atau menolak kompromi.
Mengapa ghosting dianggap tidak sopan?
Ghosting dianggap tidak sopan karena memindahkan rasa tidak nyaman dari diri sendiri ke orang lain tanpa penjelasan, sehingga dibaca sebagai bentuk ketidakdewasaan dalam menghadapi situasi sosial yang canggung.
Apakah brutal honesty termasuk kebiasaan tidak sopan?
Brutal honesty bisa terkesan tidak sopan jika kejujuran disampaikan tanpa mempertimbangkan perasaan lawan bicara, karena cara penyampaian yang menyakitkan justru membuat pesan penting gagal tersampaikan.
Bagaimana cara menghindari kebiasaan sok keren yang tidak disadari?
Caranya dengan lebih peka membaca reaksi orang sekitar, mendengarkan sampai selesai sebelum menanggapi, serta menyampaikan pendapat atau kritik dengan cara yang lebih halus dan mempertimbangkan perasaan orang lain.
Apakah selalu sibuk kerja termasuk perilaku tidak sopan?
Sibuk kerja sendiri bukan perilaku tidak sopan, tetapi memamerkannya secara berlebihan sebagai bukti superioritas atau membandingkan kelelahan diri dengan orang lain bisa terkesan tidak peka terhadap lingkungan sekitar.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3033320/original/056331500_1580109526-20200127-Ekspresi-Peserta-Tes-CPNS-2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9346278/original/098863900_1789119476-Cek_Fakta_Ustaz_Adi.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9346032/original/030931700_1789106579-FALSE.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9346108/original/077588800_1789110397-cek_fakta_cpns_imigrasi.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9346280/original/017702300_1789119644-87331__1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9346407/original/065215400_1789134579-WhatsApp_Image_2026-09-11_at_8.17.12_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9343729/original/089297500_1788876170-ChatGPT_Image_8_Sep_2026__20.55.32.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9345099/original/099922200_1789018436-WhatsApp_Image_2026-09-09_at_8.12.08_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9344539/original/028876300_1788949127-WhatsApp_Image_2026-09-09_at_15.29.33.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1527841/original/075874300_1488787214-IMG_1488240797111.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9343987/original/026376000_1788929980-toraja_2.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9343928/original/029365100_1788925942-WhatsApp_Image_2026-09-09_at_09.14.10.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9340277/original/096438600_1788499326-ChatGPT_Image_4_Sep_2026__12.19.35.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9343054/original/075440100_1788842362-WhatsApp_Image_2026-09-08_at_11.15.32.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9342572/original/072108600_1788776192-WhatsApp_Image_2026-09-05_at_8.00.42_AM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3483161/original/088606400_1623749024-arnaud-mesureur-7EqQ1s3wIAI-unsplash_Fotor.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9341193/original/070615900_1788587329-photo_6116408067076329990_w.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9334269/original/004496300_1787827928-andrey-zvyagintsev-2HCVNKMZtVk-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9346169/original/035293600_1789113951-pexels-katerina-holmes-5910961.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4686810/original/057930900_1702575320-Ilustrasi_main_HP_sambil_tiduran__kangen__LDR__membaca_pesan.jpg)