7 Ciri Orang yang Tidak Pernah Menawar Harga Saat Belanja Menurut Psikologi

Ciri orang yang tidak pernah menawar harga saat belanja menurut psikologi mengungkap kepribadian unik di balik kebiasaan belanja tanpa negosiasi.

Diterbitkan 12 September 2026, 07:05 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Ciri orang yang tidak pernah menawar harga saat belanja menurut psikologi berkaitan erat dengan kepribadian, rasa percaya diri, dan cara seseorang memandang uang serta interaksi sosial di pasar tradisional maupun toko modern.

Psychology Today menjelaskan sebagian orang menghindari konfrontasi kecil, termasuk tawar-menawar, karena takut dianggap pelit, menyulitkan penjual, atau tidak nyaman berbicara langsung demi potongan harga saat berbelanja.

Sementara itu, National Public Radio (NPR) mengungkap banyak pembeli percaya harga yang tertera sudah final dan tak bisa diganggu gugat, padahal riset pemasaran menunjukkan psikologi harga sengaja dirancang memengaruhi keputusan konsumen tanpa disadari. Berikut ini beberapa ciri orang yang tidak pernah menawar harga saat belanja menurut psikologi, lengkap dengan penjelasannya, dilansir Liputan6.com dari berbagai sumber, Selasa (8/9/2026).

1. Cenderung Menghindari Konflik

Salah satu ciri paling menonjol dari orang yang tidak pernah menawar harga adalah kecenderungan mereka untuk menghindari konflik, sekecil apa pun bentuknya. Bagi mereka, proses tawar-menawar terasa seperti bentuk konfrontasi yang berpotensi menimbulkan ketegangan dengan penjual.

Psychology Today menjelaskan bahwa orang yang menghindari konflik biasanya lebih memilih menjaga keharmonisan sosial daripada memperjuangkan kepentingan pribadinya, meskipun hal tersebut berarti mereka harus membayar lebih mahal.

Sikap ini sering kali terbentuk sejak masa kecil, tergantung pada bagaimana pola komunikasi dalam keluarga mereka dulu. Seseorang yang tumbuh di lingkungan yang cenderung menekan ekspresi emosi atau ketidaksepakatan akan lebih mungkin mengembangkan gaya menghindar saat dewasa, termasuk dalam urusan tawar-menawar harga.

2. Memiliki Rasa Percaya Diri yang Rendah dalam Bernegosiasi

Rasa percaya diri memainkan peran besar dalam menentukan apakah seseorang berani menawar harga atau tidak. Orang dengan kepercayaan diri rendah cenderung merasa tidak nyaman ketika harus mengungkapkan keinginan atau pendapat secara langsung, termasuk meminta potongan harga. Mereka khawatir permintaan tersebut akan ditolak atau membuat mereka terlihat tidak pantas di mata orang lain.

Ketakutan akan penolakan ini membuat mereka lebih memilih membayar harga penuh daripada harus melalui proses negosiasi yang dianggap berisiko secara emosional. Padahal, dalam banyak kasus, penjual justru sudah menyiapkan ruang harga yang bisa dinegosiasikan.

3. Percaya Bahwa Harga yang Tertera Sudah Final

Banyak orang menganggap bahwa angka yang tertulis pada label harga adalah harga mati yang tidak bisa diubah lagi. NPR mengungkap bahwa anggapan semacam ini sebenarnya adalah hasil dari strategi psikologi harga yang memang sengaja dirancang oleh peritel agar konsumen merasa harga tersebut sudah wajar dan final, sehingga mereka tidak lagi berpikir untuk menawarnya.

Kepercayaan ini membuat sebagian orang tidak pernah mempertimbangkan opsi negosiasi sama sekali, bahkan di tempat-tempat yang sebenarnya masih memberikan ruang tawar, seperti toko kecil, jasa perbaikan, hingga sewa tempat tinggal.

4. Lebih Mengutamakan Kenyamanan daripada Penghematan

Ciri lain yang sering ditemukan adalah kecenderungan untuk lebih mementingkan kenyamanan psikologis dibandingkan potensi penghematan uang. Bagi sebagian orang, proses tawar-menawar terasa melelahkan secara mental karena membutuhkan energi ekstra untuk berdebat, menunggu respons, dan menghadapi kemungkinan penolakan.

Mereka lebih memilih membayar sedikit lebih mahal asalkan proses belanja berjalan cepat, tanpa drama, dan tanpa harus berpikir keras tentang strategi negosiasi. Kenyamanan emosional ini dianggap lebih berharga dibandingkan selisih harga yang mungkin bisa mereka dapatkan jika menawar.

5. Menganggap Menawar Sebagai Sesuatu yang Tidak Etis

Sebagian orang memiliki keyakinan pribadi bahwa menawar harga adalah tindakan yang kurang etis, terutama jika dilakukan kepada pedagang kecil atau usaha rumahan. Mereka merasa bahwa setiap harga yang ditetapkan sudah mempertimbangkan biaya produksi dan keuntungan yang layak diterima penjual, sehingga menawarnya dianggap sebagai bentuk ketidakadilan.

Keyakinan moral semacam ini membuat mereka enggan melakukan negosiasi, bahkan ketika lingkungan sosial di sekitarnya menganggap tawar-menawar sebagai hal yang wajar dan lumrah dilakukan.

6. Cenderung Perfeksionis dan Menghindari Risiko Sosial

Orang dengan kecenderungan perfeksionis biasanya sangat memperhatikan bagaimana mereka dipersepsikan oleh orang lain. Mereka takut jika tawaran harga yang mereka ajukan terlalu rendah, hal itu justru akan membuat mereka terlihat pelit atau tidak sopan di depan penjual maupun orang di sekitarnya.

Ketakutan terhadap penilaian sosial ini membuat mereka memilih jalan aman dengan tidak menawar sama sekali, meskipun sebenarnya mereka menyadari bahwa harga tersebut masih bisa dinegosiasikan lebih rendah.

7. Lebih Mempercayai Otoritas dan Sistem yang Berlaku

Ciri terakhir yang cukup umum ditemukan adalah kecenderungan untuk mempercayai otoritas, sistem, atau aturan yang berlaku tanpa banyak mempertanyakannya. Orang dengan pola pikir seperti ini menganggap bahwa harga yang ditetapkan oleh toko atau perusahaan adalah keputusan resmi yang seharusnya dihormati, bukan untuk dinegosiasikan ulang secara sepihak.

Pola pikir ini sering kali dipengaruhi oleh latar belakang budaya, di mana sebagian masyarakat memang lebih terbiasa dengan sistem harga tetap dibandingkan budaya tawar-menawar yang lebih fleksibel.

Pertanyaan Seputar Ciri Orang yang Tidak Pernah Menawar Harga saat Belanja Menurut Psikologi

Apakah tidak menawar harga berarti seseorang boros?

Belum tentu. Tidak menawar harga lebih berkaitan dengan kepribadian dan kenyamanan sosial, bukan semata-mata soal boros atau hemat dalam mengelola keuangan.

Mengapa sebagian orang merasa cemas saat harus menawar harga?

Rasa cemas biasanya muncul karena takut ditolak, dianggap pelit, atau khawatir menimbulkan situasi canggung dengan penjual saat proses negosiasi berlangsung.

Apakah kebiasaan ini bisa diubah?

Tentu bisa. Dengan berlatih komunikasi asertif secara bertahap, seseorang dapat menjadi lebih percaya diri dalam menyampaikan tawaran harga tanpa merasa tertekan.

Apakah menawar harga selalu dianggap tidak sopan?

Tidak selalu. Di banyak budaya dan tempat, tawar-menawar justru dianggap wajar dan menjadi bagian dari interaksi jual beli yang sehat antara penjual dan pembeli.