5 Trik Menghentikan Pemborosan Impulsive Buying, Mulai dari Kebiasaan Sederhana

Simak trik menghentikan pemborosan impulsive buying: atur urutan gaji lebih dulu, sikapi diskon dengan bijak, dan beri jeda sebelum membeli barang mahal.

Diterbitkan 04 September 2026, 16:45 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Trik menghentikan pemborosan impulsive buying penting dilakukan jika kebiasaan membeli barang secara spontan mulai mengganggu kondisi keuangan. Tidak sedikit orang yang awalnya hanya berniat melihat-lihat produk di media sosial, tetapi akhirnya tergoda checkout karena diskon, tren, atau promo dengan waktu terbatas.

Sekilas, satu pembelian mungkin terasa kecil. Namun, jika dilakukan berulang kali, pengeluaran tersebut dapat menumpuk dan membuat uang yang seharusnya disimpan justru habis untuk barang yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan.

Namun, kebiasaan impulsif bukan sesuatu yang tidak bisa diubah. Dengan mengenali pemicunya dan membuat beberapa aturan sederhana sebelum berbelanja, pengeluaran dapat dikendalikan secara bertahap. Berikut dipaparkan secara terperinci trik menghentikan pemborosan impulsive buying, sebagaimana dilansir liputan6.com dari berbagai sumber, Jumat (4/9/2026).

1. Sisihkan Tabungan Dulu, Baru Belanja

Melansir laman New Delhi Television Limited (NDTV), trik ini dimulai dari kebiasaan mengelola gaji sejak awal bulan. Saat uang baru cair, hindari kebiasaan menganggap seluruh angka di rekening sebagai dana yang bebas dipakai kapan saja.

Dahulukan kewajiban seperti tagihan rutin dan kebutuhan pokok. Sisihkan juga porsi untuk tabungan dan investasi di awal, bukan menunggu sisa di akhir bulan. Uang untuk jajan, hiburan, atau belanja baru dialokasikan setelah pos-pos penting tersebut aman.

Praktiknya bisa sesederhana membuka rekening kedua khusus tabungan. Begitu gaji diterima, langsung pindahkan nominal yang sudah ditentukan ke rekening tersebut agar tidak ikut tercampur dengan saldo harian yang mudah tergerus untuk belanja dadakan.

Cara ini bukan berarti melarang diri menikmati hasil kerja, melainkan memastikan pos-pos penting sudah terpenuhi lebih dulu sebelum uang habis untuk hal-hal yang sebenarnya bisa ditunda. Mengatur alur keuangan sejak gaji masuk seperti ini menjadi pondasi dari berbagai trik menghentikan pemborosan impulsive buying lainnya.

2. Jangan Menganggap Diskon sebagai Alasan Membeli

Label seperti "diskon 70 persen khusus hari ini" atau "buruan serbu diskon 50 persen tinggal beberapa jam lagi" biasanya berhasil membuat orang merasa harus buru-buru memutuskan tanpa sempat berpikir panjang. Perlu disadari bahwa tampilan semacam itu memang sengaja dibuat oleh platform belanja untuk memancing rasa terburu-buru. Padahal, murahnya harga sama sekali tidak menjamin barang tersebut benar-benar diperlukan.

Ada satu pertanyaan sederhana yang bisa dijadikan filter sebelum checkout: seandainya barang ini dijual dengan harga normal, apakah tetap akan dibeli? Bila jawabannya tidak, bisa jadi yang sebenarnya menarik perhatian hanyalah label promonya, bukan fungsi barang itu sendiri.

Memang benar potongan harga, cashback, atau bonus tertentu bisa membuat sebuah transaksi terasa lebih hemat. Hanya saja, hal itu semestinya jadi bahan pertimbangan tambahan, bukan pemicu utama keputusan belanja. Urutan yang lebih tepat adalah memastikan dulu barang tersebut memang berguna dan sesuai kebutuhan, baru kemudian mempertimbangkan apakah harga promonya membuat pembelian semakin masuk akal.

3. Beri Jeda Sebelum Membeli Barang Mahal

Ciri khas belanja impulsif adalah keputusan yang diambil dalam hitungan detik: baru melihat, langsung suka, lalu tanpa pikir panjang uang pun keluar. Menyisipkan jeda waktu adalah cara efektif untuk mematahkan siklus tersebut.

Sebagaimana melansir laman New Delhi Television Limited (NDTV), khusus untuk barang yang sifatnya bukan kebutuhan mendesak, coba tahan dulu keinginan membeli selama satu hingga dua hari. Setelah waktu itu berlalu, evaluasi ulang apakah barang tersebut memang masih terasa penting untuk dimiliki.

Kalau setelah dipikir ulang keinginannya tetap kuat dan harganya tidak sampai mengganggu pos pengeluaran lain, membeli barang tersebut bukan lagi masalah. Prinsip jeda ini juga bisa diterapkan untuk pengeluaran yang nilainya lebih besar, seperti tiket perjalanan, tiket konser, perangkat elektronik, hingga perabot rumah.

Bukan berarti setiap penawaran mendadak harus dihindari. Namun, kalau dalam sebulan terlalu sering muncul promo "berbatas waktu" dan semuanya diikuti, kondisi keuangan bisa ikut goyah. Yang perlu dicermati bukan cuma besaran uang yang keluar, tapi juga kapan waktu pengeluaran itu terjadi. Sebelum memutuskan membeli, ada baiknya mengecek dulu tagihan yang masih menunggu serta rencana kebutuhan dalam waktu dekat.

4. Buat Daftar Belanja Sebelum Membuka Aplikasi

Menentukan barang yang benar-benar ingin dibeli sebelum membuka aplikasi belanja dapat membantu menjaga fokus. Dengan daftar yang jelas, perhatian tidak mudah teralihkan oleh rekomendasi produk lain yang muncul di halaman utama maupun iklan berbayar.

Kebiasaan ini juga membuat proses belanja menjadi lebih efisien karena waktu yang dihabiskan untuk menjelajah tanpa arah bisa dikurangi, sehingga peluang tergoda barang di luar rencana pun semakin kecil.

5. Batasi Notifikasi dan Akun yang Memicu Keinginan Belanja

Notifikasi promo yang terus muncul di ponsel maupun konten belanja di media sosial dapat memicu keinginan membeli meski sebenarnya tidak sedang membutuhkan apa pun. Mematikan notifikasi aplikasi belanja atau berhenti mengikuti akun yang sering memamerkan barang baru bisa membantu mengurangi dorongan tersebut.

Dengan mengurangi paparan terhadap pemicu tersebut, penerapan trik menghentikan pemborosan impulsive buying akan terasa lebih mudah dijalankan dalam keseharian.

Menerapkan berbagai trik menghentikan pemborosan impulsive buying di atas secara konsisten dapat membantu menjaga kesehatan finansial dalam jangka panjang. Perubahan kecil dalam kebiasaan belanja, jika dilakukan secara rutin, akan memberi dampak besar terhadap kestabilan keuangan pribadi.

Pertanyaan dan Jawaban Seputar Trik Menghentikan Pemborosan Impulsive Buying

1. Apa langkah pertama yang bisa dilakukan untuk menghentikan impulsive buying?

Langkah pertama adalah membayar diri sendiri terlebih dahulu, yaitu memprioritaskan kebutuhan pokok, tagihan, tabungan, dan investasi sebelum menggunakan sisa uang untuk kebutuhan lain.

2. Bagaimana cara menyikapi diskon agar tidak terjebak belanja impulsif?

Tanyakan pada diri sendiri apakah kamu tetap akan membeli barang itu meski tidak sedang diskon. Jika jawabannya tidak, kemungkinan besar yang menarik adalah promonya, bukan kebutuhan atas barang tersebut.

3. Berapa lama jeda yang disarankan sebelum membeli barang mahal?

Untuk barang yang bukan kebutuhan utama, disarankan menunggu satu sampai dua hari sebelum memutuskan membeli, lalu menilai kembali apakah barang itu masih benar-benar dibutuhkan.

4. Apakah daftar belanja efektif mencegah pembelian tidak terencana?

Ya, daftar belanja membantu menjaga fokus pada barang yang memang direncanakan, sehingga mengurangi peluang memasukkan barang di luar kebutuhan ke keranjang belanja.

Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6