Trump Ancam Bombardir Iran, Harga Minyak Dunia Melonjak

Harga minyak dunia melonjak lebih dari 4% setelah Donald Trump mengancam kembali menyerang Iran dan memberlakukan blokade laut di Selat Hormuz.

Diterbitkan 09 Juli 2026, 07:40 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Harga minyak dunia melonjak lebih dari 4% pada perdagangan Rabu setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali mengancam akan membombardir Iran dan memberlakukan kembali blokade angkatan laut AS sebagai balasan atas serangan terhadap kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz.

Mengutip CNBC, Kamis (9/7/2026), harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) ditutup naik 4,4% ke level US$ 73,52 per barel. Sementara itu, minyak Brent yang menjadi acuan internasional melonjak 5,2% menjadi US$ 78,02 per barel.

Saat menghadiri KTT NATO di Turki, Trump mengatakan dirinya menganggap gencatan senjata dengan Iran telah berakhir. Pernyataan tersebut disampaikan setelah militer AS melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran pada malam sebelumnya.

Ancaman Trump untuk kembali menyerang Iran dan menerapkan blokade laut memicu kekhawatiran pasar energi. Investor khawatir konflik baru akan mengganggu ekspor minyak melalui Selat Hormuz yang sebelumnya mulai kembali normal.

Namun, kenaikan harga minyak sempat berkurang setelah Trump menyatakan dirinya tidak yakin konflik antara AS dan Iran akan berkembang menjadi perang berskala penuh.

"Saya rasa konflik ini tidak akan dimulai lagi. Saya pikir semuanya akan selesai dengan sangat cepat. Mereka menyerang beberapa kapal, lalu kami membalas dengan kekuatan yang jauh lebih besar. Jika mereka menyerang satu kali, kami akan membalas sepuluh kali lebih keras," kata Trump.

 

Iran Ancam Tutup Selat Hormuz

Dalam konferensi pers di Ankara, ibu kota Turki, Trump juga mengatakan harga minyak diperkirakan akan kembali turun seiring kapal-kapal tanker mulai kembali melintasi Selat Hormuz.

"Harga minyak mungkin akan naik sedikit, tetapi situasi ini akan segera berakhir. Saat ini pasokan minyak justru melimpah karena kapal-kapal sudah kembali keluar dari Selat Hormuz, sehingga harganya akan turun," ujar Trump.

Di sisi lain, Iran memperingatkan akan menutup Selat Hormuz dan memberikan respons dengan kekuatan penuh apabila kembali menjadi sasaran serangan. Peringatan tersebut disampaikan melalui media pemerintah Iran, PressTV.

Menurut Komando Pusat Militer AS (US Central Command/CENTCOM), pasukan AS menyerang lebih dari 80 target di Iran pada malam sebelumnya. Sasaran tersebut meliputi sistem pertahanan udara, jaringan komando dan kendali, instalasi radar, kemampuan rudal antikapal, hingga armada kapal kecil milik Iran.

 

Eskalasi Terbaru

Ketegangan kedua negara juga meningkat setelah Departemen Keuangan AS pada Selasa mencabut izin yang sebelumnya memungkinkan Iran menjual minyak. Kebijakan tersebut sebelumnya dinilai sejumlah pihak sebagai bentuk konsesi besar Washington kepada Teheran dalam kesepakatan sementara.

Menanggapi serangan tersebut, Kementerian Luar Negeri Iran menyebut aksi militer AS sebagai "pelanggaran berat terhadap Nota Kesepahaman" yang telah disepakati Washington dan Teheran bulan lalu untuk mengakhiri konflik.

Eskalasi terbaru terjadi setelah tiga kapal diserang di atau di sekitar Selat Hormuz pada Selasa. Insiden tersebut kembali memicu kekhawatiran terhadap keamanan salah satu jalur pelayaran minyak paling penting di dunia.

Sementara itu, Joint Maritime Information Center (JMIC) yang dipimpin AS menaikkan tingkat ancaman bagi kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz menjadi "parah" (severe).

Lembaga tersebut juga memperingatkan kemungkinan terjadinya aksi permusuhan lanjutan dari Iran terhadap kapal-kapal yang melintas di kawasan tersebut.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6