Cinta dari Cijantung: Cerita Ayah Temani Putranya Cari Kerja

Tomo (64) datang bersama sang istri dari Cijantung demi menemani putranya berburu kerja di Jakarta.

Diterbitkan 09 Juli 2026, 08:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Di tengah banyaknya para pencari kerja, ada dua sosok yang mencuri perhatian. Keduanya nampak sudah berumur hingga terlihat berbeda dari yang lain.

Rambutnya sudah memutih, gurat wajahnya menandakan usia yang tak lagi muda. Namanya Tomo, pria berusia 64 tahun.

Pagi itu, Tomo tidak datang sendiri. Bersama sang istri, dia menempuh perjalanan cukup jauh dari Cijantung, Jakarta Timur, menuju Jakarta Selatan Career Fest and Bazaar 2026 di Kuningan, Jakarta Selatan (Jaksel).

Tujuannya satu, yakni menemani putra mereka, Ageng, yang sedang berjuang menjemput masa depan.

Bagi sebagian orang, melihat orang tua mendampingi anak yang sudah dewasa melamar kerja mungkin terasa tak biasa. Namun bagi Tomo, ini adalah bentuk dukungan moral yang tak bisa ditawar.

Tomo menceritakan, Ageng, lulusan Manajemen Keuangan dari IBS, sudah dua tahun lulus dan sempat mencicipi dunia kerja melalui program magang.

Namun, mencari pekerjaan tetap di Jakarta pada tahun 2026 ternyata bukan perkara mudah.

“Kita memberikan support dan motivasi saja. Nyari kerja itu susah saat ini. Kita dukung supaya anak ada kemauan, cari pengalaman, dan tahu kalau nyari kerja itu perjuangannya seperti ini,” ujar Tomo, Rabu 8 Juli 2026.

Baginya, hadir di sana bukan untuk memanjakan sang anak, melainkan untuk berdiri di belakangnya sebagai pilar kekuatan.

 

Integritas di Atas Koneksi

Namun, ada satu keresahan mendalam yang tersirat dalam cerita Tomo. Dia bercerita, sang anak pernah sampai ke tahap wawancara akhir, namun harus gugur hanya karena kalah oleh mereka yang memiliki ‘koneksi’ atau orang dalam.

Meski pedih, Tomo tetap teguh pada prinsipnya. Dia melarang keras penggunaan jalur belakang untuk masa depan anaknya.

“Jangan pakai koneksi. Kalau kita kasih kesempatan dengan koneksi, sama saja kita memberikan pendidikan yang nggak baik. Kita harus jujur. Kalau tidak, efeknya ya seperti sekarang, korupsi berjamaah. Saya nggak mau begitu," kata dia.

Di mata Tomo, kejujuran adalah ijazah yang sesungguhnya. Dia ingin sang anak, Ageng bangga karena mendapatkan pekerjaan atas hasil keringat dan kemampuannya sendiri, bukan karena ‘titipan’.

Tomo yang ternyata pernah mengajar juga menyoroti fenomena dunia pendidikan saat ini.

Dia membandingkan zamannya dulu dengan sekarang. Menurutnya, saat ini lulus sekolah atau kuliah terasa lebih mudah secara formalitas, namun seringkali tidak dibarengi dengan kesiapan kerja.

"Dulu lulus D3 saja susahnya bukan main, tapi kita benar-benar siap kerja. Sekarang, menurut saya, banyak yang hanya cari nilai saja, asal lulus, tapi belum siap kerja. Harus banyak pengalaman dulu," tutur Tomo kritis.

Dia berharap pemerintah tidak hanya memperbanyak job fair secara kuantitas, tetapi juga memperbaiki kualitas pendidikan agar lulusannya benar-benar memiliki keahlian yang dibutuhkan industri, bukan sekadar angka di atas kertas.

 

Pulang dengan Harapan

Saat matahari mulai meninggi di atas Setiabudi, Tomo, istrinya, dan Ageng bersiap untuk pulang kembali ke Cijantung.

Baginya, perjalanan Cijantung-Setiabudi tidak ada apa-apanya dibandingkan perjalanan panjang yang harus ditempuh anaknya untuk membangun karier.

Di dalam mobil yang membawa mereka pulang, tidak hanya ada berkas-berkas lamaran, tapi juga doa dan harapan seorang ayah yang percaya bahwa kejujuran dan kerja keras akan menemukan jalan setitik terang pada waktunya.

Satu hal yang pasti, di tengah kerasnya persaingan ibu kota, Ageng adalah pemuda yang beruntung. Dia memiliki "koneksi" terbaik yang pernah ada, yakni cinta dan prinsip tak tergoyahkan dari seorang ayah bernama Tomo.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6