Bos BI Ungkap Modal Negara ASEAN Bisa Jadi Pusat Ekonomi Dunia, Dipimpin Indonesia

Dengan menjaga sektor perdagangan, Indonesia dan negara Asia Tenggara lainnya bisa turum berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi.

Diterbitkan 06 Maret 2023, 16:44 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta

 

Jaga Inflasi di 3,3 Persen

 
 
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo optimistis bisa menekan angka inflasi kembali ke angka 3,3 persen di tahun 2023 ini. Padahal, angka inflasi Indonesia berada di posisi 6,3 persen di 2022 lalu.
 
Sejumlah alasan diungkapkannya. Sebut saja, mengenai beragam kebijakan strategis yang diambil. Sampai dengan proses perdagangan dan investasi yang terus dijaga.
 
"Tahun ini kita optimis inflasi Asean 5 bakal berada di 3,3 persen dan tahun depan 3,2 persen. Sejalan dengan pertumbuhan ekonomi dan bisa menyeimbangkan antara stabilitas makro ekonomi dan stabilitas finansial," ungkapnya dalam High Level Seminar: ASEAN MATTERS Epicentrum of Growth, Senin (6/3/2023).
 
Konsisten
 
Perry mengungkapkan alasan mengapa ASEAN 5 bisa begitu ambisius mengejar target itu. Salah satunya berkat konsistensi yang dibawa. Termasuk dalam menghadirkan berbagai kebijakan, baik makro ekonomi, maupun finansial.
 
"Kenapa bisa begitu? Karena Asean 5 sangat disiplin. Kita didiplin dengan kebijakan moneter dari bank sentral. Tidak hanya berbicara interest rate, stabulisasi nilai tukar, tapi juga kita mendukung pertumbuhan ekonomi melalui kebijakan makroprudensial akomodasi dan digitalisasi metode pembayaran," sambungnya.
 
"Dimana itu semua mendukung adanya ekonomi yang inklusif. Dengan koordinasi yang sangat erat," tambah Perry.
 
 

Penguatan Nilai Tukar Rupiah

 
Diberitakan sebelumnya, Bank Indonesia (BI) yakin bahwa nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) tetap akan perkasa di 2023. Keyakinan ini setelah melihat realisasi di awal tahun sekaligus stabilitas sistem keuangan sekaligus kondisi ekonomi nasional.
 
Nilai tukar rupiah mampu berdiri gagah jika melihat kondisi per 15 Februari 2023. Lewat unggahan media sosial Instagram @bank_indonesia, rupiah mampu menguat 2,39 persen dibandingkan dengan level akhir Desember 2022.
 
Jika dibandingkan dengan mata uang negara tetangga, rupiah juga masih jauh perkasa. Terlihat mata uang Filipina hanya mampu naik 0,99 persen. Sedangkan dilanjutkan Thailand hanya menguat 0,85 persen. Bahkan mata uang ringgit Malaysia hanya naik sebesar 0,27persen.
 
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan, rupiah tak bakal tumbang karena didukung 5 faktor fundamental yang akan menjadi kunci menguatnya Rupiah.
 
"Bank Indonesia tidak menargetkan level, melainkan memberikan direction bahwa Rupiah akan menguat." kata Perry dikutip pada Kamis (23/2/2023).
 
 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6