Doa Seorang Ayah di Ujung Dermaga, Menanti Bagus Pulang

Dalam keheningan, ada tangan terangkat, doa dan harapan terpanjat kepada Tuhan untuk kepulangan sang jurnalis.

Diterbitkan 16 September 2026, 21:05 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Pagi itu, suasana di posko SAR pencarian lima jurnalis dan tiga orang lainnya masih relatif sepi. Tak banyak pengunjung yang datang. Sejumlah wartawan yang biasanya memadati lokasi untuk meliput proses pencarian pun belum seluruhnya tiba.

Apel pagi telah selesai. Satu per satu tim SAR yang bertugas mulai meninggalkan posko menuju area pencarian. Sebagian wartawan dan personel SAR lainnya masih berada di sekitar posko, menyempatkan diri sarapan sebelum kembali menjalankan aktivitas.

Namun, suasana itu tak berlangsung lama.

Tak lama berselang, tampak dua orang berjalan cukup cepat ke arah dermaga. Salah seorang sempat ditawari sarapan, tetapi tak menghiraukannya. Langkahnya tetap menuju dermaga.

Usut punya usut, sosok tersebut adalah Mansyur Suryana, ayah dari salah satu jurnalis yang hilang, Muhammad Bagus Khoirunnas.

Sejumlah jurnalis kemudian mengikuti dari belakang. Mereka sempat bertanya-tanya mengenai tujuan kedatangan kedua orang tersebut.

Belakangan diketahui, keduanya datang untuk kembali memanjatkan doa agar Bagus dapat segera kembali ke pangkuan orang tuanya dalam keadaan selamat.

Sosok yang mendampingi ayah Bagus ternyata merupakan seorang kiai yang berasal dari Lebak, Banten.

Keduanya terus berjalan hingga ke ujung dermaga. Duduk bersampingan, menatap lautan, dan berdoa untuk keselamatan sang anak.

 

Doa dan Harapan

Dalam keheningan itu, keduanya tampak khusyuk. Tangan terangkat, doa dipanjatkan, dan harapan diserahkan kepada Tuhan Yang Maha Esa agar Bagus segera ditemukan dan dapat kembali pulang ke rumah.

Lautan di hadapan mereka terbentang luas. Di balik hamparan air itu, ada seorang anak yang hingga kini belum diketahui keberadaannya.

Sudah sembilan hari berlalu sejak Bagus dan tujuh orang lainnya hilang kontak di perairan Selat Sunda. Namun, bagi Mansyur, waktu yang terus berjalan bukan alasan untuk berhenti berharap.

Di tengah ketidakpastian dan hari-hari pencarian yang terus berlalu, ia memilih untuk tetap percaya bahwa putranya masih berada di suatu tempat dan menanti untuk kembali pulang.

Suara ombak yang datang silih berganti, menyatu dengan embusan angin laut, menambah kesyahduan suasana saat keduanya memanjatkan doa. Sesekali, tatapan Mansyur mengarah ke lautan yang seolah tak ada ujung.

"Saat ini kita membentuk khairunnas anfa’uhum linnas, saling membantu antar sesamanya. Dan mudah-mudahan ikhtiar kita bersama ini bisa terlaksana dengan baik. Al-Fatihah," ungkap Mansyur dalam doanya, Rabu (16/9/2026).

Doa kemudian selesai. Mansyur perlahan menurunkan tangannya. Namun, tatapannya masih menuju arah laut. Di sampingnya, sang kiai tetap duduk mendampingi.

Tak banyak yang bisa dilakukan di tengah ketidakpastian selain terus berikhtiar dan mempertahankan harapan.

Lantunan doa mungkin saja selesai, tetapi dalam hati harapan itu tetap menyala. Mansyur yakin, sang anak masih hidup dan suatu saat dapat kembali pulang.

"Optimis, Bagus masih hidup," ungkapnya.

 

Pencarian di Hari Ke-9

Bagus merupakan salah satu jurnalis foto yang ikut dalam speedboat dalam tugas jurnalistik mencari foto Gunung Anak Krakatau (GAK). Namun, speedboat yang ia tumpangi hilang kontak di perairan Selat Sunda sejak 7 September 2026.

Sejak saat itu, pencarian terus dilakukan. Tim SAR Gabungan menyisir wilayah perairan Selat Sunda dengan harapan menemukan jejak Bagus dan tujuh orang lainnya yang hingga kini belum diketahui keberadaannya.

Hari ini, Rabu (16/9/2026), pencarian memasuki hari kesembilan. Tim SAR Gabungan fokus menyisir tenggara Gunung Anak Krakatau (GAK).

Area seluas 3.439 NM² kembali disisir oleh Tim SAR Gabungan dengan mengerahkan 22 kapal dan melibatkan 570 personel. Ratusan personel itu bergerak membagi tugas di tengah luasnya lautan, menyusuri setiap titik yang sudah ditentukan.

Tujuannya satu, menemukan jejak delapan orang yang hingga kini belum diketahui keberadaannya.

Di tengah luasnya lautan yang terus disisir, Mansyur memilih menunggu dari sisi lain. Bukan dengan kapal, bukan pula dengan peralatan pencarian.

Ia menunggu dengan doa.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6