Bursa Saham Asia Melesat Ikuti Wall Street, Kospi Memimpin Hari Ini

Bursa saham Asia Pasifik menguat pada Rabu, (5/8/2026) mengekor wall street di tengah harga minyak dunia yang melemah.

Diterbitkan 05 Agustus 2026, 08:22 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Bursa saham Asia Pasifik menguat pada perdagangan saham Rabu, (5/8/2026) mengikuti wall street. Di bursa saham Asia, indeks Kospi di Korea Selatan memimpin kenaikan.

Mengutip CNBC, indeks Kospi menguat di atas 4%. Indeks Kosdaq yang berisi saham kapitalisasi kecil melonjak 1,6%. Indeks Nikkei 225 di Jepang bertambah 1,83% dan indeks Topix melonjak 0,9%. Indeks ASX 200 di Australia melambung 0,46%.

Sementara itu, indeks Dow Jones futures bertambah 0,2%. Indeks S&P 500 futures menguat 0,1% dan indeks Nasdaq 100 futures melemah 0,2%.

Penguatan bursa saham Asia Pasifik hari ini mengikuti wall street. Indeks S&P 500 dan Dow Jones mencetak rekor baru. Indeks S&P 500 menguat 1,79%, dan menyentuh level tertinggi baru sejak Juni di 7.736,52. Indeks Nasdaq melonjak 2,59% dan ditutup ke 26.584,99 didorong kenaikan saham Palantir Technologies sebesar 29%. Indeks Dow Jones melambung 907,47 poin atau 1,71% ke 54.085,88. Lonjakan Dow Jones didukung saham Caterpillar yang mendaki lebih dari 5%.

Mengutip the edge Malaysia, harga minyak mentah AS kembali turun pada awal perdagangan karena prospek kesepakatan sementara yang berfokus pada pembukaan kembali Selat Hormuz tampak menguat, menyusul penurunan harga minyak acuan global Brent hingga di bawah US$ 80 pada Selasa. Qatar menyatakan sebuah proposal telah disusun, sementara pejabat AS dan Iran mengungkapkan optimisme bahwa kesepakatan dapat dicapai.

Investor akan memantau apakah kemajuan menuju pembukaan kembali jalur pelayaran utama tersebut akan memperpanjang penurunan harga minyak baru-baru ini, sehingga meredakan tekanan inflasi dan memperkuat reli saham global. Biaya energi yang lebih rendah juga dapat memperkuat alasan bagi Federal Reserve untuk mempertahankan suku bunga tetap.

 

 

Pasar Bereaksi terhadap Pembukaan Kembali Selat Hormuz

"Pasar bereaksi terhadap kemungkinan bahwa pembukaan kembali Selat Hormuz dapat membantu menormalkan pasokan minyak global dan mengurangi tekanan harga energi dalam jangka pendek," ujar Tony Miano dari Wells Fargo Investment Institute.

"Harga minyak yang lebih rendah dapat meredakan kekhawatiran inflasi,” ia menambahkan.

Laporan kinerja keuangan terbaru perusahaan AS juga terus mendukung sentimen pasar; saham Caterpillar Inc melonjak setelah mencatat pertumbuhan kuat yang didorong oleh belanja pusat data. Saham McDonald’s Corp menguat setelah CEO Chris Kempczinski menyambut baik peluang untuk meningkatkan standar di AS dan mempercepat kinerja di pasar terbesar perseroan, meskipun pertumbuhan melambat selama dua kuartal berturut-turut.

Sementara itu, harga obligasi pemerintah AS (Treasuries) naik pada Selasa karena tanda-tanda kemajuan menuju penyelesaian diplomatik terkait konflik Iran mendorong penurunan harga minyak, sehingga membatasi ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed lebih dari satu kali pada tahun mendatang.

 

Sentimen Pasar Keuangan Global Lainnya

Imbal hasil (yield) turun sebesar empat hingga enam basis poin di berbagai tenor jatuh tempo. Imbal hasil obligasi tenor dua tahun mencapai level terendah sejak 20 Juli, sementara imbal hasil acuan tenor 10 tahun berada di angka 4,61%.

Indeks dolar Bloomberg tercatat sedikit melemah. Imbal hasil obligasi Treasury telah bergerak mengikuti harga minyak dengan tingkat korelasi yang bervariasi sejak AS menyerang Iran pada akhir Februari; hal ini turut mendorong kenaikan inflasi dan memperkuat argumen perlunya kebijakan moneter AS yang lebih ketat.

Di sektor ekonomi, jumlah lowongan kerja di AS sedikit menurun pada Juni, namun aktivitas perekrutan justru meningkat tipis, yang mengindikasikan permintaan tenaga kerja yang relatif stabil menjelang musim panas.

Menurut Bret Kenwell dari eToro, stabilitas tersebut memberikan ruang bagi The Fed untuk tetap fokus pada masalah inflasi, meskipun laporan ketenagakerjaan yang akan dirilis pada Jumat dapat dengan cepat mengubah arah pembicaraan.

"Angka yang sangat tinggi bisa memperkuat argumen untuk kenaikan suku bunga pada September, terutama mengingat tingkat inflasi yang masih tinggi," ujarnya.

"Namun, laporan yang mengecewakan ditambah dengan data pertumbuhan Produk Domestik Bruto pekan lalu yang lebih rendah dari perkiraan bisa memberikan alasan lebih kuat bagi The Fed untuk tetap mempertahankan suku bunga saat ini,” ia menambahkan.