Presiden Korea Selatan Dorong Pelucutan Nuklir Korea Utara Secara Bertahap

Korea Utara sejauh ini bersikeras menolak menanggalkan senjata nuklirnya.

Diterbitkan 23 September 2026, 11:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Seoul - Di tengah penolakan Korea Utara untuk berdialog dan meningkatnya uji coba rudal, Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung mendorong pendekatan bertahap untuk mengakhiri kebuntuan selama puluhan tahun terkait program nuklir Pyongyang.

Kepada Associated Press (AP), Lee mengatakan langkah pertama yang perlu dilakukan adalah menghentikan pengembangan kemampuan nuklir dan rudal Korea Utara. Setelah itu, persenjataan Pyongyang dikurangi secara bertahap hingga akhirnya menuju pelucutan nuklir. Pada setiap tahap, Korea Utara akan ditawari konsesi politik dan ekonomi sebagai imbalan atas kemajuan yang dicapai.

Namun, pendekatan tersebut diperkirakan tidak mudah dijalankan. Korea Utara selama ini menolak berunding mengenai persenjataan yang dianggapnya sebagai satu-satunya jaminan keamanan bagi kelangsungan rezim yang berkuasa.

Korea Utara belakangan semakin gencar melakukan uji coba senjata, meski Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump berupaya menghidupkan kembali jalur diplomasi.

Lee membawa gagasan tersebut dalam rangkaian Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York pekan ini. Ia menegaskan Korea Selatan dan AS sama-sama siap kembali berdialog dengan Korea Utara.

"Untuk mengubah arah kendaraan yang sedang melaju, kendaraan itu harus dihentikan terlebih dahulu," kata Lee dalam jawaban tertulis kepada AP sebelum bertolak ke AS pada Senin.

"Pendekatan bertahap berupa penghentian, pengurangan, dan pelucutan merupakan cara yang realistis untuk menyelesaikan persoalan nuklir Korea Utara secara efektif."

Lee berpidato dalam Sidang Majelis Umum PBB pada Selasa (22/9).

Lee Dorong Pelucutan Nuklir Korea Utara Secara Bertahap

Perkembangan program nuklir Korea Utara memunculkan pertanyaan apakah pelucutan nuklir negara itu masih bisa dilakukan sekaligus dalam satu tahap atau bahkan masih mungkin diwujudkan.

Trump bulan lalu mengatakan Korea Utara memiliki 57 senjata nuklir. Sementara itu, sejumlah pakar memperkirakan Pyongyang memiliki lebih dari 100 hulu ledak nuklir.

Banyak pihak kemudian mendorong pendekatan bertahap, yakni membujuk Korea Utara mengurangi hingga melepaskan persenjataan nuklirnya dengan imbalan keuntungan ekonomi dan politik.

"Mengingat kemampuan nuklir dan rudal Korea Utara telah berkembang sedemikian jauh, menunggu sampai denuklirisasi sepenuhnya dapat dicapai sekaligus bukanlah solusi yang realistis," ungkap Lee.

"Sebab, selama menunggu, kemampuan nuklir Korea Utara akan terus berkembang dan ancamannya pun semakin besar."

Lee baru-baru ini juga mendorong pembicaraan untuk secara resmi mengakhiri Perang Korea 1950-1953. Menurut dia, pembicaraan tersebut dapat membuka ruang untuk mencari cara membatasi program nuklir Korea Utara.

Namun, sebagian pihak khawatir pendekatan bertahap justru membuat Korea Utara enggan sepenuhnya meninggalkan program nuklirnya setelah memperoleh apa yang diinginkan, seperti keringanan sanksi.

Untuk mencegah hal tersebut, Lee mengatakan para perunding harus mampu meyakinkan Korea Utara bahwa "bergerak menuju perdamaian yang stabil dan berkelanjutan merupakan jalan yang realistis dan dapat ditempuh untuk mencapai masa depan yang aman dan sejahtera."

Korea Selatan dan AS Ingin Dialog Kembali dengan Korea Utara

Apa pun pendekatan yang ditempuh, belum ada kepastian Korea Utara bersedia kembali ke meja perundingan dalam waktu dekat.

Bulan lalu, Trump mengurangi skala latihan militer besar bersama Korea Selatan dengan alasan dirinya memiliki hubungan yang sangat baik dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un.

Namun, Korea Utara menepis langkah tersebut. Pyongyang mengatakan pengurangan sebagian kegiatan latihan tidak mengubah sifat latihan itu yang tetap dianggap provokatif.

Sejak itu, Korea Utara telah melakukan tiga rangkaian peluncuran senjata dan berulang kali mengecam apa yang disebutnya sebagai sikap bermusuhan AS. Para pakar menilai Pyongyang kemungkinan menginginkan konsesi yang lebih besar dari Washington.

Lee berharap dimulainya kembali diplomasi antara Trump dan Kim dapat membuka jalan bagi kembalinya dialog antara Korea Selatan dan Korea Utara.

Ia menyebut langkah Trump mengurangi skala latihan militer sebagai langkah yang disengaja untuk mengirimkan pesan yang jelas bahwa AS tidak memiliki niat bermusuhan terhadap Korea Utara.

Menurut Lee, Korea Selatan dan AS tetap terbuka untuk berdialog dengan Korea Utara tanpa prasyarat.

"Yang dibutuhkan sekarang adalah keputusan politik di tingkat pemimpin. Kedua pemimpin harus membangun kepercayaan dan bekerja sama mencari titik temu melalui pertemuan langsung," kata Lee.

Ingin Memperkuat Hubungan dengan AS

Pernyataan Trump di media sosial mengenai pengurangan skala latihan militer dengan Korea Selatan muncul tanpa konsultasi terlebih dahulu.

Dalam unggahan yang sama, Trump juga menyinggung apa yang disebutnya sebagai penolakan Lee untuk bergabung dengan AS dalam denuklirisasi Iran. Pernyataan itu memunculkan kekhawatiran mengenai hubungan aliansi antara Korea Selatan dan AS.

Lee mengakui keputusan Trump tersebut datang agak tidak terduga.

Namun, menurut Lee, Trump telah menunjukkan komitmen untuk menciptakan kondisi yang memungkinkan dialog kembali berlangsung sekaligus mengurangi konfrontasi di Semenanjung Korea.

Lee mengatakan kepentingan strategis Korea Selatan dan AS saling berkaitan erat di berbagai bidang. Ia pun berniat membangun kemitraan yang lebih saling menguntungkan selama sisa masa pemerintahan Trump.

Salah satu contohnya adalah rencana kerja sama di bidang pembuatan kapal. Menurut Lee, kerja sama tersebut tidak hanya dapat membantu menghidupkan kembali industri galangan kapal dan memperkuat kekuatan angkatan laut AS, tetapi juga membuka peluang pertumbuhan baru bagi perusahaan-perusahaan Korea Selatan.

Pada Jumat (18/9), Lee mengatakan tidak akan membiarkan militer Korea Selatan terseret ke dalam perang Iran.

Ia mengatakan pemerintahnya tengah mempertimbangkan perluasan operasi satuan angkatan laut Korea Selatan yang ditempatkan di Teluk Aden untuk melindungi kapal-kapal Korea Selatan serta jalur pengiriman minyak.

Â