Liputan6.com, Jakarta - Jumlah kerugian akibat penipuan yang dialami oleh investor ritel Korea Selatan meningkat menjadi sekitar US$ 250 juta atau Rp 4,45 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 17.810) pada semester I 2026. Nilai penipuan itu naik pada saat pelaku penipuan memanfaatkan fluktuasi pasar untuk mencari dana investor.
Hal itu berdasarkan data kepolisian yang dilihat Reuters, dikutip dari Channel News Asia, Sabtu (19/9/2026).
Data itu menunjukkan polisi menyelidiki 3.506 kasus yang terkait dengan chat room atau ruang obrolan pemberi rekomendasi saham yang melibat dana sebesar 336 miliar won atau US$ 246,57 juta dari Januari-Juni 2026. Indeks KOSPI di Korea Selatan merupakan tolok ukur saham dengan kinerja terbaik di dunia pada semester I 2026, tetapi sempat turun hingga 44% dari puncak pada 19 Juni 2026.
Advertisement
Meskipun jumlah kasus hanya meningkat 4,1% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, nilai uang yang terlibat melonjak 19,8%, menurut data tersebut.
Sejumlah pengacara yang berspesialisasi dalam penipuan keuangan mengatakan kepada Reuters para penipu memanfaatkan ketakutan investor akan ketinggalan momentum kenaikan harga yang tajam (fear of missing out atau FOMO) untuk membujuk mereka agar menyerahkan uang mereka. Investor ritel yang kurang berpengalaman dinilai paling rentan menjadi korban.
"Volatilitas menciptakan kondisi yang menguntungkan bagi organisasi kriminal," kata penyelidik Kim In-ho di Firma Hukum Jeongbyeok yang memiliki spesialisasi dalam membantu korban penipuan.
Modus Penipu
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4813938/original/075369100_1714122003-daniel-bernard-qjsmpf0aO48-unsplash.jpg)
Meskipun dalam beberapa tahun terakhir penipu di Korea Selatan lebih banyak menggunakan skema yang berfokus pada mata uang kripto dan properti, para pengacara menyebutkan bahwa modus penipuan berubah secara signifikan selama reli pasar tahun ini untuk mengincar investor saham ritel.
Salah satu taktik yang digunakan penipu adalah meninggalkan komentar pada video analis perusahaan sekuritas ternama atau influencer keuangan guna memancing pengikut tokoh-tokoh tersebut agar bergabung ke ruang obrolan pribadi.
Di dalam ruang obrolan tersebut, beberapa penipu memungut biaya berlangganan mulai dari ribuan hingga ratusan ribu dolar untuk rekomendasi saham, sementara yang lain membujuk korban untuk mentransfer uang sebagai modal investasi.
Para penipu menggunakan alasan reli KOSPI yang didorong oleh spekulasi besar-besaran menggunakan utang pada saham teknologi sebagai alasan untuk mengajak orang berinvestasi, ujar seorang pengacara. Setiap kasus dapat melibatkan beberapa korban, menurut keterangan polisi.
"Ketika volatilitas pasar meningkat, ketidakpastian pun bertambah, dan pada saat itulah psikologi investor ritel menjadi lebih goyah," kata Pengacara di Firma Hukum Wanbong, Lee Tae-kyung.
"Kelompok-kelompok ini memanfaatkan situasi tersebut dengan meminta orang-orang untuk memercayai mereka,” ia menambahkan.
Advertisement
Otoritas Tak Memiliki Data
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1694576/original/098412300_1503994463-20170829-Saham-Akibat-Rudal-Korut-AP3.jpg)
Otoritas pengawas keuangan Korea Selatan, Financial Supervisory Service (FSS), menyatakan tidak memiliki data mengenai kasus ruang obrolan yang memberikan rekomendasi saham ilegal dan penyelidikan kasus semacam itu merupakan tanggung jawab aparat penegak hukum. Regulator tersebut tidak menanggapi pertanyaan mengenai apakah ada rencana pembuatan aturan baru untuk melindungi investor.
Kepolisian Seoul menyatakan pada Juni bahwa mereka telah menangkap 10 orang setelah mengungkap sebuah sindikat penipuan yang beroperasi dari Kamboja dan menipu 59 warga Korea Selatan dengan total kerugian sekitar 9,9 miliar won atau Rp 127,13 miliar (asumsi won Korea Selatan terhadap rupiah 12,84) selama dua tahun hingga Februari.
Menurut polisi, anggota sindikat tersebut menyamar sebagai staf perusahaan sekuritas dan membujuk para korban untuk membeli saham yang direkomendasikan oleh kecerdasan buatan (AI) melalui aplikasi palsu; mereka menambahkan bahwa otak di balik penipuan itu adalah warga negara asing, sementara petugas pusat panggilan (call-center) adalah warga Korea.
Kasus tersebut telah dilimpahkan ke kejaksaan dan sedang menunggu jadwal persidangan, ujar polisi.
Cerita Investor
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3046087/original/088905900_1581323845-20200210-Pasar-Saham-di-Asia-Turun-Imbas-Wabah-Virus-Corona-4.jpg)
Seorang pekerja logistik asal Korea Selatan Jay, berusia 47 tahun, mengatakan kehilangan 60 juta won atau Rp 770,5 juta setelah terjebak dalam modus serupa pada Februari. Ia meminta agar hanya diidentifikasi dengan nama Inggrisnya karena keluarganya tidak mengetahui perihal uang yang telah hilang tersebut.
Pada Februari, ia bergabung dengan sebuah grup obrolan di Naver, platform daring asal Korea melalui video TikTok yang ia yakini diunggah oleh direktur sebuah perusahaan sekuritas ternama.
"Saat itu, banyak pembicaraan yang menyarankan agar tidak menanamkan uang di sektor properti, melainkan di saham," ujar Jay.
"Sentimen itu begitu kuat, dan saya pun ikut terbawa arus tanpa menyadarinya,” Jay menambahkan.
Meskipun awalnya ruang obrolan perdagangan tersebut hanya menyajikan ulasan pasar mengenai saham, para anggota kemudian mulai membicarakan keuntungan besar dari investasi bernilai ratusan ribu hingga jutaan won yang dilakukan melalui staf perusahaan tersebut.
Hal itu meyakinkan Jay untuk meminjam uang guna berinvestasi sebesar 20 juta won atau Ro 256,8 juta.
Pada akhirnya, diskusi beralih ke apa yang disebut kelompok itu sebagai peluang langka yang berpusat pada sebuah perusahaan konstruksi; perusahaan tersebut diprediksi akan mendapat keuntungan dari potensi rekonstruksi pascaperang di Iran.
Advertisement
Kehilangan Dana
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1694575/original/019523900_1503994463-20170829-Saham-Akibat-Rudal-Korut-AP2.jpg)
Jay kemudian mengirimkan tambahan dana sebesar 40 juta won atau Rp 513,6 juta kepada pengelola ruang obrolan, karena percaya bahwa orang tersebut adalah karyawan perusahaan sekuritas dan investasinya bisa melonjak hingga 600 persen.
Tak lama kemudian, aktivitas kelompok tersebut berhenti total dan grup itu dibubarkan pada April. Jay telah mengajukan laporan pidana kepada polisi serta gugatan perdata terhadap pemilik rekening bank tempat ia mentransfer uang tersebut. Reuters tidak dapat menghubungi pemilik rekening bank tersebut karena Jay tidak memiliki informasi kontak mereka.
Jeonbuk Bank, tempat rekening tersebut berada, menyatakan pihaknya mengetahui adanya kasus penipuan yang sedang terjadi dan akan berupaya terus meningkatkan sistem deteksi penipuan mereka. Naver menyatakan pihaknya menindak ruang obrolan semacam itu begitu menerima laporan dan kini memperketat pengawasannya.
Pihak kepolisian menolak mengonfirmasi rincian kasus Jay dengan alasan mereka tidak dapat memberikan komentar mengenai kasus perorangan.
Sementara itu, Jay telah mengambil dua pekerjaan sampingan untuk melunasi utang-utangnya.
"Saran saya bagi siapa pun yang baru terjun ke pasar saham adalah: ragukanlah setiap tips yang diberikan kepada Anda,” ujar dia.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9340558/original/047338600_1788510282-cek_fakta_-_BNI.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5491146/original/066985700_1770086696-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-02-03T094228.234.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9323076/original/064136000_1786599582-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-08-13T123857.729.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9351957/original/080906700_1789720927-cek_fakta_suahasil.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3522657/original/065387600_1627377386-bendera.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1409526/original/062736400_1479454522-Korea_Selatan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4647050/original/096680300_1699881296-Tempat_Sampah.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9347871/original/082698900_1789371708-ChatGPT_Image_14_Sep_2026__14.36.52.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9352169/original/056693800_1789732852-Foto_1_credit_WWF-Indonesia_Ilham_Andriansyah.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9346285/original/094214300_1789120119-file_0000000047f882308af83e40b22f096a.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1176605/original/028391000_1458444646-20160319-Earth-Hour-di-kawasan-Bundaran-HI-Fanani-4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3929526/original/096494900_1644470631-jesse-schoff-Ph2KtIqKs7c-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9349154/original/070984700_1789475303-WhatsApp_Image_2026-09-15_at_7.23.17_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5349953/original/059135700_1757945389-Bapenas.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9346936/original/048560000_1789222746-WhatsApp_Image_2026-09-12_at_19.50.01.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5010796/original/017006400_1731931573-20241117_084948.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3518881/original/000279300_1627027346-karbon_un.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9346407/original/065215400_1789134579-WhatsApp_Image_2026-09-11_at_8.17.12_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4813938/original/075369100_1714122003-daniel-bernard-qjsmpf0aO48-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9350595/original/027826100_1789623527-WhatsApp_Image_2026-09-17_at_12.37.01.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9350191/original/050158100_1789573597-Lip6IMG-20260916-WA0007.jpg)