Ilmuwan Temukan Kawah Baru di Bulan, Lebih Besar dari Koloseum Roma

Penemuan kawah ini dinilai langka. Simak penjelasannya berikut ini.

Diterbitkan 19 September 2026, 19:02 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Washington, DC - Para ilmuwan menemukan sebuah kawah baru di Bulan yang terbentuk akibat tumbukan dahsyat sekitar dua tahun lalu. Kawah berdiameter 222 meter dan sedalam 43 meter itu tercipta pada 2024, tetapi peristiwanya tidak terdeteksi saat terjadi.

Kawah tersebut merupakan kawah tumbukan terbesar di tata surya yang diketahui terbentuk pada masa modern. Peristiwa sebesar itu diperkirakan hanya terjadi sekitar sekali dalam 132 tahun.

Kelangkaannya membuat kawah tersebut menjadi sumber informasi yang sangat berharga bagi para ilmuwan, terutama ketika NASA tengah mempersiapkan pembangunan pangkalan bagi astronaut di Bulan.

"Secara statistik, peristiwa ini sangat langka dan pada dasarnya merupakan pengamatan yang mungkin hanya terjadi sekali seumur hidup," tulis para ilmuwan dalam salah satu dari dua studi mengenai temuan tersebut yang diterbitkan Rabu (16/9/2026) di jurnal Science Advances, seperti dilaporkan Associated Press.

Kawah itu sebenarnya sudah terekam oleh Lunar Reconnaissance Orbiter (LRO) milik NASA pada Mei 2024, tak lama setelah permukaan Bulan dihantam pecahan asteroid atau komet. Lokasinya berada di sisi Bulan yang menghadap Bumi.

Namun, tumbukan tersebut luput dari pengamatan langsung teleskop di Bumi maupun di luar angkasa. Foto-foto yang diambil kamera sudut lebar LRO juga tidak langsung dikenali di tengah banyaknya data yang dikumpulkan wahana tersebut.

Keberadaan kawah baru itu baru diketahui pada Agustus 2025. LRO kemudian mengambil gambar yang lebih terperinci pada musim gugur tahun lalu, sebelum penemuan tersebut dikonfirmasi pada awal tahun ini.

Kawah itu diberi nama McGetchin untuk mengenang mendiang Thomas McGetchin, mantan direktur Lunar and Planetary Institute di Houston. Ukurannya tiga kali lebih besar daripada kawah pemegang rekor sebelumnya yang ditemukan LRO sekitar satu dekade lalu.

Kawah-kawah besar sebenarnya bukan hal baru di Bulan. Permukaannya telah dipenuhi bekas tumbukan sejak zaman purba dan memiliki beberapa kawah terbesar di tata surya, termasuk satu yang membentang lebih dari 2.400 kilometer.

Tumbukan terbaru ini memberi para ilmuwan kesempatan untuk melihat lebih jelas bagaimana sebuah hantaman besar mengubah permukaan Bulan.

Tumbukan tersebut mengaduk material di permukaan Bulan hingga area yang membentang lebih dari 100 kilometer. Debu dan tanah berbatu juga terlontar dengan sudut yang lebih tinggi daripada yang diperkirakan, menurut Mark Robinson, kepala ilmuwan untuk kamera LRO yang bekerja di Intuitive Machines. Robinson merupakan penulis utama salah satu studi tersebut.

Dampaknya terlihat pula di sekitar kawah. Studi terpisah menemukan area bersuhu lebih rendah selebar 7 kilometer. Kondisi itu sesuai dengan perubahan yang terjadi ketika lapisan tanah paling atas di Bulan menjadi lebih longgar akibat tumbukan.

Salah satu penulis studi, David Paige dari University of California, Los Angeles, mengibaratkan proses tersebut seperti mengolah tanah saat berkebun.

"Sekarang kami melihat tumbukan sebagai proses yang mirip dengan mengolah tanah. Tumbukan mengaduk lapisan permukaan Bulan dan membawa material yang biasanya berada di bawah ke bagian atas," tutur Paige.

Pengaruh tumbukan semacam itu ternyata tidak berhenti di sekitar satu kawah. Berbagai kawah yang ditemukan LRO sejak diluncurkan pada 2009 menunjukkan bahwa permukaan Bulan terus mengalami perubahan akibat material yang terlontar.

Menurut Robinson, material yang terlontar dari berbagai tumbukan membuat lapisan teratas tanah Bulan setebal dua sentimeter teraduk sepenuhnya dalam kurun sekitar 80.000 tahun. Proses itu berlangsung lebih cepat daripada yang diperkirakan sebelumnya.

Temuan tersebut sekaligus membantah anggapan populer bahwa jejak kaki berdebu para astronaut Apollo di Bulan akan bertahan selamanya. Robinson mengatakan melalui email bahwa dalam rentang waktu tersebut, jejak itu pasti sudah lama hilang.

Pemahaman tentang bagaimana tumbukan mengubah permukaan Bulan penting bagi rencana eksplorasi manusia di masa depan. Selanjutnya, para ilmuwan akan menghitung risiko material yang terlontar akibat tumbukan terhadap pangkalan Bulan yang direncanakan NASA.

"Informasi itu akan membantu para insinyur memperkuat struktur sehingga kita tidak perlu mengkhawatirkan kerusakan atau setidaknya tidak terlalu mengkhawatirkannya," ungkap Robinson.