Surat Al-Baqarah Ayat 152 Lengkap Arti dan Kandungannya, Janji Allah bagi yang Berdzikir dan Bersyukur

Surat Al-Baqarah ayat 152 termasuk salah satu ayat penting dalam Al-Qur'an yang menjelaskan hubungan antara seorang hamba dan Allah

Diterbitkan 26 September 2026, 15:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Surat Al-Baqarah ayat 152 termasuk salah satu ayat penting dalam Al-Qur'an yang menjelaskan hubungan antara seorang hamba dan Allah SWT. Di dalamnya terdapat janji timbal balik yang akan diberikan Allah untuk hamba-Nya yang senantiasa mengingat-Nya dan bersyukur.

Pesan mendalam dalam ayat ini menunjukkan bahwa dzikir tidak sebatas mengucapkan kalimat-kalimat tertentu dengan lisan, tetapi juga berkaitan dengan kesadaran untuk selalu mengingat Allah dan menerjemahkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Merujuk jurnal Dhikr in Surah Al-Baqarah Verse 152 According to Syekh Ibnu Ajibah (An Analytical Study of the Book of Tafsir Bahrul Madid), Syekh Ibnu Ajibah dalam Al-Bahr al-Madid fi Tafsir al-Qur'an al-Majid menjelaskan bahwa perintah berdzikir dapat dipahami sebagai ajakan untuk menghadirkan Allah dalam setiap sisi kehidupan melalui ketaatan, kejernihan hati, dan kebersihan jiwa.

Dzikir juga tidak dapat dipisahkan dari rasa syukur. Dalam ajaran Islam, syukur dan sabar merupakan dua sikap penting yang menjadi bekal seorang Muslim dalam menjalani kehidupan.

Imam Al-Ghazali dalam Ihya' Ulumuddin menjelaskan pentingnya syukur sebagai bentuk pengakuan atas nikmat Allah. Syukur bukan hanya diucapkan melalui lisan, tetapi juga diwujudkan melalui hati dan perbuatan. Sedangkan sabar menjadi kekuatan ketika seseorang menghadapi ujian, kesulitan, atau keadaan yang tidak sesuai dengan harapan.

Merujuk berbagai sumber, berikut ini adalah ulasan menadalam Surat Al-Baqarah Ayat 152, Makna, Kandungan dan Hikmahnya.

Surat Al-Baqarah Ayat 152 Teks Arab, Latin dan Arti

فَاذْكُرُوْنِيْٓ اَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْا لِيْ وَلَا تَكْفُرُوْنِࣖ

Latin: Fadzkurūnī adzkurkum wasykurū lī wa lā takfurūn

Artinya: "Maka, ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku." (QS. Al-Baqarah: 152)

Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 152

Imam Ibnu Katsir dalam kitab Tafsir al-Qur'an al-Azhim menjelaskan bahwa ayat ini merupakan perintah Allah kepada orang-orang mukmin untuk mengingat-Nya sebagai bentuk syukur atas nikmat diutusnya Rasulullah SAW. Mujahid menafsirkan firman Allah "fadzkuruni" sebagai perintah untuk mengingat Allah melalui ketaatan, dan "adzkurkum" sebagai janji Allah untuk mengingat hamba-Nya dengan pahala dan ampunan.

Al-Hasan Al-Basri, Abul Aliyah, As-Saddi, dan Ar-Rabi' ibnu Anas menyatakan bahwa Allah senantiasa mengingat orang yang mengingat-Nya, menambah nikmat bagi yang bersyukur, dan mengazab orang yang ingkar.

Ibnu Katsir juga mengutip percakapan Nabi Musa AS dengan Allah: "Wahai Tuhan-ku, bagaimana aku bersyukur kepada-Mu?" Allah menjawab, "Ingatlah Aku dan jangan kamu lupakan Aku. Maka apabila kamu ingat kepada-Ku, berarti kamu telah bersyukur kepada-Ku. Apabila kamu lupa kepada-Ku, berarti kamu ingkar kepada-Ku."

Imam Al-Qurthubi dalam kitab Al-Jami' li Ahkam Al-Qur'an memaknai fadzkuruni adzkurkum sebagai perintah sekaligus jawaban yang mengandung makna pahala (al-mujazah), sehingga redaksinya sangat ditekankan.

Al-Qurthubi mengutip pendapat Sa'id bin Jubair bahwa makna ayat ini adalah "ingatlah Aku melalui ketaatan, maka Aku akan mengingatmu dengan pahala dan ampunan." Menurut Sa'id bin Jubair, siapa yang tidak taat kepada Allah maka ia tidak termasuk orang yang berdzikir, meskipun banyak melakukan tasbih, tahlil, dan membaca Al-Qur'an.

Al-Qurthubi juga menegaskan bahwa syukur sejati adalah ketika seorang hamba menggunakan nikmat Allah dengan cara yang bermanfaat, baik untuk dirinya maupun orang lain. Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Abdullah bin Busr bahwa seorang Arab Badui bertanya kepada Rasulullah SAW tentang sesuatu yang dapat dipegang teguh dari syariat Islam, dan beliau menjawab, "Hendaklah lisanmu senantiasa basah dengan dzikir kepada Allah."

Asbabun Nuzul Surat Al-Baqarah Ayat 152

Para mufassirin menjelaskan bahwa ayat ini turun berkaitan erat dengan ayat sebelumnya, yaitu QS. Al-Baqarah ayat 151 yang membahas nikmat Allah berupa diutusnya Rasulullah SAW kepada kaum Muslimin.

Ibnu Abbas menafsirkan bahwa nikmat yang dimaksud dalam ayat ini adalah nikmat berupa diutusnya Nabi Muhammad SAW kepada mereka. Diriwayatkan oleh Abusy Syaikh dan ad-Dailami dari jalur Jubair yang diterimanya dari adh-Dhahhak bahwa Ibnu Abbas menafsirkan ayat ini sebagai perintah untuk mengingat Allah sebagai bentuk syukur atas nikmat risalah tersebut.

Dengan kata lain, setelah Allah menyebutkan nikmat besar berupa pengutusan Rasul, menyucikan jiwa, dan mengajarkan kitab serta hikmah, maka Allah memerintahkan hamba-Nya untuk merespons dengan dzikir dan syukur.

Kandungan Surat Al-Baqarah Ayat 152

1. Perintah Dzikir

Dzikir dalam ayat ini tidak terbatas pada ucapan lisan, melainkan mencakup tiga dimensi: dzikir dengan hati (menghadirkan kesadaran akan kekuasaan dan kebijaksanaan Allah), dzikir dengan lisan (melafalkan pujian dan kalimat thayyibah), serta dzikir dengan perbuatan (menaati segala perintah Allah).

2. Janji Timbal Balik Allah

Allah menjanjikan bahwa siapa yang mengingat-Nya akan diingat pula oleh-Nya. "Mengingat" dalam konteks ini berarti Allah melimpahkan pahala, pertolongan, ampunan, dan kebahagiaan di dunia dan akhirat.

3. Perintah Bersyukur

Ayat ini memerintahkan hamba untuk bersyukur kepada Allah atas segala nikmat, terutama nikmat iman dan risalah. Syukur harus diwujudkan dalam hati, lisan, dan perbuatan.

4. Larangan Kufur Nikmat

Larangan "janganlah kamu ingkar kepada-Ku" berarti larangan mengingkari nikmat-nikmat Allah dan menggunakannya untuk berbuat maksiat. Kufur di sini berarti menutupi nikmat, bukan sekadar tidak mengakui keberadaan Allah.

5. Dzikir sebagai Ketaatan

Dzikir yang hakiki adalah ketaatan kepada Allah. Siapa yang taat kepada Allah maka ia telah berdzikir, meskipun amal ibadahnya sedikit. Sebaliknya, siapa yang durhaka kepada Allah maka ia telah lupa kepada-Nya, meskipun banyak beribadah.

Hikmah Memahami Surat Al-Baqarah Ayat 152

1. Ketenangan Hati dan Kesehatan Mental

Dzikir yang dilakukan dengan kesadaran penuh menghadirkan ketenangan batin yang berdampak langsung pada kesehatan mental. Penelitian menunjukkan bahwa praktik dzikir rutin secara signifikan menurunkan stres dan kecemasan. Sebagaimana firman Allah dalam Surah Ar-Ra'd ayat 28, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.

2. Terbentuknya Karakter Syukur

Memahami ayat ini menumbuhkan kesadaran untuk selalu bersyukur atas segala nikmat Allah, baik dalam keadaan lapang maupun sempit. Syukur mengajarkan seseorang untuk tidak mudah iri dan fokus pada apa yang dimiliki.

3. Kesadaran akan Pengawasan Allah

Dzikir yang terus-menerus melahirkan kesadaran bahwa Allah senantiasa mengawasi hamba-Nya. Kesadaran ini mendorong seseorang untuk selalu berbuat baik dan menjauhi perbuatan tercela.

4. Perlindungan dari Kufur Nikmat

Ayat ini memperingatkan bahwa mengingkari nikmat Allah akan berakibat pada pencabutan nikmat dan azab. Sebaliknya, syukur akan mendatangkan tambahan nikmat dari Allah.

5. Terwujudnya Kebahagiaan Sejati

Dzikir dan syukur membimbing seseorang menuju kebahagiaan sejati yang tidak bergantung pada materi. Kebahagiaan ini bersumber dari kedekatan dengan Allah dan ketenangan jiwa yang bersifat abadi.

 

Pertanyaan Seputar Surat Al Baqarah

1. Apa makna "fadzkuruni adzkurkum" dalam Surat Al-Baqarah ayat 152?

Frasa ini berarti "ingatlah kepada-Ku, maka Aku akan mengingatmu." Ibnu Katsir menjelaskan bahwa mengingat Allah dilakukan melalui ketaatan, dan Allah akan mengingat hamba-Nya dengan pahala, ampunan, dan pertolongan.

2. Apa perbedaan antara dzikir dengan lisan, hati, dan perbuatan?

Dzikir lisan adalah melafalkan pujian kepada Allah; dzikir hati adalah menghadirkan kesadaran akan kebesaran Allah; sedangkan dzikir perbuatan adalah menaati segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

3. Mengapa syukur dan sabar disebutkan berdampingan dalam Al-Qur'an?

Syukur dan sabar merupakan dua sikap yang saling melengkapi dalam menghadapi kehidupan. Syukur diwujudkan saat menerima nikmat, sedangkan sabar diwujudkan saat menghadapi musibah. Keduanya merupakan alat ukur keimanan seorang hamba.

4. Apa konsekuensi mengingkari nikmat Allah menurut ayat ini?

Mengingkari nikmat Allah (kufur) akan berakibat pada pencabutan nikmat dan azab dari Allah. Sebaliknya, syukur akan mendatangkan tambahan nikmat dan pahala.

5. Bagaimana cara mengamalkan Surat Al-Baqarah ayat 152 dalam kehidupan sehari-hari?

Pengamalannya dapat dilakukan dengan memperbanyak dzikir di setiap kesempatan, menjaga lisan untuk selalu menyebut nama Allah, serta mewujudkan syukur melalui perbuatan nyata seperti menggunakan nikmat Allah di jalan yang benar dan membantu sesama.