Kospi Lesu, Euforia Saham AI Mulai Memudar

Indeks Kospi di Korea Selatan meski sempat tertekan, tapi masih mencatat kenaikan pada 2026.

Diterbitkan 09 Juli 2026, 18:07 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Indeks saham acuan Korea Selatan, Kospi kini memasuki wilayah bearish atau melemah dalam beberapa minggu. Hal ini menjadi sorotan bagaimana investor telah kehilangan kepercayaan pada investasi kecerdasan buatan atau artificial intelligence dan menekankan risiko konsentrasi.

Mengutip CNBC, Kamis (9/7/2026), indeks Kospi anjlok lebih dari 5% pada Rabu pekan ini. Namun, indeks acuan di Korea Selatan itu ditutup sedikit naik tipis pada Kamis pekan ini di tengah perdagangan yang bergejolak.

"Penurunan harga saham Korea Selatan baru-baru ini didorong oleh meningkatnya skeptisisme terhadap AI dari investor global ditambah dengan konsentrasi pasar yang ekstrem,” ujar CEO Emmer Capital, Manishi Raychaudhuri dikutip dari CNBC.

Kecepatan pembalikan indeks acuan ini menyoroti faktor utama reli tahun ini. Salah satunya ketergantungan Korea Selatan yang berlebihan pada perdagangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Produsen chip Samsung Electronics dan SK Hynix menyumbang lebih dari setengah bobot Kospi pada Juni, demikian berdasarkan data Emmer Capital. Ketergantungan ekstrem itu telah mengangkat dan menurunkan indeks.

“Koreksi ini lebih didorong oleh posisi pasar daripada oleh memburuknya fundamental,” ujar pendiri Fibonacci Asset Management Global, Jung In Yun.

Ia menambahkan, saham Korea telah menjadi salah satu perdagangan AI yang paling ramai secara global setelah reli yang sangat kuat, sehingga tidak butuh banyak hal untuk memicu aksi ambil untung.

 

Sentimen yang Membayangi Kospi

Meningkatnya ketidakpastian global dan kekhawatiran peningkatan laba dapat melambat juga membuat investor lebih berhati-hati, meski ia menggambarkan penurunan Kospi sebagai penyesuaian yang sehat daripada perubahan fundamental dalam prospek.

Global Investment Strategist KB Financial Group, Peter Kim menilai, pergerakan itu juga mencerminkan pergeseran lebih luas dalam perilaku pasar modern. "Gamifikasi keuangan telah menyebabkan gejolak seperti itu yang kurang didorong oleh fundamental tetapi oleh arus berita dan tren,” ujar dia.

Ia menambahkan, arus dana ritel, dana yang diperdagangkan di bursa atau exchange traded fund (ETF) yang memakai leverage atau utang, dan konsentrasi yang didorong oleh AI telah membuat fluktuasi 5%-10% semakin umum. Indeks volatilitas Kospi telah naik lebih dari 200% sejak awal tahun.

Penyesuaian Valuasi

Indeks Kospi telah terpukul akhir-akhir ini meskipun laba yang kuat dari perusahaan-perusahaan seperti Samsung. Pada Selasa pekan ini, Samsung akan mencatat lonjakan laba, di tengah harga memori meningkat. Namun, saham Samsung melemah karena kekhawatiran tentang pengeluaran AI.

“Pasar mempertanyakan laju pertumbuhan laba daripada keberlanjutan permintaan AI itu sendiri,” ujar Jung.

“Perbedaan ini penting karena menunjukkan kita sedang melihat penyesuaian valuasi daripada akhir siklus AI,” ia menambahkan.

Adapun indeks Kospi masih menguat lebih dari 70% pada 2026. Pada tahun lalu, indeks Kospi telah melambung lebih dari 75%.

"Meskipun volatilitas mungkin akan berlanjut dalam jangka pendek, saya percaya prospek jangka menengah tetap konstruktif. Setelah sentimen risiko global stabil, investor asing akan kembali ke Korea mengingat peran sentralnya dalam rantai pasokan global AI,” ujar Jung dari Fibonacci.

 

Tergantung Kondisi Global

Namun, analis mengatakan, waktu pemulihan berkelanjutan di pasar saham Korea Selatan masih sulit diprediksi dan sebagian akan bergantung pada kondisi pasar global yang lebih luas.

Pencatatan saham SK Hynix di AS pada Jumat dapat memberikan dorongan jangka pendek bagi saham-saham memori, menurut Bulk. Komentar manajemen yang konstruktif tentang ketahanan siklus memori hingga paruh kedua 2026 dapat membantu mengangkat baik produsen chip maupun indeks Kospi secara keseluruhan.

"Pengungkapan pendapatan kuartal kedua tahun 2026 dari SK Hynix dan Samsung Electronics akhir bulan ini dapat menjadi pendorong positif lebih lanjut: komentar konstruktif dari kedua perusahaan tentang keberlanjutan siklus di paruh kedua tahun 2026 dapat mendukung saham dan pasar Korea secara lebih luas,”.