Liputan6.com, Jakarta - Panas menyengat membakar kulit siang itu. Tepat saat matahari berada di atas kepala, seorang pria dengan langkah tegap membawa chainsaw berjalan dari sebuah pondok sederhana.
Ia melintasi jalan setapak yang becek, mendaki dan menuruni perbukitan curam di Blok/Resort Tenggulun, Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh. Napasnya tak terengah. Di bukit yang ditujunya, ratusan batang kelapa sawit berusia muda sedang menanti ajal. Tanaman komoditas itu dipastikan tidak akan bisa hidup lebih lama lagi karena ditanam secara ilegal di dalam kawasan konservasi dunia, Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL).
Kawasan ini menjadi saksi bisu masifnya perambahan hutan. Kepala Balai Besar TNGL, Subhan, mengungkapkan bahwa total kawasan yang telah dirambah di lokasi ini mencapai 971 hektare. Lebih dari 300 hektare di antaranya telah disulap menjadi perkebunan kelapa sawit ilegal.
Advertisement
Direktur Green Justice Indonesia (GJI), Panut Hadisiswoyo, membongkar fakta miris di balik hijaunya kebun sawit ilegal di jantung Leuser tersebut. Menurutnya, keberadaan kebun sawit ini tidak terlepas dari praktik spekulasi lahan yang rapi.
"Banyak kawasan hutan dibuka, kemudian ditanami sawit agar terlihat produktif dan selanjutnya diperjualbelikan kepada pihak lain yang tidak mengetahui status kawasan tersebut," ungkap Panut di sela-sela aksi penumbangan sawit, Kamis (9/7/2026).
Modus ini, lanjut Panut, kerap menyasar para pemodal dari perkotaan yang tergiur keuntungan instan tanpa memeriksa legalitas lahan.
"Ini banyak sekali modus seperti ini. Contohnya banyak orang dari Medan, pengusaha-pengusaha dari Medan, dari kota, dari Banda Aceh, datang kemari misalnya tergiur karena ada lahan yang sudah punya sawit dijual. Inilah modus-modus yang memang sering terjadi," tambahnya.
Oleh karena itu, Panut menegaskan pentingnya penegakan hukum yang tegas serta peningkatan kesadaran bagi para calon investor agar tidak merusak wilayah yang memiliki fungsi ekologis fatal.
Hingga saat ini, negara telah berhasil menguasai kembali sekitar 711 hektare lahan yang dirambah, sementara 260 hektare sisanya masih dalam proses penyelamatan.
Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah V Besitang, Andoko Hidayat, menjelaskan bahwa operasi kali ini difokuskan untuk memusnahkan sisa-sisa tanaman sawit yang mencoba bersembunyi dari endusan petugas. Sebanyak 470 batang sawit yang berumur dua hingga empat tahun ditumbangkan secara manual menggunakan chainsaw.
"Setelah kami lakukan pemantauan menggunakan drone, ternyata masih ada sisa-sisa sawit yang tidak terjangkau alat berat saat operasi Satgas Penertiban Kawasan Hutan (PKH) pada November 2025 lalu. Hari ini kami melakukan penumbangan secara manual bersama OIC sebagai bagian dari pemulihan ekosistem," kata Andoko.
Setelah seluruh sawit ilegal ini dibersihkan, lahan tersebut akan langsung direstorasi total menggunakan jenis-jenis pohon hutan asli agar fungsi ekologisnya kembali seperti semula.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9292456/original/042271100_1783596938-172c9bf5-3c63-41e8-a522-c1c938787f59.jpg)
Jejak Kotoran Gajah di Antara Tumbangan Sawit
Harapan itu nyata dan berbau menyengat. Di antara semak belukar dan batang-batang kelapa sawit yang baru saja ditumbangkan di Resort Tenggulun, tumpukan kotoran gajah Sumatera tampak berserakan.
Bagi tim pemulihan ekosistem, kotoran tersebut bukan sekadar limbah, melainkan 'surat cinta' dari alam yang menandakan bahwa para penghuni asli Leuser belum pergi jauh. Mereka sedang menanti rumah mereka dikembalikan.
Resort Tenggulun merupakan bagian dari blok timur bentang alam Leuser yang memiliki nilai konservasi sangat tinggi.
Wilayah ini merupakan ruang jelajah bagi empat satwa kunci yang kini statusnya kian terancam punah, Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae), Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus), Orangutan Sumatera (Pongo abelii)
Badak Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis). Serta satwa pelengkap ekosistem seperti owa, siamang, dan gibbon (Hylobatidae).
“Tadi kita juga banyak melihat kotoran gajah memang berserakan di wilayah ini, tanda sebagai bukti bahwa ini adalah habitat satwa kunci. Oleh karena itu penting sekali untuk memulihkan, tidak hanya sebagai rumah satwa, tapi juga sebagai benteng pertahanan untuk menjaga kita,” beber Panut.
Pemulihan kawasan TNGL bukan sekadar urusan menyelamatkan satwa liar, melainkan urusan menyambung hidup jutaan manusia di hilir. Kawasan Tenggulun yang sempat dibabat menjadi kebun sawit ilegal merupakan daerah tangkapan air dan hulu dari sejumlah aliran sungai besar yang mengalir ke Kabupaten Aceh Tamiang.
Panut mengingatkan memori kelam pada November 2025 lalu, saat Aceh Tamiang dihantam banjir bandang dahsyat akibat rusaknya kawasan tangkapan air di hulu.
“Tamiang adalah daerah yang terparah mendapatkan bencana tahun lalu. Sehingga miliaran, bahkan triliunan rupiah itu hilang akibat kerusakan infrastruktur dan juga kehilangan berbagai sumber mata pencaharian masyarakat serta tempat tinggal. Ini (Tenggulun) adalah hulunya,” tegas Panut.
Proses restorasi ini diperkirakan memakan waktu 3 hingga 5 tahun. Melalui kolaborasi antara Balai Besar TNGL, Balai Gakkum Kehutanan Wilayah Sumatera, YOSL/OIC, dan GJI, sebuah skema berkelanjutan dibangun.
Tim mendirikan pondok penjagaan dan melibatkan masyarakat lokal secara aktif mulai dari proses pembibitan, penanaman pohon hutan, hingga patroli pengamanan kawasan agar para perambah tidak kembali datang.
Andoko menambahkan, TNGL memiliki luas total sekitar 830 ribu hektare, di mana 205 ribu hektare berada di wilayah Sumatera Utara khususnya Kabupaten Langkatdan sisanya membentang di Provinsi Aceh. Bentang alam raksasa ini menjadi penopang hidup bagi sedikitnya 2,4 juta penduduk yang bergantung pada pasokan air bersihnya.
"Penumbangan sawit hanyalah tahap awal. Selanjutnya kawasan akan direstorasi agar fungsi hutan kembali pulih dan dapat terus memberikan manfaat bagi satwa maupun masyarakat," pungkas Andoko.
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5532976/original/075889100_1773717683-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-03-17T102114.591.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5560136/original/057890300_1776659894-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-04-20T113652.901.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9291655/original/029171400_1783572083-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-07-09T113921.353.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9287484/original/056615100_1783229292-bansos_pkh_bpnt.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9292457/original/059125100_1783596938-151a4e5f-452d-4d86-b567-2151b61b3020.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1372312/original/042478500_1476321647-medan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4251091/original/011186900_1670306483-latihanspanyol2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9288083/original/090522600_1783298244-nor10.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8259009/original/093710600_1781434062-gabriel_magalhaes_ismael_saibari_brasil_maroko_ap_matt_slocum.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5339733/original/047775700_1757121903-MAROKO_2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8710894/original/015901700_1782791233-000_B8QK288.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8309678/original/024525200_1782176074-AP26174009363435-Prancis.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8380798/original/058541300_1782259430-Didier_Deschamps.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9288075/original/063090000_1783298243-nor2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8261560/original/020942400_1781744954-AP26168812020257.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9290414/original/058282700_1783480422-ko2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9288917/original/080096600_1783344072-78b84c0e-1f9d-427b-b9f6-ec60a675d072.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9287318/original/089605400_1783215327-WhatsApp_Image_2026-07-04_at_21.01.45.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8677741/original/019245400_1782723393-a1e38281-83f5-4e08-8e1c-0c7f95ea2c4f.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8649752/original/031346000_1782662878-aefec4de-b4c8-415c-a15d-25a823fbb470.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8420471/original/068070700_1782306664-c6db96b6-44c0-4db2-af93-79cf64401e57.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264074/original/052350200_1782081565-cea00853-4356-4a00-84ff-a2795e96f836.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8261342/original/081830600_1781697006-923e4095-a9f6-43e4-a26b-dead13983244.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8259879/original/090070600_1781517329-2589cf6f-f3ca-41e9-b754-1308aff39af9.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/6623639/original/051921100_1779454445-IMG_6939.jpg)