Direktur Utama Amman Mineral Beli 1,6 Juta Saham

Direktur Utama Amman Mineral (AMMN) Arief Sidarto kini memiliki 80,65 juta saham AMMN.

Diterbitkan 01 Juli 2026, 16:05 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Direktur Utama PT PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), Arief Widyawan Sidarto, menambah kepemilikan saham di perseroan sebanyak 1,6 juta lembar saham. Pembelian tersebut dilakukan pada 30 Juni 2026 dengan harga Rp 3.105 per saham.

Mengutip keterbukaan informasi BEI, Rabu (1/7/2026) dengan transaksi ini, kepemilikan saham Arief di AMMN meningkat dari 79.056.600 saham menjadi 80.656.600 saham. Kenaikan tersebut juga berdampak pada peningkatan porsi hak suara di perusahaan. Setelah pembelian 1,6 juta saham, total kepemilikannya naik menjadi 80.656.600 saham. Porsi hak suara pun ikut meningkat menjadi 0,111%.

Aksi pembelian ini dilakukan secara langsung oleh Arief Widyawan Sidarto sebagai transaksi investasi pribadi. Tidak ada keterangan bahwa transaksi tersebut dilakukan melalui skema korporasi atau program tertentu.

Kenaikan kepemilikan ini membuat Arief tetap menjadi salah satu pemegang saham individu di internal perseroan dengan porsi kepemilikan yang relatif stabil namun meningkat. Hal ini juga mencerminkan penambahan eksposur terhadap saham perusahaan yang dipimpinnya.

Kinerja Keuangan Amman

Adapun mengutip laman Amman, Perseroan membukukan laba bersih sebesar US$ 163 juta pada kuartal I 2026 dengan margin 20% dibandingkan dengan rugi bersih sebesar US$ 138 juta pada kuartal I 2025. Peningkatan profitabilitas yang signifikan ini mencerminkan faktor‑faktor telah dijelaskan sebelumnya. Sejak awal 2025, Perseroan hanya diizinkan menjual produk logam jadi, seperti katoda tembaga dan emas murni, tidak dalam bentuk konsentrat seperti pada 2024.

Namun demikian, Amman memperoleh izin ekspor konsentrat sementara pada 31 Oktober 2025, yang berlaku selama enam bulan hingga 30 April 2026. Penjualan bersih pada kuartal I 2026 mencapai US$ 808 juta yang mencerminkan peningkatan signifikan periode yang sama tahun lalu. Penjualan tersebut terdiri dari US$ 391 juta berasal dari katoda tembaga, US$ 82 juta dari emas murni, dan US$ 334 juta dari penjualan konsentrat. Penjualah bersih meningkat secara material karena kemampuan untuk menjual konsentrat serta ramp-up smelter yang berjalan secara stabil.

 

 

Intip Target Produksi AMMN pada 2026

Sebelumnya, PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) memprediksi produksi sebesar 900.000 metrik ton kering konsentrat yang mengandung 485 juta ton pon atau setara dengan 220.000 ton tembaga dan 579.000 ons emas.

Direktur Utama PT Amman Mineral Internasional Tbk, Arief Sidarto menuturkan, dari total produksi konsentrat tersebut, sekitar 500.000 metrik ton kering konsentrat akan diproduksi dari pabrik konsentrator yang sudah ada. Sementara sisanya sebesar 400.000 metrik ton kering akan berasal dari pabrik konsentrator yang baru, tergantung pada kemajuan proses komisioning.

"Seperti halnya ramp-up fasilitas baru pada umumnya, terdapat risiko eksekusi yang melekat,” ujar Arif dikutip dari keterangan resmi, Kamis (26/3/2026).

Ia menuturkan, operasi smelter terus menunjukkan perbaikan menuju akhir 2025 setelah penyelesaian perbaikan. Perseroan memperoleh izin ekspor konsentrat sementara pada 31 Oktober 2025, dengan kuota 480.000 dmt yang berlaku selama enam bulan.

“Hal ini memberikan fleksibilitas operasional sekaligus menjadi langkah mitigasi apabila proses ramp-up smelter menghadapi tantangan,” kata dia.

Ke depan, profil produksi konsentrat diperkirakan mengalami variasi seiring upaya menyeimbangkan produksi konsentrat dengan proses ramp‑up smelter. Memastikan utilisasi smelter yang stabil tetap menjadi prioritas utama, yang dapat memengaruhi waktu pengelolaan persediaan konsentrat dan penjualan.

“Pada tahap ini, kami belum dapat memberikan panduan produksi 2026 untuk katoda tembaga dan emas murni, mengingat fokus utama kami adalah mencapai kinerja smelter yang stabil dan berkelanjutan,” ujar dia.

 

Produksi Perseroan 2025

Volume material yang ditambang pada 2025 turun 9% dari tahun ke tahun (YoY). Penurunan ini wajar mengingat 2024 merupakan puncak volume penambangan, salah satu yang tertinggi sepanjang umur tambang Batu Hijau. Sesuai rencana tambang, setelah 2024 volume penambangan kembali normal.

Kegiatan penambangan sepanjang tahun berfokus pada pengupasan lapisan batuan penutup dan penambangan bagian terluar bijih Fase 8 yang ditandai dengan bijih berkadar rendah hingga menengah. Volume bijih segar yang ditambang meningkat 60% YoY; tetapi, kadar bijih lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya.

Sebagai dampaknya, jarak angkut yang lebih jauh, harga bahan bakar yang lebih tinggi, serta volume material yang ditambang yang lebih rendah, biaya penambangan per unit 2025 meningkat 10% YoY, dari USD 2,24/t menjadi USD 2,54/t.