IHSG Masih Bergejolak, Cek Rekomendasi Saham Sepekan

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi masih fluktuatif pada 25-29 Mei 2026. Sentimen ini akan menjadi perhatian pelaku pasar.

Diterbitkan 25 Mei 2026, 10:06 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan signifikan sepanjang perdagangan saham 18–22 Mei 2026 dengan koreksi 8,35% ke level 6.162,045. Bahkan, IHSG sepekan sempat menyentuh titik terendah tahun ini di level 5.966. Analis prediksi IHSG masih akan fluktuatif didorong sentimen domestik.

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Brigita Kinari, menilai pelemahan IHSG dipicu kombinasi sentimen global dan domestik, mulai dari kebijakan suku bunga tinggi bank sentral AS hingga kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia yang meningkatkan kekhawatiran investor terhadap perlambatan ekonomi.

“Kekhawatiran investor sempat diperparah oleh rencana implementasi kebijakan ekspor satu pintu untuk komoditas strategis seperti batu bara. Namun, munculnya rumor penundaan kebijakan tersebut hingga 1 Januari 2027 berhasil memicu rebound signifikan pada akhir pekan, khususnya didorong oleh lonjakan sektor basic materials (6,85%) dan energi (4,84%),” jelasnya dalam risetnya, yang diterima Liputan6.com, Senin (25/5/2026).

Meski tekanan pasar masih tinggi, aktivitas perdagangan justru meningkat. Nilai transaksi harian rata-rata tercatat naik 15,68% menjadi Rp 21,77 triliun, menandakan tingginya aksi reposisi portofolio di tengah volatilitas pasar.

Sentimen Sepekan

Untuk periode 25–29 Mei 2026, Brigita memperkirakan IHSG masih bergerak fluktuatif, meski ada peluang technical rebound terbatas. Pasar domestik dinilai masih menanti kepastian sejumlah sentimen, termasuk implementasi kebijakan ekspor satu pintu dan hasil penyesuaian indeks global.

“Perhatian investor domestik masih tertuju pada kepastian implementasi kebijakan ekspor satu pintu komoditas strategis melalui Danantara yang tetap efektif mulai 1 Juni 2026. Kepastian ini menyisakan volatilitas pada saham-saham energi dan bahan baku seiring langkah investor dalam menilai dampaknya terhadap struktur distribusi ekspor nasional,” jelasnya.

Secara teknikal, IPOT melihat IHSG masih berada dalam tren pelemahan jangka menengah dengan rentang support di 5.996–5.899 dan resistance pada 6.318–6.459.

"Momentum indeks juga masih relatif lemah tercermin dari indikator MACD yang bertahan di area negatif dan belum menunjukkan sinyal pembalikan arah yang kuat, sehingga penguatan yang terjadi sejauh ini masih dinilai sebagai rebound teknikal dan belum mengonfirmasi perubahan tren utama," tuturnya.

Saham yang Dapat Dicermati

1.MDKA

Buy MDKA (Entry: 2.720, Target Price (TP): 3.000, Stop Loss (SL): 2.610). MDKA secara price structure berhasil ditutup di atas EMA5 disertai spike volume, mengindikasikan momentum rebound jangka pendek mulai terbentuk. 

Brigita menilai, sentimen juga didukung aksi akumulasi asing dengan net buy mencapai Rp 691 miliar dalam sepekan terakhir, sehingga membuka peluang penguatan lanjutan selama harga mampu bertahan di atas area support terdekat.

2.BTPN

Buy BTPN (Entry: 2.380, Target Price (TP): 2.530, Stop Loss (SL): 2.310). BTPN bergerak uptrend dan masih konsisten bertahan di atas EMA5 hingga EMA50, mencerminkan momentum kenaikan yang masih terjaga. 

Menurut Brigita, pergerakan saham juga didukung aksi akumulasi asing dengan net buy sebesar Rp 2,3 miliar dalam sepekan terakhir, sehingga membuka peluang penguatan lanjutan selama harga mampu bertahan di area support terdekat.

3.ULTJ

Buy ULTJ (Entry : 1.635, Target Price (TP): 1.725, Stop Loss (SL): 1.590). ULTJ membentuk pola higher low (HL) dengan rebound di area EMA50, mengindikasikan tekanan jual mulai mereda dan peluang rebound jangka pendek mulai terbuka. 

Brigita menuturkan, momentum penguatan juga mulai terkonfirmasi dari indikator MACD yang bergerak naik dan mengarah ke area bullish crossover, sehingga memperbesar potensi lanjutan kenaikan selama harga bertahan di atas support terdekat.

 

 

Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual saham. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.

 

 

Kinerja IHSG Sepekan

Sebelumnya, laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok pada 18-22 Mei 2026. IHSG sepekan tertekan didorong sentimen internal dan eksternal, salah satu kebijakan suku bunga dari bank sentral Amerika Serikat (AS) atau the Federal Reserve (the Fed)  dan Bank Indonesia (BI).

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), ditulis Sabtu (23/5/2026), IHSG turun 8,35% ke posisi 6.162,04 dari pekan lalu di 6.723,32. Sementara itu, kapitalisasi pasar BEI terpangkas 10,07% menjadi Rp 10.635 triliun dari Rp 11.825 triliun pada pekan lalu.

Analis PT MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana menuturkan, selama sepekan ini pergerakan IHSG tertekan cukup dalam.Tekanan IHSG itu didorong sejumlah faktor. Pertama, aliran dana investor yang keluar dari akibat didepaknya beberapa emiten dari konstituen MSCI. Kedua, FOMC Minutes di mana hasilnya the Federal Reserve (the Fed) masih cenderung hawkish karena gejolak Timur Tengah sehingga membuat inflasi Amerika Serikat masih berada di atas 2%.

Ketiga, suku bunga acuan atau BI Rate naik 50 basis poin (bps) dengan menstabilkan nilai tukar rupiah. “Keempat, regulasi pemerintah akan komoditas yang menekan harga emiten-emiten komoditas,” tutur dia saat dihubungi Liputan6.com.

Kelima, ia menuturkan, pengumuman FTSE yang juga mengeluarkan beberapa emiten yangn akan membuat aliran dana investor kembali keluar.

“Pekan depan, kami perkirakan IHSG masih rawan koreksi mengingat adanya outflow akibat MSCI dan FTSE serta hari perdagangan yang cenderung pendek,” kata dia.

Selain itu, seluruh sektor saham tertekan. Sektor saham energi melemah 13,68 persen, sektor saham basic materials turun 16,31 persen, sektor saham industri terpangkas 11,70 persen, dan sektor saham consumer nonsiklikal tergelincir 5,37 persen.