Perkuat Pemulihan Pascabencana, Aceh Tengah Bangun Fasilitas Pengolahan Sampah

Sistem pengelolaan sampah di TPA tersebut menggunakan landfill yang dilengkapi geomembran, pipa resapan air, dan pipa gas.

Diterbitkan 13 Oktober 2026, 17:01 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Pembangunan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) atau landfill Uwer Tetemi di Desa Mulie Jadi, Kecamatan Silih Nara, Kabupaten Aceh Tengah, terus dipercepat.

Fasilitas yang dibangun oleh Kementerian Pekerjaan Umum tersebut dirancang untuk mendukung pengelolaan sampah melalui area landfill dan instalasi pengolahan lindi atau air limbah dari timbunan sampah.

Proyek ini merupakan bagian dari penanganan tanggap darurat pascabencana di Aceh yang semula mencakup empat kabupaten, yakni Gayo Lues, Aceh Tenggara, Aceh Selatan, dan Aceh Tengah. Saat ini, pekerjaan difokuskan pada dua lokasi, yaitu TPA Aceh Tenggara dan TPA Aceh Tengah.

Health, Safety, and Environment (HSE) Officer PT PP (Persero) Tbk, Adrai, mengatakan pembangunan TPA Uwer Tetemi meliputi landfill dengan panjang 100 meter, lebar 50 meter, dan tinggi 8 meter. Fasilitas lainnya mencakup instalasi pengolahan lindi (IPL), kolam pengumpul, kolam pengolahan anaerobik dan aerobik, serta bangunan kantor, jembatan timbang, dan jalan akses.

“Ketiga, bangunan kompleks. Ini untuk kantor, di jembatan timbang itu, beserta jalan yang menjadi akses,” kata Adrai.

Hingga saat ini, progres pembangunan telah mencapai 71,5 persen. Pekerjaan dimulai pada Juli dan ditargetkan selesai pada 10 Desember mendatang.

Adrai menjelaskan, sistem pengelolaan sampah di TPA tersebut menggunakan landfill yang dilengkapi geomembran, pipa resapan air, dan pipa gas. Sistem ini dirancang untuk mencegah air limbah dari timbunan sampah langsung meresap ke tanah serta menyalurkannya ke fasilitas pengolahan.

Lindi yang terkumpul selanjutnya dialirkan ke kolam pengolahan anaerobik dan aerobik. Kedua sistem tersebut memanfaatkan mikroorganisme untuk membantu menguraikan bahan organik dalam air limbah. Sementara itu, pipa gas berfungsi menyediakan jalur pelepasan gas yang dihasilkan dari penumpukan sampah.

Pembangunan fasilitas tersebut menghadapi sejumlah tantangan, terutama curah hujan tinggi dan keterbatasan akses pengiriman material dari luar daerah. Kerusakan jalan dan terbatasnya akses jembatan turut menyulitkan mobilisasi alat berat.

“Akses untuk mendatangkan material menjadi tantangan,” ujar Adrai.

Untuk mengejar target penyelesaian, pelaksana proyek memanfaatkan kondisi cuaca yang lebih cerah untuk menambah jam kerja atau melakukan lembur.

Ketua Tim Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pusat (Satgas PRRP) Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Imran, mengatakan penanganan pascabencana di Aceh Tengah memiliki tantangan tersendiri. Selain memulihkan infrastruktur, daerah tersebut perlu menjaga lingkungan dan potensi wisata alamnya.

Menurut Imran, pengelolaan sampah yang lebih baik dapat mendukung terciptanya kawasan wisata yang bersih dan nyaman bagi pengunjung.

“Kalau sampah teratasi, lingkungan wisata menjadi nyaman, aman dan manusiawi. Dengan sendirinya, masyarakat akan datang kembali ke Aceh Tengah untuk menikmati keindahan alamnya,” kata Imran.

Pembangunan TPA Uwer Tetemi diharapkan memperkuat pengelolaan sampah di Aceh Tengah sekaligus mendukung upaya menjaga kualitas lingkungan. Dengan progres pembangunan mencapai 71,5 persen, penyelesaian fasilitas pada Desember menjadi tahapan berikutnya agar sistem pengolahan sampah tersebut dapat segera dimanfaatkan.