Kebakaran di Way Kambas Sulit Padam, Ini Penyebabnya

BPBD Lampung Timur terus berupaya memadamkan api dengan dukungan personel dan peralatan khusus.

Diterbitkan 17 Oktober 2026, 19:55 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kebakaran hutan di Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Lampung Timur, masih sulit dikendalikan. Selain medan terjal dan perambatan titik api baru, keberadaan bara di dalam tanah gambut membuat pemadaman membutuhkan penanganan ekstra melalui jalur darat dan udara.

Keterbatasan selang panjang untuk menembus area gambut mendalam turut memperlambat upaya pemadaman.

Kepala Pelaksana BPBD Lampung Timur, Muhammad Ridwan, mengonfirmasi timnya terus bersiaga dan menambah empat personel ke kawasan Tegal Gede pada Sabtu (17/10/2026).

“Selama masih ada kebakaran, kami masih terjun. Hari ini kami turunkan lagi personel ke Tegal Gede,” kata dia kepada wartawan.

Ridwan menjelaskan, karakteristik lahan menjadi kendala utama pemadaman kebakaran hutan di TNWK. Api tidak hanya membakar vegetasi permukaan, tetapi juga menyisakan bara di lapisan bawah tanah gambut yang berpotensi memicu api kembali meski bagian atas sudah padam.

Oleh karena itu, operasi pemadaman tidak cukup hanya mengandalkan udara. Dukungan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dan water bombing dari BNPB harus berjalan beriringan dengan penyisiran jalur darat guna mematikan bara tersembunyi serta mengantisipasi munculnya titik api baru.

“Lahannya lumayan luas dan bergambut. Jadi, harus dua jalur, dari udara dan dari darat,” ungkap Ridwan.

 

Kebutuhan Peralatan

Kebutuhan peralatan pendukung kini menjadi perhatian utama dalam pemadaman kebakaran hutan di TNWK. BPBD Lampung Timur memerlukan selang khusus berjarak panjang dan bercabang, sumber air dari sumur bor, serta armada helikopter water bombing guna menembus lokasi api yang terisolasi.

Meski pasokan selang standar terbilang memadai, Ridwan menilai petugas di lapangan masih membutuhkan selang spesifikasi khusus seperti yang digunakan dalam penanganan kebakaran hutan di Kalimantan.

Peralatan tersebut krusial untuk mengalirkan air dari armada tangki, pompa alkon, maupun kempu penampung ke titik-titik yang tak terjangkau kendaraan.

“Kalau selang sih sudah banyak menurut saya, Bang. Cuma yang tipe selang khusus mungkin, seperti di Kalimantan,” jelas Ridwan.

Kebakaran hutan di TNWK, kata dia, diperkirakan telah membakar puluhan hektare lahan, diantaranya 10 hektare di Resort Susukanbaru dan 28 hektare di Resort Cabang Dua Bungur.

Ridwan menyebut rentetan kebakaran hutan yang terjadi sejak 22 Agustus 2026 ini masih memicu titik api baru, sementara dugaan penyebabnya kini ditangani kepolisian.

 

"Untuk penentuan penyebab kebakaran, termasuk dugaan adanya unsur kesengajaan, merupakan kewenangan aparat penegak hukum," tandasnya.