Liputan6.com, Jakarta - Rumah yang rusak akibat gempa Bogor Magnitudo 4,1 Kamis lalu bertambah dari 17 menjadi 253 unit. Hal itu diungkap Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Kepala Seksi Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Bogor Andi Sumardi di Bogor, Sabtu (17/10/2026), mengatakan kerusakan tersebut tersebar di tiga desa pada dua kecamatan, yakni Pamijahan dan Leuwiliang.
Berdasarkan hasil pendataan sementara, sebanyak 253 rumah terdampak terdiri atas 222 rumah rusak ringan, 25 rumah rusak sedang, dan enam rumah rusak berat.
Advertisement
Kerusakan terbanyak terjadi di Desa Purwabakti, Kecamatan Pamijahan, dengan jumlah 106 rumah, terdiri atas 97 rumah rusak ringan, enam rusak sedang, dan tiga rusak berat.
Kemudian di Desa Cibunian, Kecamatan Pamijahan, tercatat 76 rumah mengalami kerusakan, meliputi 70 rumah rusak ringan dan enam rusak sedang.
Sementara di Desa Purasari, Kecamatan Leuwiliang, sebanyak 71 rumah mengalami kerusakan, terdiri atas 55 rumah rusak ringan, 13 rusak sedang, dan tiga rusak berat.
Selain rumah warga, BPBD mencatat lima sarana ibadah mengalami kerusakan ringan, masing-masing tiga unit di Desa Purwabakti dan dua unit di Desa Cibunian.
Gempa tersebut juga mengakibatkan satu warga mengalami luka ringan di Kampung Cikupa RT 02/RW 17, Kecamatan Pamijahan.
Korban merupakan seorang perempuan yang telah mendapatkan penanganan medis di klinik kesehatan setempat.
Berdasarkan informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang tercantum dalam laporan BPBD, gempa magnitudo 4,1 berpusat sekitar 26 kilometer barat daya Kota Bogor dengan kedalaman lima kilometer.
BPBD sebelumnya mengerahkan Tim Reaksi Cepat Penanggulangan Bencana (TRC-PB) untuk melakukan kaji cepat, mendata kerusakan bangunan, serta berkoordinasi dengan pemerintah kecamatan dan desa dalam penanganan warga terdampak.
Hasil asesmen awal menunjukkan kerusakan bangunan didominasi pada bagian dinding yang retak hingga hancur, serta kerusakan plafon dan atap rumah.
BPBD Kabupaten Bogor masih melakukan rekapitulasi dampak gempa sehingga jumlah rumah rusak maupun fasilitas terdampak berpotensi berubah sesuai hasil pendataan lanjutan.
Gempa Kecil Mengapa Sangat Merusak?
Wilayah Kab Sukabumi dan Kab Bogor diguncang 2 gempa tektonik dangkal dlm selang waktu kurang dari 10 menit. Gempa pertama episenter terletak pada koordinat 6,73 LS dan 106,61 BT berkekuatan M3,5 terjadi pukul 17.49.43 WIB dgn kedalaman 9 km, berpusat sekitar 3 km barat laut Kabandungan. Gempa kedua episenter terletak pada koordinat 6,73 LS dan 106,60 BT berkekuatan M4,1 terjadi pukul 17.58.22 WIB dgn kedalaman 5 km, berpusat sekitar 4 km barat laut Kabandungan.
Guncangan kedua gempa dirasakan cukup kuat di wilayah Kabandungan, Sukabumi, dan Pamijahan, Bogor, mencapai intensitas IV MMI. Pada intensitas ini, guncangan dirasakan bnyk orang di dlm rumah, pintu dan jendela berderik, serta benda-benda dapat bergoyang.
Hingga Jumat, 16 Okt 2026, pukul 01.00 WIB, BMKG mencatat 5 gempa susulan dengan magnitudo berkisar M1,6 hingga M2,4 setelah gempa M4,1.
Sementara itu, Anggota Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI) Daryono menjelaskan mengapa gempa berkekuatan kecil namun bisa merusak. Dari perspektif seismologi, kedua gempa yang terjadi termasuk jenis shallow crustal earthquake, yaitu gempa tektonik yang sumbernya berada pada kerak bumi bagian dangkal.
"Aktivitas ini diduga kuat berkaitan dengan pergerakan sesar aktif di sekitar Kabandungan. Namun, identifikasi sesar penyebab secara definitif memerlukan analisis lebih lanjut terhadap lokasi hiposenter, mekanisme sumber, dan kondisi tektonik setempat," katanya.
Terdapat 3 faktor penting yang dapat menjelaskan kerusakan akibat gempa bermagnitudo kecil tersebut.
Pertama, sumber gempa sangat dangkal. Kedalaman hiposenter hanya 5–9 km, sehingga energi gelombang seismik menempuh lintasan relatif pendek menuju permukaan. Pada lokasi yang dekat dengan sumber, guncangan dapat terasa kuat meskipun magnitudo gempa kecil.
Kedua, kerentanan struktur bangunan. Rumah dengan konstruksi yang tidak memenuhi prinsip bangunan tahan gempa, seperti sambungan antarelemen struktur yang lemah, tidak adanya pengikat struktural yang memadai, serta kualitas material yang rendah, lebih mudah mengalami kerusakan ketika menerima guncangan.
Ketiga, pengaruh kondisi tanah setempat atau local site effect. Lapisan tanah lunak atau endapan lepas tertentu dapat memperkuat amplitudo guncangan seismik (seismic amplification). Dalam kondisi tertentu, kesesuaian frekuensi dominan getaran tanah dengan frekuensi alami bangunan dapat meningkatkan respons getaran melalui fenomena resonansi. Pengaruh ini perlu dibuktikan melalui kajian kondisi tanah dan respons seismik setempat.
"Dengan demikian tingkat kerusakan merupakan hasil interaksi antara karakteristik sumber gempa (source), perambatan gelombang (path), kondisi tanah (site), dan kerentanan bangunan (structural vulnerability)," katanya.
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5569782/original/065699500_1777454729-Tugas__2_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3490146/original/023335400_1624374674-Chatbot_WA_Cek_Fakta3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9324489/original/034633400_1786708826-cek_fakta_balik_nama.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9375486/original/079437900_1792149415-cek_fakta_-OJK_pinjol.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9375929/original/027077900_1792258050-gempa_bogor.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9374953/original/008947000_1792115215-1.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5312560/original/060717400_1754968440-WhatsApp_Image_2025-08-12_at_09.48.53_5f3125cb.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9373598/original/035832400_1791969676-Mesin_Pencacah_Sampah_3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9372965/original/088403400_1791939609-WhatsApp_Image_2026-10-13_at_2.07.21_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9355267/original/005978200_1790095519-Menagg.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9371001/original/004173100_1791721798-WhatsApp_Image_2026-10-11_at_6.54.17_AM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5582945/original/056926200_1778132999-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4192232/original/046280400_1665758549-IMG_20221014_193652.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4953473/original/059895800_1727324477-Screenshot__199_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3439060/original/027890100_1619331962-WhatsApp_Image_2021-04-25_at_08.18.15.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5501317/original/009183900_1770893383-Foto_Ilustrasi__1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9375517/original/018684000_1792152586-496183.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9374753/original/077556300_1792063607-Screenshot_2026-10-15_182237.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9372210/original/047857400_1791871543-IMG-20261013-WA0046.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9370770/original/077615700_1791690898-20261011103316.mmi.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9370190/original/004033500_1791592927-Gempa.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9369504/original/075982200_1791526614-224ef448-d6c7-469b-8f3f-14f07ee1f4b4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8258509/original/024077700_1781354124-gempa_bitung_ok.jpg)