⁠Soroti BPA pada Galon Guna Ulang, Riset UNAIR Temukan Kaitan dengan Riwayat Alergi

Riset UNAIR menemukan hubungan paparan BPA pada air minum kemasan dengan riwayat alergi. Simak temuan lengkap dan penjelasan penelitinya.

Diterbitkan 31 Juli 2026, 18:44 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Penelitian UNAIR temukan korelasi lemah BPA AMDK dengan alergi dewasa.
  • BPA terdeteksi di semua sampel AMDK, namun kadarnya masih dalam batas aman.
  • Paparan BPA jangka panjang perlu diwaspadai, terutama bagi kelompok rentan.

Liputan6.com, Jakarta - Penelitian terbaru dari Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga (UNAIR) menemukan adanya korelasi antara paparan Bisphenol A (BPA) melalui konsumsi air minum dalam kemasan (AMDK) dengan peningkatan riwayat alergi atau hipersensitivitas pada orang dewasa, meskipun dalam korelasi yang sangat lemah. 

Temuan tersebut dipublikasikan dalam jurnal ilmiah AIMS Environmental Science edisi 2025. Dalam publikasi tersebut, tim peneliti menyebutkan bahwa terdapat hubungan statistik antara paparan BPA melalui konsumsi AMDK dengan gangguan pada sistem imun.

BPA merupakan senyawa kimia yang umum digunakan dalam pembuatan plastik polikarbonat untuk berbagai kebutuhan, termasuk sebagian jenis kemasan galon air minum. Selama ini, pembahasan mengenai BPA lebih banyak dikaitkan dengan potensi dampaknya terhadap kesehatan reproduksi maupun risiko penyakit tertentu. Namun, pengaruhnya terhadap sistem kekebalan tubuh juga mulai mendapat perhatian melalui berbagai penelitian ilmiah.

Dr. Sudarmaji, S.KM., M.Kes., dosen Departemen Kesehatan Lingkungan FKM Unair sekaligus anggota tim peneliti, mengatakan bahwa hasil penelitian tersebut sejalan dengan sejumlah studi yang telah dilakukan sebelumnya.

"Selama lebih dari satu dekade terakhir, cukup banyak penelitian eksperimental maupun epidemiologi yang melaporkan bahwa pajanan BPA berpotensi memengaruhi sistem imun. Hasil penelitian kami menjadi tambahan bukti ilmiah, khususnya dari Indonesia, bahwa pajanan BPA melalui air minum dalam kemasan layak terus dipantau sebagai isu kesehatan lingkungan," ujarnya.

Penelitian Libatkan 96 Responden Dewasa

Penelitian dilakukan di Kelurahan Tambak Wedi, Surabaya, dengan melibatkan 96 responden dewasa yang rata-rata mengonsumsi sekitar dua liter air per hari selama kurang lebih 31 tahun.

Selain itu, tim peneliti juga melakukan pengujian laboratorium terhadap sampel dari 10 merek air minum dalam kemasan botol 500 ml yang beredar. Hasil pengujian menunjukkan seluruh sampel yang diteliti mengandung BPA dengan kadar tertinggi mencapai 0,099 µg/L. Dalam artian, kadar BPA yang ditemukan masih berada dalam batas yang diperbolehkan berdasarkan regulasi yang berlaku.

Dalam analisis penelitian tersebut, paparan BPA pada responden tercatat memiliki korelasi positif dengan riwayat gangguan hipersensitivitas (alergi), meskipun masih bersifat rendah. Sudarmaji menjelaskan, secara biologis BPA diduga dapat meningkatkan stres oksidatif dan memicu proses inflamasi.

"Akibatnya, pada individu tertentu, respons imun dapat menjadi tidak seimbang sehingga lebih mudah muncul reaksi hipersensitivitas atau alergi," paparnya.

Paparan Jangka Panjang Perlu Menjadi Perhatian

Menurut Sudarmaji, potensi dampak tersebut perlu dipahami dalam konteks paparan jangka panjang.

"Rata-rata responden mengonsumsi sekitar dua liter air per hari dengan durasi konsumsi sekitar 31 tahun. Pajanan kumulatif jangka panjang tetap perlu menjadi perhatian," jelasnya.

Ia menambahkan bahwa kelompok yang dinilai lebih rentan terhadap potensi efek imunotoksik antara lain janin, bayi, anak-anak, ibu hamil, serta individu dengan sistem kekebalan tubuh yang belum berkembang sempurna atau sedang mengalami gangguan.

"Temuan ini menjadi sinyal ilmiah bahwa pajanan BPA tetap perlu dikendalikan, terutama melalui pengawasan mutu kemasan pangan, edukasi masyarakat, dan penelitian lanjutan," tutupnya.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6