8 Juli 2003: Operasi Pisahkan Kembar Siam di Iran Berakhir Tragis

Laleh dan Ladan Bijani, kembar siam asal Iran melakukan prosedur pemisahan pada 8 Juli 2003.

Diterbitkan 08 Juli 2026, 06:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Singapura - Laleh dan Ladan Bijani, sepasang kembar siam yang menjalani operasi pemisahan di usia mereka ke-29 tahun pada 8 Juli 2003.

Dikutip dari BBC, Rabu (8/7/2026), operasi pemisahan ini dinilai sangat berbahaya, sebab kemungkinan berhasilnya hanya 50 persen.

Meskipun si kembar mengetahui kemungkinan yang rendah ini, mereka tetap memilih untuk menjalani prosedurnya.

Ketua Rumah Sakit Raffles, Dr. Loo Choon Yong berkata bahwa prosedur ini sangat berisiko, dan salah satu skenario yang mungkin terjadi adalah kehilangan keduanya.

“Saat kami menghadapi tantangan ini, kami tahu risikonya sangat besar, dan salah satu skenario yang dapat terjadi adalah kami bisa kehilangan mereka,” ujarnya.

Dalam prosesnya, operasi tersebut memakan waktu selama tiga hari dan diketahui bahwa kedua otak si kembar sudah menyatu.

Para dokter bedah yang menangani mereka membutuhkan 21 jam untuk memisahkan otak si kembar per milimeter, sesuatu yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya.

Keduanya pada akhirnya terpisah, tapi nyawa mereka tidak dapat diselamatkan. Pasalnya, mereka kehilangan banyak darah.

Mereka dapat dipisahkan setelah 53 jam proses operasi. Namun, 30 menit setelahnya, sirkulasi darah Ladan mulai terganggu. Tim yang terdiri dari 28 dokter dan 100 asisten telah berusaha sekuat  tenaga, tapi akhirnya Ladan meninggal dunia.

Setelah Ladan wafat, operasi tetap dilanjutkan. Tetapi, sirkulasi Laleh juga terganggu dan ia pun meninggal 90 menit kemudian.

Dalam sejarahnya, operasi ini adalah prosedur pertama pemisahan kembar siam yang sudah dewasa. Proses pemisahan kembar siam sudah berhasil dilakukan sejak 1952, tapi pasiennya adalah anak-anak, yang bisa pulih secara lebih cepat.

Si kembar menjadi tokoh nasional Iran atas keberanian mereka dan prestasinya di bidang akademik setelah menyelesaikan studi hukum mereka.

“Kami berdua memilih untuk memulai ini semua, dan kami berharap operasi kami bisa membawa kemudahan dan memberikan kesempatan agar kami bisa hidup sebagai dua orang yang berbeda,” tulis mereka kepada para pendukung yang dipublikasi di situs Rumah Sakit Raffles.