Trump: AS Tak Terburu-buru Akhiri Perang, Iran yang Dikejar Waktu

Perang Iran belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir, sementara instabilitas global terus meningkat

Diterbitkan 24 April 2026, 15:59 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Washington, DC - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada Kamis (23/4/2026), mengatakan bahwa AS tidak terburu-buru mengakhiri perang dengan Iran, namun memperingatkan bahwa waktu terus berjalan bagi republik Islam tersebut, di saat kapal induk ketiga tiba di kawasan Timur Tengah.

Media Iran melaporkan adanya ledakan di wilayah Teheran, yang merupakan kejadian pertama sejak gencatan senjata yang semakin rapuh mulai berlaku dua pekan lalu.

Belum jelas apa penyebab ledakan tersebut. Seorang sumber keamanan Israel mengatakan kepada AFP bahwa negaranya saat ini tidak sedang menyerang Iran.

Sementara itu, rencana pembicaraan damai di Pakistan berada di ujung tanduk, tanpa tanda-tanda kembalinya diplomasi untuk mengakhiri kebuntuan di Selat Hormuz.

Sejak Donald Trump memperpanjang gencatan senjata perang Iran tanpa batas waktu, AS dan Iran mengalihkan fokus mereka ke Selat Hormuz, jalur perairan yang diblokade dan biasanya dilalui oleh seperlima ekspor minyak serta gas alam cair dunia.

"Saya punya banyak waktu, tapi Iran tidak — waktunya terus berjalan," tulis Trump di media sosial.

Ia menambahkan bahwa militer Iran telah hancur, para pemimpinnya sudah tidak ada lagi, dan blokade yang diterapkan AS sangat rapat serta kuat, yang menurutnya akan membuat situasi semakin memburuk.

Trump — yang pada Kamis juga menegaskan tidak akan menggunakan senjata nuklir terhadap Iran — sebelumnya telah memerintahkan Angkatan Laut AS untuk menghancurkan setiap kapal Iran yang tertangkap sedang menanam ranjau di Selat Hormuz.

 

Israel Menanti Lampu Hijau AS

 

Menurut militer AS, kapal induk USS George H.W. Bush telah tiba di Timur Tengah pada Kamis, sehingga total kapal induk AS yang beroperasi di kawasan tersebut menjadi tiga. Dari jumlah itu, menurut unggahan media sosial CENTCOM, satu kapal induk beroperasi di Laut Merah, sementara satu lainnya juga berada di kawasan tersebut.

Kantor berita negara Iran, IRNA, mengatakan bahwa suara tembakan pertahanan udara terdengar di wilayah barat Teheran, sementara kantor berita Mehr melaporkan bahwa sistem pertahanan udara diaktifkan di beberapa bagian ibu kota untuk menghadapi "target musuh".

Sebelumnya, armada AS menaiki sebuah kapal di Samudra Hindia yang mengangkut minyak dari Iran dan seorang pejabat senior Iran mengatakan bahwa Teheran telah menerima hasil pertama dari pungutan yang dikenakan terhadap kapal-kapal yang melintasi selat tersebut.

Trump mengatakan bahwa ia memerintahkan Angkatan Laut AS untuk menembak dan membunuh kapal apa pun, termasuk kapal kecil, yang menanam ranjau di perairan Strait of Hormuz.

Trump menyatakan pula, tanpa memberikan bukti, bahwa AS memiliki kendali penuh atas Selat Hormuz.

"Tidak ada kapal yang bisa masuk atau keluar tanpa persetujuan Angkatan Laut AS. Ini 'tertutup rapat', sampai Iran bersedia membuat KESEPAKATAN!!!," tulisnya.

Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, sementara itu mengatakan, "Kami menunggu lampu hijau dari AS — pertama dan terutama untuk menyelesaikan penghapusan dinasti Khamenei … dan juga untuk mengembalikan Iran ke Zaman Kegelapan dan Zaman Batu."

Iran sendiri bersumpah akan tetap menutup selat tersebut kecuali untuk sejumlah kecil kapal yang disetujui selama Angkatan Laut AS memblokade pelabuhannya, serta menolak tuntutan Trump untuk membuka kembali Selat Hormuz dan menyerahkan uraniumnya yang telah diperkaya.

Surat kabar Washington Post, mengutip penilaian Pentagon, sebelumnya melaporkan bahwa diperlukan waktu enam bulan untuk sepenuhnya membersihkan Selat Hormuz dari ranjau yang dipasang Iran. Menurut laporan itu, para anggota parlemen AS diberi tahu bahwa Iran mungkin telah menempatkan 20 atau lebih ranjau di sekitar selat tersebut, beberapa di antaranya dikendalikan dari jarak jauh menggunakan teknologi GPS sehingga lebih sulit dideteksi.

Seorang juru bicara Pentagon mengatakan kepada AFP bahwa laporan tersebut berdasarkan "briefing tertutup yang bersifat rahasia", namun banyak informasinya "tidak benar".

"Penutupan Selat Hormuz selama enam bulan adalah hal yang mustahil dan sama sekali tidak dapat diterima," kata juru bicara Pentagon Sean Parnell dalam pernyataan yang dibagikan kepada AFP, membantah laporan tersebut.

 

Iran Unjuk Kendali atas Selat Hormuz

Iran pada Kamis menunjukkan penguatan kendalinya atas Selat Hormuz melalui video pasukan komando yang menyerbu kapal kargo besar, setelah gagalnya pembicaraan damai yang diharapkan AS dapat membuka kembali jalur pelayaran terpenting di dunia itu.

Televisi negara menayangkan rekaman pasukan bertopeng yang mendekati kapal MSC Francesca dengan perahu cepat abu-abu, memanjat tangga tali ke pintu lambung, dan masuk sambil mengacungkan senapan.

Rekaman, yang disajikan dengan musik bergaya film aksi tanpa narasi, turut menampilkan kapal lain, Epaminondas. Iran menyatakan telah menangkap keduanya pada Rabu (22/4), dengan tuduhan mencoba melintasi selat tanpa izin.

Washington, yang menghadapi kapal-kapal Iran di perairan internasional untuk menegakkan blokadenya sendiri, mengatakan telah menaiki kapal tanker lain, Majestic, di Samudra Hindia pada Kamis. Hal ini diduga merujuk pada supertanker yang juga dikenal sebagai Phoenix, terakhir dilaporkan berada di lepas pantai Sri Lanka dengan muatan 2 juta barel minyak mentah.

Teheran menyatakan tidak akan mempertimbangkan membuka selat tersebut sampai AS mencabut blokade terhadap pelayaran Iran, yang diberlakukan Washington selama gencatan senjata dan dianggap Teheran sebagai pelanggaran terhadap kesepakatan tersebut.

Trump membatalkan ancaman untuk melanjutkan serangan terhadap Iran pada saat-saat terakhir gencatan senjata pada Selasa (21/4), tetapi menolak mencabut blokade. Tidak ada perpanjangan resmi gencatan senjata, dan belum ada rencana pembicaraan lanjutan yang diumumkan.

Kebuntuan antara AS dan Iran secara efektif telah menghentikan hampir seluruh ekspor melalui selat tersebut tanpa tanda-tanda akan segera berakhir.

Di Asia, dampaknya sudah mulai terasa di pasar energi dan arus perdagangan, dengan pemerintah berupaya menilai eksposur mereka dan meredam dampaknya. Ketergantungan besar kawasan tersebut terhadap impor energi membuatnya sangat rentan jika krisis ini berlarut-larut, memicu kekhawatiran tentang tekanan ekonomi jangka pendek dan risiko struktural jangka panjang, menurut para analis.

"Apa yang jelas adalah krisis ini tidak akan berakhir dalam waktu dekat," kata Adam Ward, managing editor di Oxford Analytica, kepada program Asia First CNA. "Jika ini krisis jangka pendek seperti tiga atau empat bulan, dampak ekonominya mungkin terasa tetapi masih dapat diatasi. Jika berlangsung lebih lama dari itu maka kita akan menghadapi situasi yang jauh lebih sulit bagi berbagai negara Asia."

Â