Liputan6.com, Den Haag - Mantan Presiden Filipina Rodrigo Duterte tampil di depan publik untuk pertama kalinya dalam lebih dari setahun pada Rabu (16/9/2026). Ia menghadiri sidang di Mahkamah Pidana Internasional (ICC) di Den Haag, Belanda, terkait dakwaan kejahatan terhadap kemanusiaan yang menjeratnya.
Mengenakan setelan jas hitam dan kemeja putih, Duterte yang berusia 81 tahun terlihat tersenyum dan melambaikan tangan kepada para pendukungnya. Sidang tersebut sebagian besar membahas persiapan menjelang persidangan utama yang dijadwalkan dimulai pada 30 November.
Mengutip Associated Press, Duterte menghadapi dakwaan pembunuhan dan percobaan pembunuhan atas dugaan keterlibatannya dalam puluhan pembunuhan selama kebijakan yang dikenal sebagai perang melawan narkoba. Ia membantah dakwaan tersebut.
Advertisement
Duterte ditangkap di Filipina pada Maret 2025 dan kemudian dibawa ke Den Haag. Ia mengikuti sidang awal melalui sambungan video dari pusat penahanan ICC. Rabu menjadi kali pertama Duterte hadir langsung di ruang sidang ICC sejak penangkapannya.
ICC menangani dugaan pembunuhan dalam operasi pemberantasan narkoba di bawah kepemimpinan Duterte, baik ketika ia menjabat sebagai wali kota Davao di Filipina selatan maupun saat menjadi presiden.
Perkiraan jumlah korban tewas selama Duterte menjabat sebagai presiden berbeda-beda. Kepolisian Filipina mencatat lebih dari 6.000 orang tewas, sementara kelompok-kelompok hak asasi manusia memperkirakan jumlahnya mencapai 30.000 orang.
Menurut jaksa, polisi dan regu pembunuh yang bekerja untuk pemerintah melakukan puluhan pembunuhan atas perintah Duterte. Mereka disebut melakukannya karena dijanjikan imbalan uang atau untuk menghindari kemungkinan menjadi sasaran pembunuhan.
Kelayakan Mental Duterte untuk Diadili Jadi Perdebatan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9350252/original/012020900_1789605570-Untitled.jpg)
Kondisi mental Duterte menjadi salah satu persoalan yang harus diputuskan hakim menjelang dimulainya persidangan utama.
Pada Januari 2026, majelis praperadilan ICC menyatakan Duterte mampu mengikuti proses praperadilan setelah mempertimbangkan hasil pemeriksaan oleh panel tiga ahli medis independen. Namun, keputusan tersebut hanya berlaku untuk tahap praperadilan.
Setelah perkara memasuki tahap persidangan, majelis hakim ICC yang menangani persidangan Duterte pada Juni memerintahkan pemeriksaan medis baru untuk menentukan apakah ia mampu menjalani persidangan utama. Tiga ahli ditunjuk untuk menilai kondisi Duterte serta kemampuannya menggunakan hak-haknya selama proses persidangan.
Panel tersebut telah menyerahkan laporan hasil pemeriksaan. Isi lengkap laporan itu belum dibuka kepada publik. Tim pembela dan jaksa ICC kemudian menyampaikan tanggapan masing-masing terhadap hasil pemeriksaan tersebut dalam dokumen tertanggal 14 September.
Mengutip CNA, jaksa ICC meminta hakim menyatakan Duterte layak menjalani persidangan. Jaksa mengatakan bahwa berdasarkan temuan para ahli yang disebut bulat, Duterte masih mampu menggunakan hak prosedural dan hak atas peradilan yang adil secara bermakna sehingga dinilai layak diadili.
Tim pembela mengambil posisi berbeda. Mereka menyatakan Duterte mengalami gangguan daya ingat yang signifikan sehingga kesulitan menyimpan informasi baru dan mengingat kembali sejumlah hal.
Pengacara utama Duterte, Peter Haynes, mengatakan kondisi tersebut membuat kliennya kesulitan terlibat secara bermakna dalam persiapan perkara dan memberikan arahan kepada tim hukum. Menurut Haynes, Duterte bahkan terkadang tidak mengingat nama pengacara utamanya.
Tim pembela mengutip hasil pemeriksaan yang menurut mereka menunjukkan masalah pada daya ingat dan orientasi Duterte. Ia disebut mengira saat ini masih tahun 2007 atau 2008, menyebut usianya 84 atau 85 tahun, serta tidak dapat mengingat nama presiden Amerika Serikat saat ini.
Menurut Haynes, kondisi tersebut membuat tim hukum kesulitan mempersiapkan pembelaan karena mereka tidak dapat sepenuhnya mengandalkan informasi yang disampaikan Duterte. Gangguan daya ingat itu dinilai dapat memengaruhi kemampuannya memberikan kesaksian untuk membela diri di persidangan.
Tim pembela turut mempersoalkan laporan para ahli dan menyebutnya belum lengkap serta belum memadai. Mereka juga meminta pemeriksaan medis tambahan.
Menurut pengajuan tim pembela, para ahli menyebut Duterte mungkin tidak mengerahkan kemampuannya sepenuhnya saat menjalani tes sehingga hasil pemeriksaan sulit ditafsirkan. Namun, para ahli belum dapat memastikan apakah hasil tersebut berkaitan dengan upaya berpura-pura atau melebih-lebihkan gangguan, kurangnya motivasi, atau ketidakmampuan yang benar-benar disebabkan oleh kondisi neurologis.
Berdasarkan aturan ICC, persidangan tidak dapat dilanjutkan apabila terdakwa tidak mampu memahami dakwaan yang dihadapinya atau tidak dapat berpartisipasi secara bermakna dalam pembelaannya. Majelis hakim yang menangani persidangan Duterte hingga kini belum mengambil keputusan akhir mengenai apakah ia layak diadili.
Persidangan utama dijadwalkan dimulai pada 30 November.
Dalam keputusan yang dirilis seusai sidang pada Rabu, majelis tiga hakim memutuskan pula Duterte tetap ditahan. Hakim menilai terdapat risiko Duterte melarikan diri dan/atau menghambat atau membahayakan proses pengadilan. Majelis menyebut terbukanya identitas para saksi dan isi kesaksian mereka meningkatkan kemampuan Duterte untuk memengaruhi saksi, baik secara langsung maupun melalui keluarga atau pendukungnya di Filipina.
Advertisement
Penarikan Filipina dari ICC Tak Hentikan Kasus Duterte
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3591328/original/002616100_1633303968-1629934206696-duterte-dan-putrinya-sara.jpeg)
Di Manila, keluarga para korban yang tewas dalam operasi antinarkoba berkumpul untuk menyaksikan jalannya sidang. Mereka meneriakkan, "Keadilan bagi semua korban pembunuhan!"
Sejumlah demonstran berkumpul di luar gedung ICC menjelang sidang untuk menyuarakan dukungan terhadap proses hukum tersebut.
Pada Maret 2018, sebulan setelah ICC mengumumkan penyelidikan awal terhadap operasi antinarkoba yang diwarnai kekerasan, Duterte menyatakan Filipina akan keluar dari ICC.
Tahun lalu, hakim menolak permintaan tim hukum Duterte agar perkara tersebut dihentikan dengan alasan Filipina telah menarik diri dari ICC. Hakim menyatakan negara tidak boleh "menyalahgunakan" hak untuk keluar dari Statuta Roma, yang menjadi dasar hukum ICC, "dengan melindungi seseorang dari proses hukum atas dugaan kejahatan yang sudah dalam penanganan."
Pada Mei tahun ini, upaya pihak berwenang menangkap seorang pria lain yang juga dicari ICC terkait pembunuhan dalam perang melawan narkoba berujung pada insiden tembakan di Senat Filipina. Tidak ada korban luka dalam kejadian tersebut.
ICC sebelumnya telah membuka ke publik surat perintah penangkapan terhadap Ronald Marapon dela Rosa, mantan kepala kepolisian nasional di bawah pemerintahan Duterte. Dela Rosa bersembunyi setelah insiden di Senat dan hingga kini masih buron.
Pada Juli, Senat Filipina, yang bertindak sebagai pengadilan dalam proses pemakzulan, mulai menyidangkan putri Duterte, Wakil Presiden Sara Duterte. Jika dinyatakan bersalah atas dakwaan yang dihadapinya, termasuk mengumpulkan kekayaan yang tidak dapat dijelaskan asal-usulnya serta secara terbuka mengancam keluarga Presiden Ferdinand Marcos Jr., ia dapat dilarang secara permanen menduduki jabatan publik. Sara Duterte membantah dakwaan tersebut.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9292785/original/068110200_1783657736-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-07-10T112807.834.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9343958/original/032352600_1788928394-HOAX__14_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9350102/original/012008800_1789559335-Cek_fakta_-_ustaz_Abdul_Somad.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9350031/original/038888200_1789552849-cek_fakta_-_Bank_BRI.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9350249/original/086676900_1789604008-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1411684/original/055157700_1479706948-Filipina.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1409382/original/020249100_1479450469-Rodrigo_Duterte.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3929526/original/096494900_1644470631-jesse-schoff-Ph2KtIqKs7c-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9349154/original/070984700_1789475303-WhatsApp_Image_2026-09-15_at_7.23.17_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5349953/original/059135700_1757945389-Bapenas.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9346936/original/048560000_1789222746-WhatsApp_Image_2026-09-12_at_19.50.01.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5010796/original/017006400_1731931573-20241117_084948.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3518881/original/000279300_1627027346-karbon_un.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9346407/original/065215400_1789134579-WhatsApp_Image_2026-09-11_at_8.17.12_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9343729/original/089297500_1788876170-ChatGPT_Image_8_Sep_2026__20.55.32.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9345099/original/099922200_1789018436-WhatsApp_Image_2026-09-09_at_8.12.08_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9344539/original/028876300_1788949127-WhatsApp_Image_2026-09-09_at_15.29.33.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1527841/original/075874300_1488787214-IMG_1488240797111.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9343987/original/026376000_1788929980-toraja_2.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9344781/original/028667000_1789003453-000_c7ur9vl.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9342682/original/001554200_1788786674-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9341498/original/088279600_1788642548-WhatsApp_Image_2026-09-05_at_13.00.02.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4477896/original/072602400_1687478218-Miliarder_atau_Orang_Terkaya_Dunia.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9338908/original/008723600_1788349459-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5308764/original/060739100_1754554747-pexels-guvo59-30506288.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9325977/original/038491400_1786948053-20260817_132633.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9326445/original/068671500_1787023977-Penembakan_Filipina.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5684915/original/051335000_1778558082-Untitled.jpg)