Sukses

Jangan Simpan Cokelat Batangan di Dalam Kulkas, Ini Alasannya

Liputan6.com, Wellington - Karena mengandung mentega (cocoa butter), cokelat batangan gampang meleleh di suhu panas. Tak heran, banyak penggemar yang menyimpan penganan manis itu di dalam kulkas.

Namun, ternyata lemari pendingin bukanlah tempat yang tepat untuk mengimpan cokelat batangan.

Ahli cokelat, Luke Owen Smith bahkan mengatakan, praktik menyimpan cokelat di dalam kulkas harus segera dihentikan.

Menurut dia, cokelat seharusnya tidak pernah disimpan di lemari es, bahkan saat cuaca hangat sekalipun.

Apa alasannya?

Menurut Luke, pemilik toko online Chocolate Bar, temperatur atau suhu dingin kulkas akan merusak rasanya.

Ia menambahkan, mendinginkan cokelat di dalam kulkas jutru membuat penampilannya kusam. Tak hanya itu rasa dan aromanya pun akan hilang. Yang terasa hanya manisnya saja.

"Suhu yang sangat dingin bisa merusak cokelat, sama halnya dengan yang dilakukan temperatur yang panas," kata dia kepada media Selandia Baru, Stuff, seperti dikutip dari News.com.au, Sabtu (27/1/2018).

Lantas di mana seharusnya menyimpan cokelat? Ia mengatakan, cokelat sebaiknya disimpan di dalam lemari yang sejuk dan gelap, dengan suhu antara 10 dan 20 derajat Celcius.

Luke menyebut, 15 derajat Celcius sebagai suhu yang sempurna.

Meski demikian, ada perkecualian. Pria itu mengatakan, cokelat baru tepat disimpan dalam kulkas jika temperatur di dalam rumah mencapai 28 derajat Celcius.

Namun, karena mentega cokelat menyerap aroma dan rasa, ia menyarankan agar cokelat batangan disimpan dalam wadah kedap udara, sebelum masuk kulkas, agar menjaga rasanya.

Alasan lain untuk tidak menyimpan cokelat di dalam kulkas adalah apa yang dinamakan 'sugar bloom'.

Sugar bloom terjadi saat cokelat yang didinginkan kemudian terpapar udara yang lebih hangat.

Hal itu menyebabkan kondensasi pada permukaan yang melarutkan sejumlah gula.

Kemudian, itu akan mengkristal ulang, meninggalkan lapisan putih dan kasar di permukaan cokelat.

 

1 dari 2 halaman

Kelak Hanya Orang Kaya Makan Cokelat

Cokelat batangan punya sejarah panjang, dari era Revolusi Prancis hingga produksi massalnya yang pertama pada 1866, dengan merek Fry's Chocolate Cream.

Hingga saat ini, ada berbagai macam jenis dan variasi cokelat yang dijual di pasaran.

Produksi massal cokelat maupun penganan yang mengandung kakao memungkinkan tersedianya produk berharga terjangkau di pasaran. Namun, kelak cokelat mungkin hanya bisa dikonsumsi orang berduit.

Bahan baku cokelat terancam langka dan makin mahal di pasaran. Seperti dimuat situs LiveScience, saat orang-orang di dunia mencari kenikmatan dari rasa cokelat lezat, petani-petani justru beralih dari tanaman kakao.

John Mason dari Peneliti Konservasi Alam Ghana, bahkan memperkirakan cokelat senasib dengan kaviar di masa kini. Kelak, hanya orang kaya bisa makan cokelat.

Ini jelas berita buruk bagi para chocoholics atau orang yang mengandalkan cokelat untuk menurunkan tingkat depresi. Atau bagi siapapun yang menyadari betapa berkhasiatnya cokelat.

Cokelat mengandung antioksidan dan flavonoid yang berguna dalam mencegah radikal bebas yang menjadi penyebab kanker. Antioksidan dan flavonoid merupakan bahan penting bagi aspirin dan mencegah penggumpalan darah. Lemak coklat sendiri berfungsi sama seperti minyak zaitun dan mengandung mineral esensial yang baik untuk memperkuat tulang, rambut, kuku dan juga kulit. Hal ini juga berguna untuk mencegah penuaan.

Menurut penelitian dari Universitas California, Sandiego School of Medicine, Beatrice Golomb, cokelat manjur pada orang yang stres -- mulai dari tingkat stres ringan hingga depresi -- mengaku makan cokelat saat suasana hati mereka drop. (ein)

Artikel Selanjutnya
4 Cara Membuat Donat Enak, Empuk, dan Mudah Dibuat Sendiri di Rumah
Artikel Selanjutnya
Cendol Unicorn Segar untuk Berbuka Puasa