Ilmuwan Ciptakan Baterai Kertas yang Bisa Ditelan, Apa Fungsinya?

Baterai kertas bisa menjadi alat baru yang lebih efektif dari baterai konvensional. Apa fungsinya dan seberapa canggih?

Diterbitkan 23 September 2026, 06:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Ilmuwan mengembangkan baterai berbahan kertas yang dapat ditelan untuk mengoperasikan alat kesehatan di dalam tubuh manusia.

Menariknya, baterai ini bisa luruh dan hancur setelah selesai tanpa meninggalkan serpihan berbahaya. Demikian sebagaimana dilaporkan Live Science, Rabu (23/9/2026).

Baterai baru yang diperkenalkan dalam jurnal Nature Chemical Engineering ini berpotensi menggantikan baterai konvensional berukuran besar dan berisiko bocor.

Jika terbukti aman pada manusia, baterai itu nantinya dapat memberi daya pada perangkat di dalam saluran pencernaan, juga bisa menggantikan proses operasi untuk mengeluarkan baterai konvensional dari tubuh.

Cara Kerjanya

Baterai ini dibuat berlapis menggunakan material biodegradable atau mudah terurai. Terdapat tiga komponen baterai sebagai berikut.

  • Anoda (Kutub Negatif): Menggunakan paduan magnesium.
  • Katoda (Kutub Positif): Mengandung molibdenum trioksida dan karbon aktif.
  • Elektrolit (Biodegradable): Menggunakan nanofibril selulosa berbahan kertas yang memungkinkan baterai menghasilkan arus listrik.

Untuk mencegah baterai hancur terlalu cepat akibat asam lambung, peneliti melapisi permukaan baterai menggunakan beeswax serta lilin candelilla pada beberapa versi lainnya.

Lapisan ini menjadi penentu seberapa lama baterai dapat bertahan dan berfungsi di dalam organ pencernaan. Selain itu, peneliti membuat dua ukuran berbeda, yaitu ukuran kecil yang muat di dalam kapsul gelatin standar dan memproduksi 1.77 volt.

Sementara ukuran lebih besar menghasilkan 1,84 volt untuk perangkat yang membutuhkan daya ekstra.

Uji Coba ke dalam Tubuh Hewan

Peneliti meletakkan baterai ke dalam tubuh babi menggunakan endoskop. Hasilnya, baterai mampu bertahan dan memasok listrik secara stabil hingga tiga hari di dalam saluran pencernaan.

Baterai ukuran lebih kecil sukses memberi daya pada tag RFID (radio-frequency identification) nirkabel di kerongkongan untuk mendeteksi kapan pasien menelan obat.

Sementara itu, baterai versi besar berhasil memberi daya pada kapsul pemacu listrik lambung. Stimulasi ini terbukti mampu meningkatkan hormon pemicu rasa lapar (kadar ghrelin) dalam darah tanpa merusak jaringan organ di sekitarnya.

Stimulasi listrik lambung sudah digunakan pada pasien gastroparesis tingkat parah, yaitu suatu kondisi laju pengosongan lambung berjalan dengan lambat.

Para pakar bioelektronik menyambut positif hasil ini. Kemampuan baterai bekerja secara stabil melewati organ pencernaan hewan besar dinilai sebagai pencapaian yang sangat mengesankan.

 

Tantangan dan Rencana di Masa Depan

Meskipun demikian, para ahli mencatat kapasitas daya baterai ini masih terbilang kecil. Para peneliti juga menghadapi masalah seperti mengendalikan masa pakai baterai dan membuat proses penguraiannya agar bisa diprediksi secara presisi.

Saat ini tim sedang berupaya melakukan standarisasi manufaktur dan uji coba jangka panjang. Jika berjalan lancar, uji klinis pertama pada manusia ditargetkan dapat dimulai dalam waktu sekitar dua tahun ke depan.