Bukan Tesla, Mobil Listrik Ini Justru Punya Baterai Paling Awet

Baterai kendaraan listrik modern ternyata mampu mempertahankan kapasitasnya dalam jangka waktu yang cukup panjang.

Diterbitkan 11 September 2026, 12:07 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kekhawatiran baterai mobil listrik cepat "soak" setelah digunakan dalam jarak tempuh yang panjang tampaknya mulai terbantahkan. Data terbaru menunjukkan, baterai kendaraan listrik modern ternyata mampu mempertahankan kapasitasnya dalam jangka waktu yang cukup panjang.

Menariknya, sebuah sedan mewah asal Jerman justru menjadi model dengan daya tahan baterai terbaik setelah menempuh jarak hingga 150.000 kilometer (km), sekaligus mengungguli sejumlah model Tesla.

Temuan tersebut berasal dari lembaga penguji independen Aviloo. Berdasarkan informasi yang dikutip dari Carscoops, Jumat (11/9/2026), Aviloo mempublikasikan studi berskala besar yang melibatkan lebih dari 500.000 pengujian baterai terhadap 20 mobil listrik terpopuler di dunia.

Hasil studi tersebut memberikan gambaran bahwa degradasi baterai mobil listrik tidak secepat yang selama ini dikhawatirkan konsumen.

Pada tahap awal pengujian dengan jarak tempuh 50.000 km, Hyundai Ioniq 5 menjadi mobil listrik dengan performa baterai terbaik.

Model tersebut mampu mempertahankan 97,1 persen kapasitas baterai bersihnya. Posisi kedua ditempati Mercedes-Benz CLA dengan 96,6 persen, sementara Hyundai Kona EV berada di urutan berikutnya dengan 96,3 persen.

Namun, posisi teratas berubah ketika jarak pemakaian diperpanjang hingga 150.000 km atau sekitar 93.205 mil.

Mercedes-Benz CLA kemudian mengambil alih posisi puncak dengan mencatatkan state of health (SoH) baterai sebesar 94 persen.

Artinya, setelah digunakan menempuh jarak 150.000 km, kapasitas baterai CLA secara rata-rata masih berada di angka 94 persen dibandingkan kondisi awalnya.

Performa Mercedes-Benz CLA tersebut cukup menarik jika dibandingkan dengan sejumlah model mobil listrik populer lainnya.

Setelah menempuh 150.000 km, Hyundai Ioniq 5 berada di posisi kedua dengan SoH baterai 93,6 persen. Berikutnya ada Hyundai Kona EV dengan 93 persen, Volvo XC40 Recharge sebesar 92,8 persen, dan Ford Mustang Mach-E dengan 92,5 persen.

Sementara itu, dua model Tesla justru berada cukup jauh di bawah jajaran teratas.

Tesla Model Y tercatat mampu mempertahankan 90,3 persen kapasitas baterainya setelah menempuh 150.000 km. Sedangkan Tesla Model 3 berada di angka 88,9 persen.

Dengan demikian, berdasarkan data tersebut, Mercedes-Benz CLA mencatatkan tingkat kesehatan baterai yang lebih tinggi dibandingkan Tesla Model Y maupun Model 3 pada jarak tempuh yang sama.

Degradasi baterai yang lebih besar juga terlihat pada sejumlah mobil listrik berukuran kompak.

Renault Zoe tercatat memiliki SoH baterai sebesar 87,3 persen setelah 150.000 km. Sementara Mini Cooper SE berada di angka 87,1 persen dan Nissan Leaf mencapai 86,7 persen.

Salah satu faktor yang perlu diperhatikan adalah kapasitas baterai. Mobil listrik berukuran kecil umumnya menggunakan paket baterai dengan kapasitas relatif lebih ringkas.

Meski demikian, angka tersebut tetap menunjukkan bahwa sebagian besar kendaraan listrik yang diuji masih mempertahankan sebagian besar kapasitas baterainya setelah digunakan dalam jarak yang sangat panjang.

 

Gaya Berkendara dan Pengisian Daya Berpengaruh

Aviloo menegaskan bahwa angka yang ditampilkan dalam studi merupakan nilai rata-rata atau median. Karena itu, kondisi baterai setiap kendaraan tidak selalu akan sama.

Gaya berkendara, kondisi penggunaan kendaraan, hingga pola pengisian daya dapat memengaruhi tingkat degradasi baterai.

Bahkan, variasi berdasarkan kebiasaan penggunaan pemilik kendaraan disebut dapat mencapai 13,5 persen.

Hal tersebut menjadi pengingat bahwa usia baterai mobil listrik tidak hanya ditentukan oleh jarak tempuh.

Cara kendaraan digunakan dan dirawat juga memiliki peran penting terhadap kondisi baterai dalam jangka panjang.

Studi dengan jumlah pengujian yang sangat besar tersebut menjadi kabar positif bagi perkembangan kendaraan listrik.

Kekhawatiran bahwa baterai mobil listrik akan cepat kehilangan kapasitas setelah digunakan puluhan hingga ratusan ribu kilometer tidak sepenuhnya terbukti.

Mercedes-Benz CLA bahkan mampu mempertahankan 94 persen kesehatan baterai setelah menempuh 150.000 km.

Angka tersebut menunjukkan bahwa teknologi baterai mobil listrik modern telah berkembang cukup jauh.

Bagi calon konsumen, kondisi tersebut dapat menjadi pertimbangan tambahan sebelum beralih ke kendaraan listrik.

Selain menawarkan efisiensi dan emisi operasional yang lebih rendah, daya tahan baterai kini juga semakin mampu menjawab kekhawatiran mengenai biaya dan umur pakai kendaraan listrik.

Dengan perkembangan teknologi yang terus berlangsung, baterai EV berpotensi memiliki usia pakai yang semakin panjang dan dapat menjadi salah satu komponen utama yang mendukung adopsi kendaraan listrik secara lebih luas.