Aturan Impor EV Berubah, BYD Siapkan Strategi Baru di Malaysia

Perakitan lokal dengan metode Completely Knocked-Down (CKD) menjadi opsi penting untuk menjaga harga kendaraan listrik BYD tetap kompetitif

Diterbitkan 08 September 2026, 12:08 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - BYD bersiap mengumumkan strategi manufaktur kendaraan listrik untuk pasar Malaysia dalam waktu dekat. Produsen otomotif asal China tersebut harus bergerak cepat setelah pemerintah Malaysia memperketat regulasi impor kendaraan listrik Completely Built-Up (CBU).

Kebijakan baru itu berpotensi menghambat penjualan sejumlah model BYD yang selama ini mengandalkan skema impor utuh.

Karena itu, perakitan lokal dengan metode Completely Knocked-Down (CKD) menjadi opsi penting untuk menjaga harga kendaraan listrik BYD tetap kompetitif di pasar Malaysia.

Wakil Presiden sekaligus Manajer Umum Divisi Penjualan Otomotif Asia Pasifik BYD, Liu Xueliang, mengonfirmasi rencana pengumuman strategi tersebut saat ditemui media di Shenzhen.

Dilansir dari Paultan.org, Selasa (8/9/2026), Liu menyebut BYD akan segera mengungkap arah pengembangan bisnis kendaraan listriknya untuk pasar Malaysia. Pengumuman ini sekaligus menjadi jawaban atas spekulasi mengenai rencana investasi BYD di Negeri Jiran.

Langkah BYD tidak terlepas dari perubahan regulasi pemerintah Malaysia terkait impor mobil listrik CBU.

Setelah masa pembebasan pajak berakhir, kendaraan listrik impor harus memenuhi ketentuan baru agar tetap mendapatkan akses ke pasar. Salah satu persyaratannya adalah nilai declared Cost, Insurance and Freight (CIF) minimal RM200.000 atau sekitar Rp710 juta.

Selain batas nilai tersebut, kendaraan listrik CBU juga diwajibkan memiliki output daya sekurang-kurangnya 180 kW.

Aturan ini membuat sejumlah model BYD yang berada di segmen harga lebih terjangkau berpotensi terdampak. Dua di antaranya adalah BYD Atto 3 dan Seal 6 yang selama ini menyasar konsumen kelas menengah.

Dengan kondisi tersebut, produksi lokal menjadi salah satu solusi paling realistis bagi BYD untuk mempertahankan daya saing produknya.

BYD saat ini disebut memiliki dua opsi utama untuk menjalankan strategi lokalisasi produksi di Malaysia.

Opsi pertama adalah membangun fasilitas produksi sendiri di Tanjong Malim, Perak. Rencana tersebut sebelumnya sempat mencuat dan menjadi perhatian industri otomotif Malaysia.

Namun, perkembangan proyek pabrik mandiri BYD tersebut dinilai masih berjalan lambat. Hingga kini, belum ada keputusan resmi dari Kementerian Pelaburan, Perdagangan dan Industri (MITI) Malaysia terkait rencana tersebut.

Sementara itu, opsi kedua berupa contract assembly di fasilitas Inokom milik Sime Motors di Kulim, Kedah, justru semakin menguat.

Indikasinya terlihat dari adanya kunjungan kerja dan komunikasi antara jajaran eksekutif BYD dan Sime Motors. Skema ini memungkinkan BYD memanfaatkan fasilitas manufaktur yang sudah tersedia tanpa harus langsung membangun pabrik baru dari awal.

 

BYD Shark Berpeluang Dirakit Lokal

Lokalisasi produksi juga membuka peluang bagi BYD untuk memperluas penetrasi pasar ke Malaysia Timur, khususnya wilayah Borneo.

Karakter geografis dan kebutuhan konsumen di kawasan tersebut berbeda dengan Semenanjung Malaysia. Kendaraan dengan kemampuan melibas berbagai kondisi medan dinilai memiliki peluang lebih besar.

Kondisi ini kemudian memunculkan spekulasi bahwa BYD Shark, kendaraan pikap bermesin ganda milik BYD, berpotensi masuk dalam daftar model yang akan dirakit secara lokal.

Jika terealisasi, produksi lokal tidak hanya membantu BYD menghadapi regulasi impor, tetapi juga dapat menjadi pijakan untuk memperluas portofolio kendaraan listrik di Malaysia.

Keputusan BYD mengenai fasilitas manufaktur di Malaysia memiliki arti lebih besar daripada sekadar memangkas biaya produksi.

Langkah tersebut menunjukkan bagaimana produsen kendaraan asal China beradaptasi dengan perubahan regulasi dan kebijakan industri otomotif di Asia Tenggara.

Apakah BYD akan membangun pabrik sendiri di Tanjong Malim atau memilih menggandeng Sime Motors melalui skema contract assembly, keputusan tersebut akan menjadi indikator penting mengenai arah investasi BYD di Malaysia.

Dengan adanya perakitan lokal, BYD juga memiliki peluang lebih besar untuk menjaga ketersediaan kendaraan listrik sekaligus mempertahankan harga yang kompetitif bagi konsumen.

Strategi tersebut pada akhirnya dapat memperkuat posisi BYD di pasar kendaraan listrik Malaysia sekaligus menjadi bagian dari ekspansi jangka panjang perusahaan di kawasan Asia Tenggara.