Transformasi TOBA Berbuah Manis, Arus Kas Berbalik

Komitmen PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) meninggalkan batu bara kian nyata. Dominasi sektor pengelolaan limbah dan kendaraan listrik melipatgandakan laba kotor.

Diterbitkan 07 September 2026, 20:10 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) mencatat perubahan tajam dalam bauran bisnisnya pada semester I 2026. Bisnis infrastruktur berkelanjutan non-batu bara kini menyumbang 66,5% dari total pendapatan konsolidasi. Porsi tersebut lebih dari dua kali lipat kontribusi bisnis batu bara yang hanya mencapai 31,4% pada periode yang sama.

Perubahan ini menunjukkan percepatan transformasi TOBA dari perusahaan yang semula mengandalkan batu bara menuju ekosistem bisnis berkelanjutan. Pada tahun fiskal 2025 (FY2025), bisnis infrastruktur berkelanjutan baru menyumbang 47% pendapatan konsolidasi, sehingga kontribusinya melesat 19,5 poin persentase dalam setahun.

Sektor pengelolaan limbah menjadi penopang utama bisnis non-batu bara TOBA dengan kontribusi 61,2% terhadap pendapatan dan 92% terhadap EBITDA konsolidasi pada semester I 2026. Di sisi lain, pendapatan dari ekosistem kendaraan listrik (electric vehicle/EV) juga melonjak hampir tiga kali lipat secara tahunan (year-on-year).

Transformasi bisnis ini turut memperbaiki kinerja keuangan perseroan. Pada semester I 2026, TOBA mencetak kenaikan laba kotor konsolidasi lebih dari dua kali lipat menjadi US$ 28,2 juta. Sementara itu, arus kas operasinya berbalik positif menjadi US$ 14,6 juta dari sebelumnya negatif US$ 31,6 juta.

 

Bebas Alokasi Capex Batu Bara

TOBA juga kian memperkuat pergeseran modal menuju bisnis hijau. Lembaga pemeringkat S&P Global Ratings mencatat bahwa 92% komitmen belanja modal (capital expenditure) TOBA untuk periode 2025–2030 dialokasikan penuh untuk kegiatan hijau, tanpa ada alokasi belanja modal sama sekali untuk sektor batu bara.

Direktur Utama dan CEO TOBA, Dicky Yordan, menegaskan bahwa perusahaan terus berkomitmen menjalankan proses transformasi menuju bisnis rendah karbon.

"Bagi kami, penetapan ini bukanlah garis akhir, melainkan satu tonggak lagi dalam transformasi yang masih kami jalani," ujar Dicky, Senin (7/9/2026).

 

Pelopor IDX Green Equity Transition di BEI

Atas keberhasilan transformasi tersebut, Bursa Efek Indonesia (BEI) menetapkan TOBA ke dalam kategori IDX Green Equity Transition pada 28 Agustus 2026. Penetapan ini menjadikan TOBA sebagai perusahaan tercatat pertama di Indonesia yang secara resmi masuk dalam kategori saham hijau transisi.

Direktur Pengembangan Usaha BEI, Iding Pardi, menyampaikan bahwa penetapan ini bertujuan untuk memperkuat transparansi keberlanjutan perusahaan tercatat di bursa.

"Kami berharap penetapan ini mendorong semakin banyak perusahaan tercatat untuk memperkuat praktik keberlanjutannya dan memberikan informasi yang lebih kredibel bagi investor," kata Iding.

BEI menggunakan laporan keuangan FY2025 sebagai acuan dasar penetapan, saat bisnis infrastruktur berkelanjutan TOBA menyumbang 47% pendapatan konsolidasi. S&P Global Ratings turut melakukan reviu independen terhadap komitmen transisi perseroan dalam proses penetapan tersebut.

Meski demikian, BEI menegaskan bahwa label IDX Green Equity Designation bukanlah bentuk pemeringkatan maupun rekomendasi investasi, serta tidak menjamin kinerja keuangan, tingkat pengembalian, ataupun risiko investasi saham di masa depan.