Trump Tolak Proposal Iran untuk Buka Kembali Selat Hormuz

Trump menyatakan bahwa proposal Iran tidak dapat diterima.

Diterbitkan 27 September 2026, 08:35 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Washington, DC - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada Sabtu (26/9/2026) menolak proposal Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz.

"Saya juga suka membuat kesepakatan," kata Trump kepada wartawan saat hendak meninggalkan Gedung Putih seperti dilaporkan NPR. "Namun, kesepakatan itu tidak dapat diterima."

"Mereka ingin membuat kesepakatan agar selat segera dibuka karena mereka sedang kalah telak."

Iran mengajukan proposal tersebut dalam rangkaian pertemuan sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York. Selain membuka kembali Selat Hormuz, proposal itu mencakup dimulainya kembali perundingan antara AS dan Iran.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi pada Jumat (25/9) mengatakan negaranya telah menyampaikan kepada AS melalui Qatar sebuah "rencana konkret tujuh hari" untuk membuka kembali selat tersebut.

Iran menutup Selat Hormuz setelah AS dan Israel menyerang negara itu pada 28 Februari. Penutupan yang terjadi berulang kali sejak saat itu telah mengganggu pasokan minyak dunia secara signifikan.

"Jika syarat-syarat yang diperlukan terpenuhi, selat tersebut dapat dibuka kembali dan jalur pelayaran kembali normal dalam waktu tujuh hari," tutur Araghchi pada Jumat. "Sekarang, keputusan berada di tangan AS."

Proposal Iran serupa dengan nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) yang disepakati AS dan Iran pada Juni. Kesepakatan itu dimaksudkan untuk menghentikan sementara pertempuran dan membuka kembali perundingan gencatan senjata.

Melalui MoU itu, Iran mendapat kelonggaran dari blokade laut AS dan AS juga melonggarkan sanksi dan membuka akses terhadap aset Iran yang sebelumnya dibekukan. Sebagai imbalannya, Iran berjanji tidak akan mengembangkan senjata nuklir serta akan membuka kembali Selat Hormuz.

Namun, kesepakatan tersebut tidak bertahan lama. Kedua pihak kemudian berselisih mengenai sejumlah rumusan dalam MoU yang dinilai tidak jelas, termasuk soal siapa yang akan mengendalikan Selat Hormuz. Tidak lama setelah itu, AS dan Iran kembali saling melancarkan serangan.

"Langkah-langkah yang harus dilakukan AS bukan hal baru," ungkap Araghchi. "Semuanya sudah tercantum dalam MoU. Semuanya juga sudah menjadi bagian dari komitmen AS. Jadi, kami tidak melihat ada kesulitan untuk melaksanakannya."

Dalam wawancara dengan CBS yang dijadwalkan tayang pada Minggu (27/9), Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan Iran akan memenuhi komitmennya. Namun, menurut dia, AS juga harus menunjukkan bahwa "mereka tidak berniat menggulingkan pemerintah atau pemerintahan kami".

"Jika AS setuju untuk mengambil langkah seperti itu, semuanya akan kembali seperti sebelumnya," kata Pezeshkian kepada CBS.

"Saat ini, AS yang menghalangi jalan kami dan tentu saja Iran juga melakukan hal yang sama dari pihaknya. Hambatan-hambatan ini harus dibuka lebih dahulu oleh kedua pihak. Setelah itu, kami bisa duduk di meja perundingan dan membahas persoalan-persoalan lainnya."

Pezeshkian mengatakan, jika AS menerima proposal Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz dan melanjutkan perundingan nuklir, Iran akan mengizinkan inspektur nuklir PBB masuk ke negaranya.